"Kamu jangan makan kangkung, nanti bolong!"

"Jangan makan ikan nanti jahitannya bernyenyeh!"

Kata-kata itu pasti sudah tidak asing lagi di telinga para ibu setelah melahirkan dan tinggal di keluarga yang masih memegang tradisi mantang makanan. Alasan demi kesehatan si ibu dan bayi serta untuk mempercepat kesembuhan adalah faktor utamanya.

Hey, kebayang gak sih kalau kami (para) ibu sangat berjuang ketika melahirkan. Namanya pejuang, setelah berperang dan menanah pastinya ingin bersenang-senang untuk merayakannya, bukan malah di siksa dengan tradisi pantang makan ini atau makan itu.

Saya pernah mengalami hal tersebut ketika anak pertama lahir. Saat itu kebetulan lahir cesar. Baru berada di rumah empat hari setelah tiga hari di rawat di Rumah Sakit harus kembali ke bidan untuk memeriksakan kondisi kesehatan yang kala itu mengalami sakit kepala hebat disertai pandangan gelap. 

Setelah di periksa, bidan memarahi orang yang mengantarkan saya kala itu. Darah setelah di tensi hanya tujuh puluh, padahal sebelum melahirkan tidak ada keluhan tentang hal tersebut. Wajar bisa turun sedrastis itu, karena lahir cesar mengeluarkan banyak darah.

Selama di Rumah Sakit, kondisi baik-baik saja karena bantuan infus serta makanan yang di berikan bergizi. Ketika sampai di rumah, hanya diberi makanan sayuran yang di rebus atau di kukus. Itu pun tidak semua diberikan, karena ada beberapa sayuran yang katanya begini atau begitu jika dimakan orang yang baru saja melahirkan. 

Setelah itu, saya pun terbebas dari pantangan makan ini dan itu. Rasanya menyenangkan sekali bisa makan seperti orang normal lainnya. Kondisi tubuh setelah itu pun kembali seperti sedia kala dan yang saya rasakan adalah jahitan justru malah cepat kering. Saya tidak perlu memakai obat china yang dikabarkan bisa mempercepat penyembuhan, cukup obat yang diberi dokter dan pola makan dengan mengkonsumsi banyak makanan mengandung protein.

Hingga sekarang, saya memakai prinsip untuk tidak mengikuti tradisi hanya makan sayur yang direbus atau dikukus selama empat puluh hari setelah melahirkan. Pada kelahiran anak kedua pun saya melanggar tradisi tersebut dan hasilnya saya lebih bahagia pasca melahirkan. 

Mengapa saya berani mengatakan bahagia? Karena seringkali saya mendengar curahan hati teman yang masih tidak berani melanggar pantangan tersebut. Bayangkn saja selama empat puluh hari bahkan ada yang lebih harus mengkonsumsi sayuran saja.

Jangankan untuk makanan, tidur siang pun sampai dilarang dengan alasan darah putih akan naik ke kepala dan bisa mengakibatkan gila. Bayangkan saja, bagaimana rasanya punya bayi yang rewel di malam hari dan membuat kita tidak bisa tidur nyenyak dan ketika siang hari kita dilarang tidur pula. OMG. 

Jadi, rasa takut itu boleh dan bahkan harus ada supaya kita tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi, ada baiknya rasa takut itupun di lawan dengan keberanian mencari tahu kebenarannya. Kita tidak inginkan menjadi penyumbang ibu yang meninggal setelah melahirkan. Semua perempuan pasti ingin mempunyai kenangan setelah melahirkan dan pastinya adalah kenangan yang membahagiakan.

Oke para ibu, stop ya menyiksa diri sendiri atau menyiksa oranglain yang baru saja melahirkan dengan mitos pantang ini pantang itu. Dunia kedokteran sudah maju dengan berbagai obat yang diciptakan. 

 Oh ya, jahitan pasca cesar anak pertama dulu pun hingga saat ini tidak mengalami masalah. Ada sih teman yang mengatakan kalau dia masih merasa gatal atau sakit hingga anaknya berusia enam tahun saat ini. Jadi, permasalahannya adalah karena dulu dia menggunakan obat diluar yang diberi dokter berupa obat yang katanya bisa cepat menyembuhkan jahitan tersebut. Saya pun sempat ditawari, tetapi lebih memilih cara alami dengan mengkonsumsi banyak makanan yang mengandung protein. 

Itu saja ya para ibu untuk pengalaman saya kali ini. Semoga para ibu yang siap berjuang melahirkan putra-putri mereka diberi kelancaran. Jangan lupa bahagia ya para calon ibu dan juga yang sudah menjadi ibu. Untuk yang belum jadi ibu, hayuuu semangat menjadi ibu.

Selalu semangat, positif thinking dan jangan lupa bahagia.