"Anak zaman sekarang menghabiskan waktu rata-rata 6.5 jam dalam sehari di depan gadget" (ChildWise Institute 2015)


Dari tahun ke tahun terlihat sangat jelas ada perubahan gaya permainan anak. Tahun 1990-an kita menyaksikan - bahkan kita sendiri yang melakukan- banyak anak yang bermain di luar rumahnya.


Main bola kasti, petak umpet, gobag sodor, egrang, lompat tali, kelereng, atau hanya main tanah adalah keseruan yang lazim dilihat tiap sore. Riuh rendah suara teriakan anak-anak menghiasi udara sampai jelang adzan magrib. 

Tapi, hari ini kita lihat banyak anak lebih banyak diam di rumah, duduk manis sambil.......memegang handphone, menyaksikan video atau game dari layar gadgetnya. Malas ke luar rumah apalagi bermain tanah.


Penelitian dari ChildWise Institute yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa anak zaman sekarang menghabiskan 6.5 jam waktunya dalam sehari di depan gadget, dengan rincian; 8 jam lamanya anak lelaki terpapar layar dan 3.5 jam untuk anak perempuan. Anak laki-laki memang lebih rentan terpapar-terlalu-banyak karena mereka adalah makhluk yang menyenangi tampilan visual. 


Belum lagi ditambah pembangunan perumahan dan gedung-gedung yang semakin tahun semakin menggerus lahan bermain anak-anak. Semakin klop rasanya. 


Ilmuwan bahkan telah mengeluarkan istilah "Nature Deficit Disorder" karena banyaknya masalah kesehatan yang muncul akibat anak terlalu lama berada di dalam rumah. 


Hmmm, sebagus apa sih bermain di luar rumah sampai keluar warning seperti itu?

 


Manfaat Bermain Outdoor Bagi Anak

Sebenarnya banyak sekali manfaat yang kita dapat saat bermain di luar rumah. Sampai-sampai psikolog anak kami pernah berkata,  
"Bu, biarkan anaknya main di luar, eksplor ini itu, pegang bentuk ini itu. Hujan-hujan juga biarkan. Apa yang kita khawatirkan? Cacingan? Ada obatnya. Takut demam? Ada obatnya. Tapi, kurang stimulasi? Susah 'obat'nya". 


Ayo Ma, Let' s go! 

Memang banyak sekali manfaat dari bermain di luar. Berikut saya rangkumkan 5 poin penting dari berbagai sumber terpercaya dan juga yang saya rasakan sebagai "anak outdoor" yang pernah hidup di tahun 90-an.



1. Menjaga Kesehatan Fisik

Bermain outdoor artinya anak mau tidak mau harus menggerakkan seluruh otot badannya, entah itu berjalan, berlari, menyebrangi jembatan, melompat, dan semisalnya. Itu semua adalah aktivitas menciptakan keringat, membakar kalori. Efeknya anak akan terhindar dari bahaya obesitas atau kegemukan. 

Tahukah Ma, menurut laporan Kementrian Kesehatan RI, kasus obesitas anak Indonesia menunjukkan peningkatan angka yang drastis dari 18.8% di tahun 2007 menjadi 26.6% di tahun 2013. Hal ini seolah seiring dengan penelitian dari ChildWise di atas. 


Selain itu, beraktivitas di luar berarti membantu aliran darah untuk tetap lancar karena bertambahnya pasokan oksigen. Akibatnya aliran darah ke otak, organ tertinggi di tubuh, juga akan semakin lancar.


Maka, tak heran jika kita membaca artikel tentang "tips menghindari penyakit alzheimer"  salah satunya adalah dengan olahraga. 


Tahu alzheimer kan, Ma? Alzheimer adalah salah satu penyakit yang berhubungan dengan degradasi kemampuan otak. 


Bermain outdoor berarti pula anak akan bertemu dengan sinar matahari. Dan ternyata Ma, sinar matahari menyumbang 90% vitamin D untuk tubuh, jauh lebih banyak daripada yang bisa diberikan oleh makanan. 



Sinar matahari membawa vitamin D3 atau dikenal juga sebagai previtamin D yang akan dipecah di dalam tubuh menjadi vitamin D. Inilah yang akan membantu penyerapan kalsium dan membantu pertumbuhan tulang dan melawan peradangan. 


Bersyukur sekali kita hidup di negara tropis, mandi vitamin D sepanjang tahun 🌤️. Jadi, jangan sia-siakan, yuk! 


2. Memperkaya Kesehatan Jiwa

Tahukah Ma, di dalam tubuh kita ada hormon bahagia yang bernama Serotonin? Serotonin ini bekerja dengan baik dengan bantuan sinar matahari. Jadi, semakin anak terpapar sinar matahari hormon Serotonin-nya juga akan meningkat💞. Tentang serotonin saya pernah menuliskannya banyak di sini


Sebenarnya fitrah anak memang bermain di luar. Lihat saja reaksi mereka kalau melihat pintu rumah terbuka bagaimana? Pasti ingin "kabur", kan? Hehehe. Itu bisa jadi adalah manifestasi dari keinginan mereka untuk bertemu hal yang membuat mereka bahagia, alam dan matahari.



3. Stimulasi Seluruh Panca Indera

Ini nih yang menurut saya sulit disamakan dengan permainan apapun. Bermain outdoor artinya anak akan menyapa alam dengan caranya; merasakan hembusan angin yang bertiup, menyentuh tekstur pasir di kakinya, mengamati aliran sungai yang membawa ranting pohon, merasakan hangatnya sinar matahari, mendengar suara kambing yang mengembik, sampai memperhatikan kupu-kupu hinggap di bunga. 

Hal-hal yang sederhana bagi orang dewasa tapi bermakna besar bagi makhluk kecil yang susunan syarafnya sedang dalam tahap membangun jaringan. 


Mainkan semua panca inderamu, Dek! 


Saya dan anak bungsu saya biasanya bermain di luar rumah, mengambil tempat di daerah belakang rumah kami yang memang masih banyak lahan kosong.


Selama satu jam banyak hal yang bisa kami lakukan, mulai dari; melempar batu dan daun ke sungai sambil adek belajar gravitasi benda berat dan ringan, meniti jembatan yang bagus untuk melatih keseimbangan badannya, sampai hanya sekedar mengelus bulu kucing merasakan tekstur bulunya yang lembut. 
 Latihan kompleks untuk; konsentrasi, keseimbangan, dan koordinasi mata-kaki

Seperti meniti jembatan ini, pertama kali berjalan di atas jembatan galam (sebelah kiri) adek belum berani, waktu itu usianya 22 bulan. Setelah dicoba beberapa kali akhirnya bisa dan berani lewat jembatan itu di usia 25 bulan bahkan sampai berani berlari di atasnya. 

Memang bagi kita terlihat sepele, tapi susunan jembatan yang renggang seperti itu bagi anak 2 tahun adalah tantangan besar. Perlu kolaborasi yang bagus antara fokus, keseimbangan dan koordinasi kaki dan mata.


Dan pada usia 27 bulan tiba-tiba saja adek bisa dengan baik melewati jembatan yang susunanya lebih renggang lagi (sebelah kanan). Kaget? Banget. 
Huffh, mama sampai lap keringet Dek liatnya! 

Kadang-kadang kami juga menemukan hewan di pohon dan kami ambil untuk diperhatikan. Seperti ulat ini contohnya, adek jadi melihat bagaimana caranya ulat ini berjalan. Bahkan saya baru tau ternyata ulat bisa ganti kulit loh. 



4. Menguatkan Bonding

Ikatan antara orangtua dan anak memang sebuah kepastian, tapi ikatan itu bisa merenggang dan bisa pula menguat. Maka, bermain di luar bersama anak adalah salah satu cara yang jitu untuk membangun dan menguatkan bonding yang sudah ada. Mereka menyadari kehadiran kita karena kita ikut bermain bersamanya dan itu akan membekas di ingatannya. 

Saat jeda main gelembungan sabun


Misalnya, adek suka sekali dengan mobil pemadam kebakaran. Di rumah ada mainan mobil-mobilan pemadam dan juga buku tentang pemadam yang suka dibawa adek kemana-mana. Adek memang belum bisa baca, tapi adek suka memperhatikan ketika dibacakan.


Dan hari itu, saya dan suami mengunjungi kantor Pemadam Kebakaran Kota Palangkaraya yang berjarak 4 km dari rumah. Sudah bisa ditebak respon adek, excited luar biasa. Pegang sana sini, lari dari mobil satu ke mobil lain, mencari-cari sirine tiap mobil sampai terpaku memperhatikan satu mobil pemadam zaman "oplet" 😅. 


Nanti, ketika dia besar semoga dia bisa ceritakan dengan teman-temannya, "Eh, aku sudah pernah liat mobil pemadam kebakaran lo, sama ayah waktu aku masih kecil". 💖 Hehehe, kira-kira masih ingat ga ya nanti? 



Akhirnya ya, Dek.... Tangan dan matamu bisa meraba dan melihat bentuk nyata mobil pemadam kebakaran yang selama ini hanya berbentuk 2D.


Pulang dari sana mereka berdua pun tampak mesra membaca buku tentang pemadam kebakaran 😄. 

Ini mobil yang dilihat tadi, Ayah! 


5. Mengajak Anak Mencintai Alam

Bermain outdoor artinya juga belajar bagaimana mencintai alam, karena alam sudah memberikan banyak hal baik untuk kita maka kita wajib menjaga kelestariannya.  


Ketika kita melihat pohon katakan bahwa pohon atau hutan tidak boleh ditebang sembarangan karena mengakibatkan longsor dan kekeringan. Ketika kita melihat sungai kita bisa katakan bahwa sungai bisa meluap dan banjir jika tersumbat oleh sampah-sampah yang dibuang sembarangan. Yah, walaupun adek sekarang belum terlalu mengerti tapi suatu saat pasti akan paham. 


Dari sana kita bisa mengajarkan kepada anak untuk membiasakan membuang sampah pada tempatnya, jangan sembarang tempat. 

Saat susunya sudah habis adek refleks buang sampah di bak sampah di sampingnya. Good job, Dek! 



Dukung Aktivitas Outdoor Anak


Setelah satu jam berkeliling, keringat kami pun bercucuran. Bau, kotor, haus, capek sudah pasti. Biasanya saya langsung mandikan adek setelah keringatnya mulai kering. Tubuh pun menuntut asupan kalori tambahan. Karena adek sudah sarapan sebelum kami beraktivitas di luar sedangkan makan siang belum waktunya, jadi biasanya hanya saya berikan cemilan dan susu. Nanti ketika jam makan siang dilanjut dengan makan berat dengan nutrisi 4 bintang. 


Ngomong-ngomong susu, karena usianya adek yang sudah menginjak 2 tahun saya mulai memperkenalkannya dengan susu tambahan. Dan saya orangnya cukup strict untuk ini, salah satunya susu yang saya berikan tidak boleh terlalu manis.


Alhamdulillah, sepertinya itu tidak terlalu sulit dipenuhi karena produsen susu juga mulai aware tentang hal ini, salah satunya Indomilk. Indomilk dengan varian barunya, full cream, menjadi pilihan saya untuk mendukung aktivitas adek plus penolong saya dalam proses penyapihan yang sedang dalam proses ini.



Informasi Produk





Nama produk: Indomilk Kids Full Cream
Jenis produk: Susu cair UHT
Netto: 115 mL
Rasa: Tawar
Harga: Rp 2.300 - 3.000
Cocok untuk: 1 tahun ke atas



Ada Apa dengan Indomilk UHT Kids Full Cream?


✔️ Tidak mengandung tambahan gula dan garam 🍶

Ternyataa, tidak hanya terlalu manis bahkan #IndomilkUHTFullCream ini diklaim tidak ada tambahan gula dan garam. Iya, plain, hambar, tawar. Dan, saya merasa beruntung karena ternyata anak saya suka, suka banget malah. Untuk usia balita memang penggunaan gula dan garam wajib dibatasi ya, Ma. Selain bikin karies gigi dan potensi menyebabkan obesitas juga kurang bagus untuk ginjalnya karena akan semakin memperberat kerjanya. 

✔️Awet tanpa bahan pengawet🍶

Susu UHT adalah susu segar yang dikemas segera di dalam kotak dengan menggunakan proses Ultra-High-Temperature. UHT ini adalah salah satu dari teknik pasteurisasasi dengan memanaskan susu sampai 135°C - 150°C selama 3-5 detik. Dengan pemanasan setinggi itu bakteri patogen perusak akan mati semua. Dengan demikian susu UHT akan awet tanpa bahan pengawet dengan masa kadaluwarsa 9-12 bulan dari tanggal produksi. 

✔️Full cream, full nutrisi🍶

Susu full cream artinya kandungan lemaknya lebih tinggi dibanding susu jenis lain. Lemak susu mengandung omega-3 yang baik untuk kesehatan jantung dan perkembangan otak. Selain itu, karena melewati proses pemanasan yang singkat, kandungan nutrisi pada susu UHT masih terjaga dengan baik, seperti kalsium, fosfor dan vitamin D yang bagus untuk pertumbuhan tulang. 

Kebaikan nutrisi yang ada dalam susu Indomilk full cream ini kemudian beriringan dengan manfaat bermain outdoor bagi anak, diantaranya vitamin D dari matahari yang akan berkerjasama dengan kalsium dari susu membentuk pertumbuhan tulang yang optimal. 


Selain itu juga, karena dia full cream jadi lebih enak dan gurih rasanya. Hmm, pantesan adek doyan. 
Belepotan gitu minumnya 😅


✔️Tanpa fortifikasi apapun🍶

Ini dia salah satunya yang bikin saya pilih-pilih. Saya lebih menyukai susu tanpa fortifikasi / tambahan vitamin atau mineral sintesis yang dimasukkan ke dalamnya. Murni, semua asli dari susunya sehingga mudah dicerna oleh usus anak yang masih kecil.

Menurut sumber bacaan yang saya dapat susu UHT memang tidak perlu fortifikasi karena nutrisinya yang masih terjaga. Pemanasan ultra tingginya dilakukan hanya 3 detik untuk membunuh mikroba dan patogen perusak sehingga kalsium dan vitamin yang ada tetap utuh. 

✔️Cocok untuk anak di atas 1 tahun🍶

Karena tanpa pengawet dan tinggi nutrisi, serta tanpa gula dan garam Indomilk UHT bisa diberikan kepada anak di atas 1 tahun, walaupun tetap ASI diutamakan sampai anak 2 tahun ya, Ma. Nah, jika sampai saatnya disapih Indomilk UHT full cream ini bisa jadi pengganti ASI. 

Hanya saja karena protein sapi ini cocok-cocokan, sama halnya dengan protein hewani lain, jadi ada baiknya mencoba sedikit demi sedikit dulu ya. Alhamdulillah, anak saya sudah lolos ujian percobaan, hihihi. Jadi aman banget kalau mau nyetok banyak-banyak. 

✔️Praktis dibawa kemana-mana🍶

Dengan teknologi UHT yang ada sekarang sudah tidak perlu repot lagi menyiapkan susu untuk anak jika dalam perjalanan atau menitipkan anak di daycare. Tidak perlu repot lagi membawa termos panas kemana-mana ya Ma, cukup membawa beberapa kotak susu UHT saja di dalam kotak perbekalan. 

✔️Terdaftar di BPOM dan halal MUI🍶

Sebenarnya ini adalah poin paling penting ketika memilih makanan. Tapi, saya yakin perusahaan sekelas Indofood tentu saja sudah 100x memikirkan kualitas produknya. Dan untuk Indomilk UHT Full Cream ini jelas sudah terdaftar BPOM dan halal MUI. 

Dari kebaikan-kebaikan #IndomilkUHTKidsFullCream di atas sangat mendukung sekali untuk anak terpenuhi nutrisinya untuk mendukung aktivitasnya dimanapun, karena #AktifItuSehat. 
***


Calling for Mom bloggers 🔊... 


Saat ini Indomilk sedang ada blog competition loh. Kalau kalian adalah pelanggan setia Indomilk UHT full cream seperti saya kalian bisa ikutan kompetisi ini. Lomba blognya mengenai ulasan susu UHT ini dan bagaimana menjaga agar anak tetap sehat versi kalian. Yuk, Ma... Yang mau ikutan langsung klik infonya di sini ya. 

Akhir kata, semoga tulisan kali ini bermanfaat yaa.... Sampai jumpa lagi ya! 



  


***

Sumber referensi:


  1. https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20150403134126-199-44050/riset-anak-masa-kini-habiskan-65-jam-pakai-gadget
  2. https://www.hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/tanda-anak-obesitas
  3. https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/sinar-matahari-menghasilkan-vitamin-d-bagaimana-bisa
  4. https://www.alodokter.com/susu-uht-ketahui-fakta-dan-mitosnya-di-sini
  5. http://nakita.grid.id/amp/02908647/mengenal-5-kelebihan-susu-uht-untuk-anak-1-tahun-ke-atas-yang-jarang-diketahui