(source: pexels.com)

Nah tiba saatnya aku pada akhirnya becerita sedikit saja tentang pengalaman memilih untuk ber-long distance marriage (LDM) dengan suami, jarak Bandung Tangerang ternyata tidak mudah lho guys. Perencanaan menikah bukan sekedar terpikirkan dalam satu malam, lalu besonya iya menyetujui. Mungkin sebagian kisah dari orang ada ya yang seperti itu, bagiku tidak semudah itu esmeralda.

Perjalanan bertemunya jodoh untuk kehidupan aku di tahun 2018 bisa dibilang ga pernah kepikiran. Tapi saat jatuh bangunnya kegagalan soal jodoh, disanalah aku perlahan membangun dan belajar beberapa kurikulum yang berguna untuk kehidupan pernikahanku. Jadi kalo ada yang bilang ketika kegagalan itu adalah hal yang sia-sia, tidaklah benar karena tidak ada hal yang sia-sia di muka bumi ini.

Nah sama halnya soal keadaan aku waktu itu masih bekerja. Sudah kita bicarakan dengan penuh kematangan dan kewarasan yang cukup. Aku tuh sempat ngegampangin hal ini dan ketika tiba saatnya, baru aja 2 mingguan udah ga kuat aja, seriusan. Dan rasanya pas lagi LDM itu ada aja bawaannya buat cekcok adu mulut dari hal remeh temeh sampai yang cukup kompleks.

Jadi kenapa LDM aku putuskan cuma 3 bulan aja, karena aku merasakan hal-hal berikut:

1. Tidak Sabaran
Awalnya keyakinan kita berdua, terutama aku yang ngotot banget buat ber-LDM adalah semua all to well. Ternyata sodara-sodaraaa, hal itu tidak semudah dibayangan dan diucapkan lho! Aku bapernya lumayan ngeselin kayaknya, soalnya aku sendiri merasa gemas dan waktu tuh pengen cepet-cepet weekend aja terus.

(source: pexels.com)



2. Rekening Bocor
Ini nih yang ternyata bikin tekaget-kaget. Walaupun secara logika aku di Bandung dan suami di Tangerang sama-sama bekerja, tapi dengan adanya LDM ini karaos (read: kerasa) pisan sob. Jujur aja selama 3 bulan itu susah banget buat memisahkan ke tabungan. Hal yang bikin ga enak adalah pengeluaran membengkak saat kita ga bisa satu rumah. Karena kenyataannya, proses pulang dan pergi Tangerang Bandung tidak memungkiri untuk banyak uang yang dikeluarkan.

(source: pexels.com)


3. Fisik Membutuhkan Istirahat
Aku beneran ga bisa ngerasain apa yang ada di tubuh suami aku ketika dalam 5 hari kerja udah di sibukkan dengan pekerjaan dan sepulang kerja harus bermacet-macet ria menembus batas cakrawala Jakarta-Bandung dan tak sering pula balik di hari senin dini hari dilanjut harus menghadapi "monday".

(source: pexels.com)


4. Perbedaan Jam Kerja
Akhirnya setelah berdiskusi panjang kali lebar dan aku mengungkapkan kemelut apa yang aku rasakan selama bekerja dan proper memilih menjadi penulis di rumah saja, suami 100% mendukung dan yaaa I love you so much suamik. Karena salah satunya adalah perbedaan ritme dan jam kerja yang bikin aku seringkali mood swing ga jelas. Apalagi ditambah hari sabtu aku meninggalkan ia di kosan sendirian sedangkan aku harus ke kantor. Alhamdulillah kamu sabar banget ya sayang.

(source: pexels.com)


5. Pertimbangan Keuangan Setelah Resign
Ini cukup menjadi big deal, di kala kemelut semakin mencapai klimaks, aku ga hanya berdiam diri lalu menunggu hingga Desember sesuai janji untuk kita tidak LDM selamanya. Saat awal September aku mulai kena serangan gejala tipus, sepertinya aku tidak cukup strong mengikuti ritme LDM seperti ini. Akhirnya aku meminta banyak sekali pendapat kepada orang-orang yang memang berkapasitas untuk aku mintai keputusan ini. Kurang lebih banyak banget yang mendukung aku hingga pada tanggal 30 Oktober 2018 aku benar-benar resign. Ketika keuangan menjadi issue, aku sudah menguatkan hati untuk terus menulis.

(source: pexels.com)


Mengapa aku yakin menulis dapat menjadi pintu rezeki aku yang lain? Karena aku percaya bahwa berkarya dan bekerja adalah dua hal yang berbeda. Perbedaan yang menautkan sebuah rasa, dan rasa itu hanya akan terlontarkan oleh hati. Aku dan menulis adalah dua hal yang sulit untuk dipisahkan, karena sebagaimana pun aku menjauh dari aktivitas menulis, ada sebuah pergerakan yang membawaku kembali menulis.

So, untuk teman-teman yang sedang berjuang LDM dengan pasangan, bismillah ya lakukan perjuangan ini hingga titik dimana kalian memang sudah menemukan sebuah solusi. Insya Allah ada banyak hikmah yang kita peroleh saat berproses di awal-awal rumah tangga. Semangat ya. Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community #Day7