“Buibu, yang punya anak kecil atau anaknya udah gede-gede, ananda mulai dikenalin gadget usia berapa? Cerita-cerita dong.”

Demikian tulis Mbak Fajriatun Nur (penulis buku anak) di beranda FB-nya. Dari situ saya juga membaca komen-komen dari mamah-mamah yang ternyata memiliki beda-beda pengalaman dalam mengenalkan gadget atau gawai pada putra-putrinya. Ada yang start 7 tahun, 2 tahun, kelas 4 SD, ada yang lulus smp baru boleh punya HP, dan banyak lagi jawaban lainnya. Saya sendiri juga andil komen di sana. Kebetulan banget punya anak yang sudah kenal gawai sejak usia dini. Sekitar usia 1,5 tahun si sulung sudah kenal gawai. Bahkan saat itu sama ayahnya dibelikan sebuah tab.

Awalnya, sih, tidak ada maksud mengenalkan gawai ke anak, tapi, anak memang sehari-hari lihat ortu yang mahaasyik ini pegang-pegang gawai. Normalnya anak-anak seusia itu rasa penasarannya tinggi. Lihat apa saja pasti direbut. Kalau nggak puas ngerusuh, doi pasti nangis. Dan kebetulan sekali sulung saya itu kalau sudah nangis emang paling juara banternya. Bisa radius se-erwe bakal dengar tangisannya. Horor, kan? Selain pekiwuh sama tetangga karena berisiknya, saya takut didatangi pak erwe dan ditanya macam-macam kenapa anak saya jejeritan—khawatir mereka mengira saya sedang menyiksa atau berlaku KDRT. Jadilah sulung dibelikan tab sama ayahnya.

Jangan berpikir saya ini ibu macam apa, gitu, ya? Sebetulnya saya nggak setuju sama-sekali. Malah saya sempat kesal waktu ayah sulung pulang kerja membawa tab baru buat anak saya itu. “Ini tab murah, kok. Jangan khawatir, nggak akan mengurangi uang belanja bulanan kita,” begitu kilah ayah sulung. Emosi saya belum turun juga, lalu menimpali, “Bukan masalah murah atau mahal, tapi kok kita malah seolah mengijinkan anak pegang gadget, kalau kecanduan gimana?” Ayah sulung balas, “Cepat atau lambat anak-anak juga bakal kenal HP. Sudah umum. Mending gini, kan, nggak ganggu aktivitas kita masing-masing. Lihat itu, ibunya juga nggak lepas dari laptop. Keganggu juga, kan, kalau dirusuhin?” lalu saya ngelirik laptop. Dengan masih sedikit geram saya mencoba menahan emosi.

Hari-hari berlalu dengan aman. Saya beraktivitas seperti biasa. Sulung makin fasih pegang tab-nya. Doi tahu aplikasi mana yang musti diklik buat nonton video favoritnya, tahu bagaimana menghidupkan, tahu bagaimana mematikan, tahu kapan tab-nya habis baterai, juga tahu gejala-gejala yang terasa ketika ada notifikasi sosmed masuk ke tab (kalau lupa mematikan wifi).

Saat itu doi di-dowload-in serial “Upin-Ipin” dan “Pada Zaman Dahulu” yang bikin makin betah dan nggak rewelan. Kalau mulai bosan mainan larinya ke tab. Kalau mulai ngantuk lihat tab dulu. Bangun tidur juga lihat tab. Saya terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Lama-lama kekhawatiran akan kecanduan sedikit terlupakan walau sebetulnya nggak hilang dari lubuk hati. Tapi lihat ayahnya biasa-biasa saja, saya sebagai makmum, ya, mau-nggak-mau menyesuaikan diri untuk bisa biasa-biasa saja. Malah kami bertiga sering pada posisi seperti ini: saya ngetik di laptop, ayah sulung main game online di HP-nya, dan sulung ngusap-usap tab-nya. Kami hanyut dalam dunia kami masing-masing. Itu sulung masih usia dua tahunan, loh. (Astaghfirulloh, Ibu macam apa aku ini?)

**

Sumber: kinghtmlcode.com

Sudah begitu melekatnya gawai di kehidupan kita. Tua-muda-besar-kecil; semua menggunakannya. Sebagian orang menggunakannya untuk aktivitas produktif seperti bisnis/transaksi jual-beli, membuat karya kreatif (menulis, desain, seni), atau membuat segala sesuatu yang berbasis digital (digital project). Sebagian lagi menggunakannya untuk aktivitas sosial seperti membuat web layanan masyarakat, mengelola komunitas sosial, atau sekedar untuk bersilaturahmi via sosial media media. Tentu kesemuanya membutuhkan gawai sebagai perangkat pendukungnya. Tak jarang, saking melekatnya di kehidupan yang apa-apa serba gawai, gawai dapat terbawa atau mungkin disalahgunakan dalam beberapa kasus kejahatan (cyber crime). Lalu kasus kejahatan itu tersebar luas dengan cepat (viral) dan menimbulkan banyak reaksi/tanggapan masyarakat. Lama-lama mempengaruhi pola pikir masyarakat. Kalau sudah begini, konotasi negatif gawai jadi lebih terdepan dari pada manfaat yang terlihat di mata masyarakat.

Maka status Mbak Fajriatun di atas memang sangat realistis sekali; mungkin bisa dibilang mewakili kaum mamah-mamah. Saya pun dulu termasuk pengin tahu anak-anak lain wajarnya kenal gawai di usia berapa ketika menyadari anak saya telah kenal gawai di usia belia.  Membaca status itu sekali lagi dan meraba arah pertanyaan itu membuat saya bertanya pada diri sendiri, apa mamah-mamah lain juga sebenarnya terbersit rasa khawatir anaknya kecanduan gawai? Berhubung pertanyaan itu masih imajiner maka saya punya jawaban imajiner juga. Ilustrasinya begini:

(+) : Kenapa mamah-mamah pada takut anak-anak kecanduan gadget atau takut tekena efek negatif gadget, misal nggak baik untuk mata atau nggak baik untuk perkembangan metal dan lain-lain yang negatif?

(-): Wajar lah, mamah-mamah yang sayang anak pasti cemas terkena dampak buruk benda asing. Kukatakan benda asing karena dulu di jaman para mamah itu kecil mungkin gadget belum ada. Makanya mereka cemas berlebihan.

(+): Kok bisa sampai cemas begitu, ya?

(-) : Maklum, berita hoax seputar hal-hal negatif banyak beredar berkat gawai. Efeknya gawai sendiri terlihat sebagai biang kemudhorotan. Wajar, kan?

(+): Hmmmm, gitu, ya? Keknya ada di aku juga, ih. Aku sempat takut anakku pegang gadget, loh. Sampai-sampai aku ingin sekali menjauhkan gadget dari anakku. Lalu kupikir ulang: perlukah, efektifkah, berfaedahkah, dan akankah berhasil?                                                              

(-): Nah, itu dia, orang-orang sepertimu hanya bisa melihat hal-hal negatif. Makanya mudah cemas.

(+): Oh? (Jleb)

Hening sejenak.

(+): Lalu solusinya apa?

(-): Ubah cara pandang. Lihat banyak hal positif. Cari cara ramah buat mempercayakan gadget kepada anak. Ajari untuk mengakses hanya yang kamu ijinkan. Berikan tontonan edukatif. Batasi waktu. Dampingi saat menggunakan. Dan banyak cara-cara bijak selain melarang dan menjauhkan anak dari gadget. Gak bakal berhasil menjauhkan anak dari gadget kalau orangnya macam kamu yang kesehariannya juga nggak bisa lepas gadget. Percayalah! Untuk membuat anak enggak terdampak buruk sesuatu atau gadget khususnya, itu tidak harus dengan meniadakan gadget itu sendiri. Ingat, Alloh aja mengharamkan anjing, toh, anjing juga tetap diciptakan. Manusia dan anjing bahkan dibiarkan hidup bersama di bumi. Nyatanya juga yang meyakini anjing haram tidak diperintah untuk memusnahkan anjing dari muka bumi, kan? Cukup dengan bersikap bijak; tidak memakan dan tidak menyentuh bagian najisnya. Sama halnya dengan gadget tadi, kupikir. Tidak harus meniadakan tapi menyikapi dengan bijak.

(+): hmmmm…


Dan, percakapan imajiner antara saya yang nyata dan yang maya itu pun terputus.

Saya flashback ke anak: mula-mula doi kenalan gadget - tebiasa dengan gadget – bosan - meninggalkan gadget - terbiasa tanpa gadget/menggunakan gadget sekedarnya. Itulah yang terjadi dengan anak saya. Di kemudian hari doi tumbuh seperti anak lainnya: memiliki teman, bermain dengan teman, sekolah, dan lain sebagainya sesuai harapan saya dan sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangannya. Kekhawatiran itu sekarang sudah hilang. Bukan karena saya kebal, tapi justru karena yang dikhawatirkan  (khawatir anak kecanduan gadget) itu tidak terjadi. Selain karena kebetulan tab-nya rusak ketika si tab bertahan kurang kurang lebih satu tahun, si sulung saya masukkan ke Kelompok Bemain di usianya yang belum genap 3 tahun. Itu membuatnya menemukan teman. Perhatiannya teralihkan.

Anak saya tergolong anak yang interest banget dengan jaringan pertemanannya, seolah itu menjadi dunia barunya. Maklumlah, sebelumnya dia jarang keluar rumah dan tak punya kawan sebaya. Setelah punya teman, perhatiannya benar-benar teralih secara alamiah dari gadget ke social environment. Saya senang sekali, malah. Tahap perkenalannya dengan gadget membuat dia merasa sudah cukup mewakili rasa penasarannya akan gadget.   

Sekarang saya bersyukur, alih-alih menertawakan diri yang waktu itu sempat uring-uringan sama ayah sulung karena membelikan tab. Nyatanya anak saya sekarang nggak terlalu lekat dengan gawai atau nggak ‘gumunan’ kalau ada temannya pegang HP dan sejenisnya. Kalau lihat temannya pegang HP paling hanya bilang, “Aku pernah punya kayak gitu, tapi sekarang sudah rusak,” tanpa kepengin meminjam atau merebut milik temannya. Padahal rata-rata anak seusianya kalau ada temannya yang pegang hp, mereka berupaya untuk meminjam atau merajuk minta dipinjami dengan berbagai dalih. Lucu sih, itu mungkin karena di rumah tidak punya gadget atau dilarang bemain gadget.

Betewe tulisan ini hanya cara pandang yang berbeda saya aja mungkin, ya? Merasa perlu aja, sih, untuk berpikir out of the box. Daripada hanya menyimpan kecemasan, mending mengelola kecemasan itu sekalian dengan bijak, kan? Lalu, mamah-mamah yang baca ini masih boleh, kok, punya pikiran bahwa gadget tetep berdampak buruk bagi anak dan wajib dihindari. Itu pilihan. Hehe…

Tapi plis, ijinkan saya menarik kesimpulan dari tulisan ini, bahwa: tidak semua anak akan kecanduan gawai meski telah mengenalnya sejak kecil. 

Terima kasih telah membaca.