Mengapa dalam Islam derajat kaum lelaki lebih tinggi dibandingkan kaum perempuan?
Saya mengambil jawaban yang sangat bijaksana dari narasumber Prof. Dr. Dhalah Shawi. Dia menjawab:
Mungkin yang dimaksud dengan pertanyaan ini adalah derajat kepemimpinan yang dinyatakan dalam surat Al-Baqarah ayat 228 dan surat An-Nisa' ayat 34.
Allah Berfirman:
"Para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya...." (Al-Baqarah: 228).
"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka -Laki-laki- atas sebagian yang lain
-Wanita-, dan karena mereka (Laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...." (An-Nisa': 34).
Itu adalah kepemimpinan yang terorganisasi yang tanpanya kemaslahatan hidup tidak akan berjalan dengan baik. Sudah merupakan fitrah bahwa suatu perkumpulan, keluarga juga termasuk di dalamnya, harus memiliki pemimpin yang akan mengatur semua urusannya. Jika tidak, kehidupan manusia akan kacau. Jika kita menganalogikan rumah sebagai lembaga keuangan atau lembaga pendidikan maka ia harus memiliki pemimpin yang akan mengatur segalanya.
Dalam hal ini, ada beberapa alternatif pilihan:
1-Suami dan istri sama-sama menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Hal ini akan menimbulkan kerusakan karena akan terjadi benturan.
2- Kepemimpinan tidak dipegang oleh suami maupun istri. Dengan begitu tentu saja urusan rumah tangga akan kacau.
3- Kepemimpinan dipegang oleh perempuan. Alternatif ini tidak dapat diterima oleh fitrah dan logika, bahkan si perempuan sendiri tidak menerimanya.
4-Laki-laki pemimpin dalam rumah tangga. Inilah alternatif yang paling baik karena ia lebih tahu hakikat suatu maslahat dan lebih mampu menjalankannya dengan kekuatan dan hartanya. Adalah tugas pria untuk melindungi dan menafkahi wanita.
Inilah yang ditegaskan oleh Allah dalam dua ayat di atas.
Kaum perempuan bisa menerima seorang pimpinan dalam dunia kerja, tetapi mengapa ia tidak menerima hal itu di rumah, bahkan menganggap itu merendahkan harga diri wanita? bahtera kehidupan harus memiliki pemandu, jika tidak, ia akan tersesat.
Ungkapan yang disampaikan Al-Qur'an di sini sangat dalam. Ia tidak mengatakan, "Kaum laki-laki adalah sadah (Pemimpin) bagi kaum perempuan. "Namun, Allah berfirman: "qawwamuna (Para pemimpin) bagi kaum perempuan". Kepemimpinan di sini mencakup pengayoman, penjagaan, pemeliharaan, serta mengerahkan usaha untuk melindungi dan mengayomi.
Sebenarnya kekhawatiran yang muncul bukan pada prinsip kepemimpinan ini, tetapi yang tidak dapat diterima adalah kezaliman, kekerasan, dan pergaulan buruk. Ini merupakan kemungkaran yang tidak ada hubungannya dengan masalah kepemimpinan itu sendiri. Kezaliman akan mengantarkan pelakunya ke neraka dan berlaku kasar kepada pasangan adalah perbuatan yang hina. Manusia terbaik adalah orang orang yang paling baik interaksinya dengan pasangan hidupnya dan Allah tidak menyukai setiap perilaku kasar. Nabi Muhammad Saw diutus ke bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak. terpuji bisa membuat derajat seseorang menyamai orang yang senantiasa berpuasa dan qiyamullai.
Manusia dapat menerima kepemimpinan ulil amri (Pemerintah), tetapi mereka tidak menerima tindakan zalim dan penindasan dari ulil amri tersebut. Mereka berhak mengingkari, menentang, serta melawan kekejaman pemerintah ketika itu diperlukan. Tidak ada orang yang mengajukan agar prinsip pemerintahan dihapuskan hanya karena penyimpangan penguasa karena ini tidak diperbolehkan oleh agama dan sudut rasional.
pda hakikatnya tetaplah laki-laki lebih tinggi derajatnya di bandingkan perempuan maka dari itu anda sebagai seorang 'anthaa sudah seharusnya wajib patuh pada laki-laki atau suami anda 
se sukses apapun 'anthaa tetap ia makmun di rumah tangganya
se kaya apapun 'anthaa tetap harus patuh pada suami
sekuat apapun 'anthaa tetap harus turuti suami karna suami anda pemimpin imam keluarga yang harus anda patuhi taati dan tempat anda berbakti
(tentunya dalam hal baik ya 'anthaa)
yang di ridhai Allah swt