"Semua laki-laki sama" itulah yang kamu yakini selama ini. Enggak heran, kamu tidak pernah pernah percaya dengan cinta dan kesetiaan. Dalam pandanganmu, wanita selalu menjadi korban sedangkan laki-laki adalah "pemangsa". Keyakinan itu membuat hidupmu dipenuhi paradoks. Kamu ramah dan hangat, tapi dingin. Kamu mudah akrab, tapi sulit percaya. Kamu pemberani, tapi takut terluka. Kamu seolah tak terjamah, padahal sangat mudah tersentuh dengan hal-hal sederhana.

Pernahkah kadang kamu mencoba berpikir bahwa keyakinanmu itu salah?

1. Kamu lahir tidak langsung membenci salah satu gender, tidak mungkin. Semua manusia terlahir suci, bersih, tanpa prasangka macam-macam. Kejadian demi kejadian yang kemudian membuat dia berkesimpulan dunia ternyata seperti ini, dunia ternyata seperti itu. Coba ingat, peristiwa apa yang membuatmu memiliki kesimpulan seperti itu? Pasti ada.

2. Laki-laki dan wanita sama saja, sama-sama bisa menyakiti dan tersakiti. Yang kamu fokuskan selama ini mungkin hanya tentang berapa banyak ayah yang meninggalkan anaknya demi kepuasaannya sendiri. Mungkin kamu lupa tidak menghitung berapa banyak ibu yang tidak memedulikan buah hatinya demi laki-laki lain? Dan, kamu mungkin akan tercengang karena jumlahnya tidak jauh berbeda bahkan mungkin lebih banyak.

3. Kamu berada di lingkungan dimana wanita dianggap warga kelas dua dan tidak ada harganya? Tinggalkan selagi bisa. Carilah lingkungan yang memiliki pandangan wanita adalah sosok yang harus dihormati dan dihargai. Kamu pernah dengar istilah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, kan.

4. Jika pintu hatimu sudah terbuka dan kelak menjadi orang tua, berjanjilah untuk menjadi orang tua yang hangat yang tidak akan membuat anakmu trauma. Kamu tahu kan, keluarga adalah tempat pertama seorang anak belajar kehidupan. Jika kelak, kamu diamanahi anak laki-laki, berjanjilah untuk mendidiknya menjadi laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.

5. Kamu kadang berpikir menjadi laki-laki lebih mudah padahal sama aja. Masing-masing memiliki tantangannya. Hanya saja, wanita lebih mudah mengekspresikan perasaannya. Marah bilang marah. Takut bilang takut. Sedih bilang sedih. Tidak demikian dengan laki-laki. Bersyukurlah, setidaknya kamu bisa bebas mengekspresikan diri, tidak perlu susah-susah menahan perasaan.

Percaya 100 persen memang sebuah kebodohan, tapi tidak percaya sama sekali juga bentuk kesombongan sekaligus ketakutan. Sewajarnya saja. Laki-laki dan wanita memang diciptakan Sang Pencipta untuk saling bekerja sama, bukan sebaliknya.