Yasinyasintha.comSejak terselamatkan untuk bisa tetap melanjutkan sekolah dengan beasiswa full dari Pak Habibie ketika SMA, batin saya kala remaja ikut meyakinkan bahwa menulis akan menjadi sepatu dan kendaraan saya. Mungkin ini adalah satu-satunya cita-cita yang mungkin saya rengkuh.

Tapi bukan hidup namanya kalau yang kita mau tercapai begitu saja. 

Bagai benang kusut

Buku tulis merk Mirage ( merk buku tulis murah saat itu ) jadi saksi betapa semangat menulis saya tak pernah hilang. Saya harus mengubur dalam cita-cita jadi sarjana walau beasiswa sudah di tangan. Bukan, saya bukan menyerah! Lebih kepada mengalah pada mata Mamah dan Bapak yang menahan sedih setiap kali saya meminta kuliah, sembari menguatkan diri saya berbisik pada diri sendiri : ” Tenang Tha, cita-cita untuk bisa menulis masih bisa tercapai “. Yaah, setidaknya menulis untuk diri sendiri sebagai pengingat bagi diri saya sendiri di kemudian hari.

Mimpi itu tetap ada karena saya pelihara, lewat buku-buku yang saya tulis lalu saya simpan. Beberapa saya bakar dan buang karena terlalu geli isinya, atau mungkin terlalu menggugah air mata karena berisi kejadian yang saya tak ingin ingat lagi. Saya yang belia bertahan bekerja di Jakarta, lambat laun mimpi saya terasa redup. Di balik seragam SPG dan sepatu hak tinggi, seperti sengaja mimpi itu menjauh pergi.

Tapi bukan Tuhan namanya jika tak memberi keajaiban.

blogger bandung, blogger photography Ternyata bukan cuma benang kusut. Bahkan benang yang terlihat kusut pun mampu menjadi indah

Pulang ke Bandung, 2011 saya memiliki blog, dengan nama alay dan isi suka – suka. Sekedar menyapa lagi dengan mimpi yang sudah menahun alpa, jangan tanya bahasa, ejaan dan titik koma karena kalian akan sakit mata. Tapi begitu saja saya sudah senang, untuk pertama kalinya saya merasa ahh akhirnya bisa menulis lagi. Hari-hari setelahnya, saya sering pulang larut ke kamar kostan demi bisa ke warnet dan menulis. Suka – suka, tak terarah tapi ada rasa bahagia di sana.

Langkah demi langkah yang saya tapaki menuntun saya bertemu kembali dengan mimpi, 2012 saya bisa menulis lagi dengan ilmu lebih banyak dan wawasan lebih luas. Kala itu, saya membangun untuk sebuah usaha foto pernikahan bersama papi yang rencananya akan dipasarkan secara online. Untuk pertama kalinya mata saya terbuka bahwa google itu segitu canggihnya, ahh kemana saja saya. Tertampar kanan dan kiri setiap mempelajari teknologi, SEO saat itu menjadi kemudi, sulit bagi saya pegang kendali, berkutat demi mengejar ratusan keyword tertempel di tembok, tapi demi si mimpi pada akhirnya saya nikmati proses ini.

Singkatnya, saya menjadi seorang narablog situs wedding. Mata saya terbuka, bahwa dengan cerita ternyata saya mampu bertemu dan merasa dekat dengan orang yang baru saja saya temui. Bisa bertemu dengan klien dari berbagai daerah, mulai dari pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, NTT hingga Papua. Mungkin di kampung tempat saya tinggal, hanya saya lah yang memiliki sepatu dan kendaraan yang mampu menuntun saya sejauh ini. Sejenak saya merasa, bahwa mimpi saat remaja itu bisa saya rengkuh sekarang, ternyata tidak. Ternyata belum.

Jalan Memutar Menjadi Diri Sendiri

blogger bandung
2012, Asisten Fotografer

 

Mengadon adonan clay hingga jari keriting saya pernah, melukis gambar di sepatu demi bayar kostan saya pernah, menenteng kamera ke sana kemari saya pernah, menenteng kotak makeup di dini hari saya pernah, begadang hingga muntah-muntah saya pernah.

Dan itu berlangsung bertahun-tahun, sekitar 4 tahun. Namun kali ini, saya tak biarkan si mimpi pergi, tak saya izinkan terangnya meredup kali ini. Tahun 2013 saya memiliki blog, bangga rasanya memiliki halaman blog dengan nama sendiri.

Karena ternyata kerap kali kita harus menempuh jalan memutar untuk menjadi diri sendiri. Jika saya ceritakan semua, tentu 1500 kata dalam maksimal kriteria tulisan ini akan gugur begitu saja kan, hehe.

2016 adalah titik balik saya bertemu dengan mimpi. Blog dan mimpi yang biasanya saya jaga, saya kembali sering merawat dan berbincang di dalamnya. Saya mulai tahu bahwa di luar sana, ada komunitas – komunitas yang saling mendukung satu sama lain dalam menjalani passion menulis. Seperti mendapat angin segar, saya bangkit dan semangat. Walau sudah beranak satu saat itu, tapi untuk pertama kalinya saya merasa mimpi saya kian dekat.

Tapi bukan hidup namanya jika tak dipandang sebelah mata.

Diremehkan sering, dibuat jatuh apalagi. Saya kuat, setelah bertahun – tahun patah, dan dipaksa kalah dengan mimpi, untuk kali pertama saya berani memperjuangkannya. Saya didukung papi, saya menemukan teman-teman yang meyakinkan bahwa mimpi itu bukan hanya mimpi kalau setiap hari kita bangun dan berusaha semakin dekat dengannya. Untuk kali pertama, saya menjadi keras kepala untuk menjadi seorang narablog di rumah maya saya sendiri.

Di tahun yang sama saya berhasil membungkam mereka yang tadinya meremehkan dan mengucilkan. Allah berikan saya kesempatan untuk memenangi beberapa lomba blog dan giveaway. Saya dan papi mengerjakan foto untuk puluhan hotel Traveloka, membuat saya menyadari bahwa mimpi saya mendukung apa yang sudah saya jalani selama ini.

Tahun-tahun berikutnya sudah pasti lebih banyak kisah manis terjadi, menjadi awal mula kebangkitan si mimpi yang kini sudah mulai berjalan bergandengan dengan saya. Tak hanya materi, lebih dari itu saya memiliki teman yang sudah seperti keluarga, saya dikelilingi oleh orang-orang yang energinya bisa saya resapi setiap harinya, lewat dinding – dinding digital ini saya merasa semakin kuat. Dan bangga menyebut diri seorang blogger, pada akhirnya.

Bangga Menjadi Blogger

Tidak hanya uang dan barang, mendapati email betapa seseorang jauh di sana terbantu dengan tulisan saya adalah perasaan senang yang sulit dijabarkan. Bahagia, bangga dan merasa berarti, curhatan saya tak lagi di buku tulis putih bergaris untuk diri saya sendiri. Cerita saya kini telah berubah menjadi sebuah cerita yang saya harap dapat memberikan insight kepada pembacanya.

Lucky me. Menang lomba foto Instagram di acara launching Printer Inkjet Brother
mom blogger bandung
Bangga jadi ibu anak dua ( dengan el no. 2 yang sering menjadi inspirasi berbagi cerita
Bangga punya el no. 1 yang selalu nemenin proses kreatif maminya

Menjadi blogger membuat saya bangga menjadi diri sendiri, membuat saya bangga menjadi seorang ibu rumah tangga dengan 2 anak yang mengisi hari-hari saya, membuat saya merasa masih boleh memiliki mimpi lain yang ingin diwujudkan, membuat saya ingin berbagi cerita dengan cara saya, bangga karena banyak yang simpati dan dihargai serta merasa berarti.

Tapi bukan blogging namanya kalau gitu-gitu saja.

2019, sebutlah ini resolusi walaupun sudah di akhir Januari. Saya mau menulis lebih banyak, tak hanya di rumah maya saya tapi juga di tempat lain juga jika diberi kesempatan, saya ingin lebih sering berbagi tulisan tentang fotografi lagi, tentang makeup, tentang craft, tentang editing dan hal lain yang dulu pernah saya jalani di jalan memutar demi sampai ke sini.

Saya bahkan berencana untuk meluangkan waktu dan tenaga membuat video untuk channel Youtube saya sendiri. 

Karena era digital sudah sepesat ini kemajuannya, konten digital semakin beragam akan lebih baik jika memperkaya diri dengan skill dan pengetahuan baru jadi saya pun menuliskan goals untuk  belajar sesuatu yang baru untuk improve diri.

Dunia ini sejatinya adalah sesuatu yang dinamis bergerak terus menerus, suka atau tidak suka kita harus mengikuti arusnya. 

blogger bandung, blogger jakarta

Blogging adalah pencapaian pribadi besar bagi saya. Bukti bahwa sabar itu perlu, sabar yang baik adalah dengan tetap berjuang. Bukti bahwa jika kamu meyakini mimpimu maka jangan menyerah, persis seperti kata Pak Habibie di ruangan Kepala Sekolah saat saya SMA dulu : Jangan pernah berhenti mengejar yang kamu impikan meski apa yang didamba belum ada di depan mata. Siapa tau kamu tengah menempuh jalan memutar.

Saya Yasinta, saya bangga jadi blogger di era digital.