Dari saya kecil saya sudah jatuh cinta dengan kegiatan tulis-menulis. Mulai dari rajin menulis buku harian, bikin puisi dan cerpen, lalu tersenyum bangga ketika tulisan itu terpajang di majalah dinding Sekolah atau koran lokal. Bahkan setiap mengisi kolom biodata, di bagian hobi saya akan menulis “membaca dan menulis.”

Pada tahun 2009 saya mulai mengenal blog, karena mengikuti seminar kepenulisan dari sosok yang sukses membuat buku dari kumpulan tulisannya di blog, yaitu Raditya Dika. Dia bilang, penulis bisa jadi profesi, yang awalnya hanya hobi.

Waktu itu terlintas pikiran saya kelak akan menjadi penulis juga. Mungkin saya akan mengambil kulah jurusan Sastra supaya mimpi itu bisa terwujud.

Lantas jadi apa saya sekarang?

Seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berkerja di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

Punya impian memang indah, tapi apa artinya impian tanpa dukungan? Dua orang yang sangat saya hormati dan sayangi meminta saya ikut seleksi CPNS tahun 2012 lalu. Menolak? Sulit sekali. Mengingat waktu itu saya tidak bisa membuktikan bahwa hal-hal yang saya sukai mampu memberikan penghasilan untuk bertahan hidup.

Tulisan masuk koran lokal? Itu tidak dibayar. Sering jadi pembawa acara pada kegiatan kampus? Itu tidak dibayar. Menulis blog? Waktu itu saya tidak tahu kalau menulis di blog bisa dapat uang. Mau bikin buku? Tidak semudah itu juga, kan?

Belum lagi di lingkungan saya PNS masih dianggap profesi “dewa”. Dalam artian, profesi yang dibanggakan karena eloknya seragam yang dikenakan, serta adanya jaminan gaji bulanan yang dibayarkan sampai yang bersangkutan meninggal dunia.

Orang tua saya tidak setuju dengan keinginan saya menjadi penulis. Mereka tidak mau saya hidup dari hasil menunggu tawaran pekerjaan yang tidak pasti. Apalagi saya seorang perempuan, mereka ingin melihat saya bisa punya penghasilan sendiri tanpa kelak harus tergantung suami.

Saya bisa memaklumi keinginan mereka. Lagipula zaman dulu mana ada akses edukasi pola pengasuhan seperti sekarang. Mereka mendidik anak menggunakan cara turun temurun dari kakek nenek. Pengalaman pahit mereka yang pernah dikucilkan keluarganya sendiri karena tidak punya penghasilan yang cukup, menjadi alasan kuat bahwa anaknya harus menjadi PNS.

Menjalani impian orang tua memang membuat mereka bangga, tapi membuat saya tidak sepenuhnya bahagia. Memang menyenangkan punya penghasilan sendiri, tapi panggilan hati juga tidak bisa dibohongi.

Saya sempat sedih dan stres, bertanya-tanya kepada diri sendiri kenapa dulu tidak berani menolak? Kenapa dulu tidak meminta sedikit waktu untuk membuktikan bahwa saya mampu “hidup” bermodalkan rangkaian kata-kata yang dituliskan?

Namun saya sadar bahwa tidak ada manfaat yang bisa diambil dari sebuah penyesalan. Lebih baik saya memikirkan cara agar panggilan hati ini terpenuhi. Maka kembali menulis blog yang sempat saya abaikan adalah pilihan yang tepat.

Kerja di Lapas bukan sesuatu yang buruk. Bukan pula sesuatu yang menakutkan. Hal itulah yang saya mulai ceritakan di blog ini. Siapa sangka curhatan saya dibaca sampai puluhan ribu orang. Ternyata banyak juga yang ingin tahu seperti apa kehidupan “sipir penjara”.


Disitu semangat saya mulai bangkit, senangnya ketika membaca pesan yang mengucapkan terimakasih bahwa tulisan saya di blog membantu mereka mendapatkan gambaran tentang bagaimana cara kerja di Lapas. Sehingga membuat mereka semakin percaya diri untuk mengikuti seleksi CPNS Kemenkumham dan berhasil lolos. Bahkan, ada portal berita yang menyalin ulang tulisan itu atas seizin saya.




Nggak sampai disitu saya juga menawarkan diri membuat blog untuk lapas tempat saya berkerja. Ternyata disambut dengan baik oleh atasan. Tentu pekerjaan itu nggak membuat gaji saya bertambah, tapi saya senang melakukannya. 

Ternyata pekerjaan yang sempat saya sesali ini ada hikmahnya jika digabungkan dengan hobi menulis saya di blog. Ah, selalu ada pelangi di balik hujan.

***

Semangat saya kembali tumbuh, saya mulai sering menulis tentang apa saja yang saya sukai di blog ini. Bukan hanya tentang pekerjaan saya di Lapas tapi juga tentag komunitas yang saya geluti, tentang kisah pernikahan saya, tentang cerita perjalanan, bahkan sampai sekarang saya sudah menjadi ibu, banyak pengalaman tentang pola pengasuhan yang saya bagikan disini.

Bahagia rasanya sekarang saya bisa menyatukan antara mewujudkan keinginan orang tua dan keinginan diri sendiri. Dulu saya pikir impian saya menjadi penulis sudah mati. Ternyata ia hanya tertidur, dan kini sudah bangun kembali.

menulis itu membahagiakan

Kalau sekarang ditanya orang-orang “Kamu kerjanya apa?” saya menjawab “Pekerjaan saya adalah PNS dan Narablog”.

Kalau ditanya lagi "Hah? Apa tuh narablog?" Dengan senang hati saya akan menjelaskan bahwa narablog atau disebut juga blogger adalah orang yang mempunyai blog dan menuangkan buah pikirnya dalam bentuk tulisan di blog. Dengan nada bangga pula saya bisa mengatakan bahwa menjadi narablog tidak hanya bisa menyalurkan hobi tapi juga bisa membuat saya punya penghasilan tambahan. 

Karena setelah dijalani dengan serius, ternyata blog ini mampu menghasilkan pundi-pundi Rupiah bahkan Dolar. Sumbernya dari kompetisi blog, ulasan produk, dan kerja sama penempatan konten. Kenapa tidak dari dulu, ya? Mungkin memang sudah begini garis takdir yang Allah berikan. Lagipula, kalau dulu saya tidak merasa mentok di pekerjaan saya sebagai PNS, mungkin saya tidak kepikiran untuk kembali mengurus blog ini.

Meski sekarang prioritas saya adalah keluarga dan juga pekerjaan di kantor, namun saya tetap menyisihkan waktu untuk terus memberikan asupan pada impian saya sebagai seorang penulis. Salah satunya dengan berusaha konsisten menulis setiap bulannya agar rezeki yang datangpun semakin sering.

Rezeki yang saya maksud bukan hanya berbentuk materi, tapi juga jalinan pertemanan antar sesama Narablog yang melintasi jarak dan waktu. Apalagi dengan menjelajah “rumah-rumah” mereka saya seperti membaca macam-macam  cerita dari berbagai aliran. Menyenangkan dan menambah pengetahuan.