Hai sobat muslimah semuaaa, kali ini bakal ada sebuah sharing dari aku yang sudah lama aku pendam lalu akhirnya saat ini bisa tertuliskan semua. Maafkan tidak ada dokumentasi secara langsung karena waktu porses bedah mulut ini sudah terlewat 2 tahun dari hari ini.
Jadi kesakitan gusi di bagian paling belakang, tepatnya di gigi geraham lajur kiri udah semenjak masuk kerja di tahun ke-2. Hanya saja rasa sakitnya selalu aku abaikan, mungkin waktu itu pertumbuhannya masih berupa akar dan tepatnya di tahun ke 4 aku bekerja (kurang lebih di tahun 2017) aku merasakan sakit yang intensitasnya lebih sering.

(source: pexels.com)


Rasa sakitnya berbarengan dengan proses pembengkakan gusi dan secara berangsur saat menguap, membuka mulut untuk makan rasanya sulit karena harus menahan rasa sakit. Akhirnya aku mulai mengeluh (hampir setiap hari) ke mamah. Lalu mamah pun memberi masukan gimana kalo itu sebenernya gigi geraham yang paling belakang mulai tumbuh atau bisa jadi pertumbuhannya sudah sempurna. Aku sedikit belum concern ke arah sana dan lebih tepatnya sedikit membiarkan rasa sakit itu bersarang, hingga aku mulai mengeluh sakit kepala.

Mulailah hari demi hari aku berangkat kerja dan merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan gusi yang kian membengkak dan rasa nya nyut-nyut an gitu. Dengan rasanya udah ga kuat, aku mulai ke klinik perusahaan dan diberikan obat pereda nyeri dan mengempiskan rasa bengkak. Dan aku dirujuk untuk melakukan foto rontgen gigi aku yang masih dalam issue akan di bedah ini. Setelah dari klinik, aku masih tidak pergi ke dokter rujukan untuk proses rontgen. Dan menyambung dengan obat-obat pereda nyeri hingga suatu ketika aku merasa sangat tidak kuat dengan kondisi gusi dan tumbuhnya gigi bungsu ini (wisdom teeth) dan aku pergi ke dokter untuk membereskan drama ini. 

Saat aku kebetulan dapat perputaran shift siang, pagi harinya aku mengantri di sebuah klinik di Padasuka dan waktu itu kartu BPJS aku belum aktif karena masih tertunda proses di pembuatan e-KTP mutasi dari Nganjuk menuju Karawang. Akhirnya ya mau gamau rangkaian ini full dengan pembayaran pribadi. Saat sudah proses periksa dan aku diberikan obat pereda dan penghilang bengkak serta nyeri ini lalu bisa dilakukan rontgen. Selang sehari setelah berobat, aku mengalami rasa demam yang tidak turun-turun dari pagi hingga sekitar jam 11 siang lalu mulai timbul bintik merah juga perlahan wajahku sedikit membengkak. Rasa panas dan nyeri nya badan ini udah ga bisa dibendung lagi, dan dengan sisa-sisa kekuatan aku pun naik motor dan pergi ke klinik sendiri untuk berobat.

Aku berobat ke dokter umum, dan setelah di proses aku ditanya habis berobat atau mengkonsumsi obat apa, karena sedari awal dokter menganalisa apakah aku salah kosmetik. Alhasil aku dapat kesimpulan, aku alergi terhadap diclofenax dan tidak diperbolehkan untuk mengkonsumsi itu lagi. Sampai-sampai aku diminta untuk menulis kertas kecil lalu disimpan di dalam dompet untuk sebuah kondisi emergency nanti, tidak akan salah memberikan obat yang aku sangat alergi terhadap itu. Setelah drama alergi diclofenax selesai, aku pun pergi ke sebuah laboratorium terdekat juga di Cimahi aku pun mulai mengikuti prosedurnya hanya untuk foto rontgen panoramic dan satu gigi saja.

Jujur aja nih ya, pengalaman rontgen ini bikin gengges! Petugasnya gabisa kalem banget, seriusan. Itu naroh semacam lempengan yang jadi penyangga saat take foto ga ada pelan-pelannya. Please ini gusi coy, akhirnya ya gusi gw sedikit cedera dan perih. Setelah selesai aku langsung buru-buru pulang aja dan ingin segera membedah gigi geraham bungsu ini yang semakin merongrong rasa sakitnya.

Akhirnya setelah mamah nemenin selama proses pemulihan dari alergi obat kemarin, aku langsung membuat jadwal janji dengan dokter yang ini juga awalnya drama banget. Udah janji di sebuah klinik dan pas dateng dokternya ga dateng, dan mamah aku yang bergerak tanya dimana RS yang bagus dan deket buat bedah mulut?

Akhirnya di kasih tau di RSGM Unjani yang letaknya di Pasar Atas Cimahi dan dekat sama Shifu Ramen, niatnya pulang dari control mau makan ramen hehe. Setelah datang kesana dan jadwal dokternya kita belum tau baru minggu depannya aku bisa tindakan (ini sekalian nyiapin mental juga guys). Saat esoknya aku langsung melakukan tindakan walaupun rasanya deg-deg an ya, tapi aku udah pasrah aja dan yakin ini masalah harus segera beres. Ketika masuk ke ruang dr. Flo, aku udah nyaman sama dokternya dan sedikit ngobrol-ngobrol dulu baru bisa tindakan.

Saat tindakan dan menunjukkan hasil foto rontgen, dokter Flo sempat bergumam bahwa posisi gigi geraham aku ini sudah impaksi tapi masih normal dan memang harus dicabut. Impaksi ini membuat kemiringan dan pertumbuhannya yang menabrak gusi, sehingga rasa sakitnya tidak bisa dihindari. Proses bedah mulut ini tidak memakan banyak waktu, kalo ga salah hanya 30-45 menit dan dimulai dari gusi diberikan anastesi dan rasanya memang mati rasa. Lalu mulai deh itu gusi aku seberti dibedah dan cukup sulit untuk mencungkil gigi geraham yang ternyata sudah tumbuh secara sempurna. Cukup excited juga saat gigi geraham aku berhasil dikeluarkan dan rasa baal ini akan hilang setelah 4 jam dari waktu operasi.

Untuk harga, waktu itu total dengan obatnya dan kebetulan obatnya bagus banget guys yaitu 2 juta-an dan ga sampai seminggu aku udah bisa makan seperti biasa. Dan paling payah emang di hari 1-2, buat makan gaenak banget dan masih ngeri pasca operasi harus rajin kumur di bagian gigi geraham yang sudah dicabut (karena jadi bolong gitu).

Demikian pengalaman bedah mulut dari aku ya sobat muslimah semua, jadi ga perlu untuk over thinking yang gimana-gimana ya terkait bedah mulut ini. Karena nahan rasa sakit nya saat gusi membengkak karena impaksi gabalance dengan  rasa sakit pasca operasi bedah mulut. Percaya deh, kalo dokter nya kompeten, hanya 3-4 hari keadaan gusi kita sudah membaik dan tidak ada infeksi. Adakah yang punya pengalaman yang sama soal bedah mulut wisdom teeth ini? Share di kolom komentar yuk! 'Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community #Day8.