Lama nggak ngeblog, rasanya kaku banget mau nulis. Hampir lupa punya blog yang Cuma sekali posting ini lalu dibiarkan merana dan kering tanpa sentuhan. Blog-blog lainnya juga sepertinya bernasib sama. Hampir setiap kali bikin blog posting beberapa, lalu ditinggal begitu saja. Dan parahnya sering lupa password hingga mau nulis lagi di sana udah nggak bisa masuk. Owalah…. Tapi akhirnya tadi bisa ingat password untuk blog ini, blog yang sudah lama menjadi batu. Kalau dia bisa ngomong mungkin akan teriak, “Ealah, juragan datang kalau butuh doang. Kalau nggak, ya, entah ke mana batang tengkoraknya,” eh. Hehehe….

Baiklah, sebagai pemanasan mau posting cernak yang tayang di koran akhir tahun lalu dulu. Itung-itung buat mengarsipkan tulisan aja. Sebenarnya sudah bisa dibaca di portal suara merdeka sih, di sini. Tapi, tak apa, kan, di-repost di blog ini. File-nya dicopy dari portal suara merdeka juga, biar sama kayak di korannya. Sebab, kadang redaksi sudah mengedit beberapa kata atau ejaan yang dianggap salah.

Oke pembaca yang terkasih, selamat membaca cernak sederhana ini:

BERMAIN FUTSAL
Oleh: Arrum Lestari
Terbit di Suara Merdeka, 16 Desember 2018

Adi, Tanto, Rudi, dan Bowo berkumpul di depan rumah Roy. Mereka menunggu tuan rumah hendak berangkat futsal. Mumpung libur sekolah, mereka akan bertanding dengan anak-anak dari kompleks sebelah.
”Hei, sepertinya kita hanya berempat. Roy tidak bisa ikut bertanding karena harus ke gereja dengan keluarganya,” kata Tanto. ”Tapi kita sudah janjian sejak kemarin, kan?” sahut Rudi.
”Iya, maaf. Aku lupa kalau hari ini hari Minggu, saatnya Roy berdoa,” kata Tanto. ”Lalu siapa penggantinya? Waktu sudah mepet,” tanya Bowo. Roy pun muncul dari dalam rumah. ”Nah, itu dia orangnya. Baru dibicarakan malah muncul,” kata Adi. Roy tampak begitu rapi dari biasanya. Terlihat jelas ia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah dan bau shampoo.
Bajunya terlihat licin habis disetrika. Dan yang pasti ia begitu wangi. ”Hai temanteman,” sapa Roy. ”Kalian akan berangkat futsal?” ”Benar, Roy. Tapi kami jadi kekurangan satu personel,” keluh Rudi. ”Maaf, aku harus ke gereja. Lain kali saja aku akan ikut. Sekarang kalian bisa cari penggantiku, walau sebenarnya aku ingin sekali ikut futsal sama kalian,” kata Roy.
Sumber Gambar: suaramerdeka.com

”Tenang saja Roy, kamu tak usah khawatir, kami akan tetap mengajakmu lain waktu. Sekarang kamu ke gereja saja. Beribadahlah dengan tenang. Sementara kami akan mengajak Eko, penggantimu,” sahut Tanto. ”Baiklah,” kata Roy. ”Tunggu, aku punya ide. Bagaimana kalau kita ganti waktunya saja. Ganti nanti sore agar tidak mengganggu jam ibadah Roy.
Dengan begitu Roy tetap bisa bermain futsal. Bisa kan?” jelas Adi. ”Bagaimana caranya?” tanya Roy ragu. ”Aku akan hubungi Kaka, kapten tim futsal kompleks sebelah. Kita tunda sampai nanti sore. Siapa tahu bisa,” kata Adi. ”Aku setuju, kita coba dulu. Ini, pakai saja HP-ku untuk menghubunginya,” kata Bowo sembari menyerahkan HP-nya.
Adi segera menelepon Kaka. Ia mengutarakan alasan kenapa timnya ingin mengganti jam pertandingan. Tak lain tak bukan karena ingin menghormati anggota timnya yang harus ke gereja mengikuti kebaktian pada hari Minggu. Ia katakan kalau bisa mengganti jam pertandingan, artinya Roy bisa beribadah dan tetap bisa ikut pertandingan futsal.
Tanpa disangka-sangka Kaka pun setuju. Adi lega. Ia segera memberitahukan kepada teman-temannya tentang hasil negosiasinya dengan Kaka, kapten tim futsal lawan. Teman-teman Adi senang, terutama Roy. Roy pun berterima kasih kepada teman-temannya karena telah memberi dua kesempatan sekaligus, beribadah dan main futsal.
Benar, sore itu pun pertandingan futsal antara tim Adi dan tim Kaka berlangsung meriah. Roy begitu bersemangat. Meski ia berbeda agama dengan teman-teman di timnya, ia tak pernah minder. Sebab, ia tahu temantemannya sangat menghormati dirinya dan tidak membedabedakan, juga tidak pernah mengucilkannya. Sayang sekali, meski meriah mereka sedikit kecewa karena pertandingan berakhir seri. (49)