Sumber gambar : Canva
Pukul 16.00, di sebuah kedai kopi saya duduk sendiri. Menanti kedatangan Vina dan Mbak Wuri. Ya, akhirnya kami sepakat dan membuat janji untuk bertemu di sini, di sebuah kedai kopi yang letaknya mudah dicari. Hidangannyapun bervariasi. Cocok untuk tempat ngobrol dan diskusi. 

Tidak berapa lama, "Assalamu`alaikum," suara yang sudah sangat akrab di telinga saya menyapa. Dialah Vina, baru pulang dari kantor sepertinya. Masih dengan tas kantor yang selalu dijinjingnya. Penampilan khas wanita bekerja, rapi dan wangi. "Wa`alaikum salam", jawab saya. Kami saling melempar senyum dan berjabat tangan, sembari cipika dan cipiki. Vina mengambil tempat duduk tepat di depan saya. Seakan siap membombardir saya dengan banyak pertanyaan. Dia memang penasaran sekali dengan sosok Mbak Wuri, meskipun saya sudah memberikan gambaran siapa dan bagaimana Mbak Wuri tapi dia masih saja belum puas. Belum sempat dia melontarkan pertanyaan, dari arah pintu depan kedai kopi saya melihat penampakan Mbak Wuri. Langsung saya memberikan kode dengan melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Rupanya Mbak Wuri melihat kami. Senyumnya pun mengembang, bergegas dia menghampiri meja kami dan duduk di sebelah Vina, sambil mengulurkan tangannya, "Wuri" katanya ke arah Vina. Vina pun membalas dengan menyebutkan nama.

Akhirnya obrolan mengalir apa adanya. Dari hal-hal yang sederhana, sampai kemudian ke pembicaraan yang lebih serius. Mereka saling bercerita tentang masalah yang mereka hadapi. Mbak Wuri bercerita bagaimana prosesnya sehingga dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Menanamkan ke dalam dirinya kalau dia sangat berharga dan pantas bahagia.

Sumber gambar : canva
Vina pun seperti tersadar banyak hal dalam dirinya yang harus disyukuri. Sebagai perempuan dan istri secara materi dia tidak tergantung pada suami. Mungkin masalah komunikasi yang perlu diperbaiki. Baik Vina maupun Mbak Wuri saling mengambil manfaat dari pertemuan itu dan saling menguatkan satu sama lain. Bahwa sesungguhnya mereka tidak sendiri. Banyak di luar sana wanita yang memiliki masalah yang sama. Dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki masalah yang sama, bermanfaat bagi penguatan jiwa.

Bagi saya pribadi, mendengar kisah mereka menjadi pelajaran tersendiri juga. Bahwa sesungguhnya berbagai masalah yang diberikan  Allah kepada kita pasti ada ujungnya. Tergantung kita sabar tidak menjalani prosesnya. Tidak terasa hampir 3 jam kami ngobrol bersama. Sampai kemudian telpon genggam saya berbunyi, suami menelpon dan mengabari bapak mertua dan keluarga datang ke rumah kami. Sehingga kamipun mengakhiri bincang-bincang ini. Dan berjanji kapan-kapan bersilaturahmi lagi. Sebelum berpamitan, Vina dan Mbak Wuri pun saling bertukar nomor HP. 

***
Waktu berlalu, sudah hampir 3 bulan setelah pertemuan saya dengan mereka di kedai kopi itu. Saya tidak mendapat kabar apapun dari Vina maupun Mbak Wuri. Padahal biasanya setiap minggu pasti mereka menghubungi untuk sekedar say hai atau curhat. 

Apalagi Vina, minimal seminggu sekali pasti telpon atau WA, bercerita panjang lebar tentang masalahnya. Sedikit heran tapi saya tahan...pikir saya mungkin mereka sibuk jadi belum sempat cerita-cerita. 

Tiba-tiba "ting tong" bel rumah berbunyi. Segera saya menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Dan betapa kagetnya saya, tampak Mbak Wuri dan Vina berdiri di depan pintu. Senyum mengembang dari keduanya. " Hai Wik",  sapa mereka hampir berbarengan. " Wah, kalian.." sahut saya tanpa bisa menyembunyikan rasa kaget dan gembira. Takjub saja, belum lama kenal tapi mereka kelihatan saling akrab dan dekat. Ada beberapa perubahan yang jelas terlihat. Vina kelihatan lebih lepas, dan Mbak Wuri tampak lebih modis, rapi, dan percaya diri. Tampaknya mereka berdua saling mempengaruhi, tentu saja di hal-hal yang positif. Keduanya kemudian saya ajak masuk ke rumah. 

Baru saja duduk, Mbak Wuri sudah mulai bercerita. Intinya merasa bersyukur dikenalkan dengan Vina. Dari Vina Mbak Wuri banyak belajar tentang pencatatan keuangan usaha, memadupadankan baju dan belajar berdandan, terutama bila mau bepergian. Vina juga sering memesan snack atau nasi box untuk kegiatan kantornya. Dan merekomendasikannya kepada relasi-relasinya. Sehingga usaha Mbak Wuri menjadi semakin berkembang dan tertata. Tampak sekali binar bahagia di mata Mbak Wuri. 

Vina pun tidak kalah hebohnya. Dia bercerita, dari Mbak Wuri dia belajar tentang bagaimana mengelola stress, dan menyalurkannya ke hal-hal yang positif. Sehingga Vina bisa lebih bisa terbuka untuk mencurahkan isi hatinya. Vinapun sekarang juga ikut kelas yoga dan punya coach pribadi juga. 

Melihat perubahan positif dari keduanya saya merasa bahagia. Ternyata mereka bisa saling menguatkan satu sama lain. Benar juga ternyata, kalau berkoloni itu membuat kita kuat dan masalah tidak ada yg berat. Kita memang tidak pernah bisa mengetahui bagaimana masa depan kita nanti. 

Yang bisa kita lakukan adalah mengupayakan agar semua berjalan sesuai yang kita rencana. Pun kalau akhirnya harus berbelok-belok, bukan berarti akhir dari segalanya. Justru itu memberi peluang kepada kita untuk belajar dan memahami banyak hal. Allah tidak pernah salah dalam membuat jalan cerita, hanya kita saja yang sering tergesa menyimpulkannya. Karena Allah tidak pernah memberi cobaan di luar batas kemampuan kita. Dan manusia kuat yang dipilih itu adalah kita..

Kembali ke masalah Vina dan Mbak Wuri, sampai kisah ini saya tulis Vina belum bercerai dengan suaminya. Dan Mbak Wuri pun masih sendiri. Tapi paling tidak perubahan signifikan sudah kelihatan. Vina tidak lagi terlihat murung dan uring-uringan. Tidak lagi ada kekhawatiran yang membayangi wajahnya. Kekhawatiran tentang status dan masa depannya. Dia terlihat lebih enjoy dan menikmati hari-harinya. Bahkan terakhir saya dengar dia mau menggunakan jasa konsultan pernikahan untuk menyelesaikan masalah antara dia dan suaminya. Sesuatu yang selama ini tidak mau dia gunakan. Malu katanya..

Mbak Wuri juga banyak perubahannya. Penampilan lebih rapi dan profesional. Bahkan mbak Wuri dan Vina sepakat berkolaborasi membentuk semacam lembaga yang memberi ketrampilan khusus untuk para perempuan (terutama single mother) dengan biaya yang relatif terjangkau agar mereka bisa punya kemampuan untuk membuka usaha sendiri.  Keterampilan yang ditawarkan beragam, mulai dari tata boga, tata busana, dan tata rias juga ada. Di setiap bulannya lembaga tersebut mengadakan sharing session untuk para pesertanya. Masalah apapun boleh disharekan. Bisa masalah bisnis atau pribadi. Semua berusaha dicarikan solusi. Kadang mereka mengadakan gathering dan senam bersama juga.

Vina dan Mbak Wuri sengaja ke rumah untuk mengabari sekaligus mengajak saya untuk turut membantu di lembaga yang mereka dirikan. Dibidang yang tidak jauh-jauh dari saya tentunya, tulis-menulis. Terharu dan senang saya mendengarnya. 

Vina dan mbak Wuri Alhamdulillah sudah menemukan jalannya dan siap menjalani prosesnya. Sementara saya masih di sini bersama komputer yang senantiasa membersamai. Terus berlatih mengasah kemampuan diri, untuk bisa menulis sesuatu yang bisa menginspirasi, syukur-syukur bisa turut memberi solusi. Dan entah kapan nanti saya bermimpi akan ada sebuah buku dengan nama saya tertulis di situ sebagai pengarangnya, ikut berjajar rapi di toko-toko buku terkenal seantero negeri,  aamiin..

Ya, karena semua berawal dari mimpi.. Seperti bunyi syair lagu soundtrack film Laskar Pelangi yang dinyanyikan oleh Nidji, bahwa "mimpi adalah kunci bagi kita untuk menaklukkan dunia.." yang tengah diputar di mp3 milik anak saya yang saat itu sedang bersantai di ruang tengah.

Yogyakarta,  Februari 2019

Baca : Manusia Kuat itu Kita 1