Reborn with story eye

Kenapa judulnya 'reborn with story'? Karena pada akhirnya aku kembali untuk menyelesaikan cerita yang tak kunjung usai. Lelah menjajal pengalaman menuju bahagia. Terlampau banyak yang ku pendam untuk beberapa dekade ini. Kalau terakhir isiku ini perkara cinta, kasih sayang, seseorang, ayah dan sahabat. Kali ini mungkin aku ingin bercerita hal yang lebih menjerit ketimbang mereka yg kusebutkan.
Sebaiknya ku mulai darimana ya ? Ada ide ? Hmmm, dari yang paling menggerogoti nurani dan logika. Sudah siap ? Kita mulai yah..
Kesombonganku bisa dibilang atau kebanggaanku akhirnya tamat menjadi seorang sarjana. Bergelar dua huruf dinama belakang hanya terasa sementara euforianya. Lebih banyak beban yang dipikul diantara dua huruf tersebut. Keinginan tak sesuai realita, harapan tak seindah doa, impian tak semudah bunga tidur. Idealis sempat menggebu gebu, tapi nyatanya berjalan tak sesuai kehendak. Malangnya seperti merubah takdir, terjerembab pada arus ekonomi. Yang katanya lulusan IPB menjadi ladang di dunia perbankan. Bukan ladang di dunia petani ataupun hutan. Hati dan logika berseteru. Untuk sementara logika mengalahkan rasa, mimpi, harapan, keinginan. Seiring berjalannya waktu, perlahan lahan mulai terkikis akibat logika yang terlalu semena mena pada hati yang sempat mengalah. Sekarang atau tidak sama sekali. Siap menunggu atau kehilangan kesempatan lagi. Seandainya menunggu itu gratis. Tentu hidup tidak begitu pelik. Wahai Tuhan Yang Maha Baik, kemana sebenarnya aku harus berlari.
Berseteru dengan impian bukan keinginanku, tapi lagi lagi logika memojokannya. Sehingga jalan keluar pun ditutup. Masih dengan rasa yg sama aku coba bertahan. Semoga Tuhan Yang Maha Baik membuka jalan pintas yang lebih cepat. Al Baqarah ayat 286 yang berbunyi, "Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya". Aku percaya, sangat percaya. Bukan pertamakalinya aku seperti ini. Tapi masalahnya, semakin lama maka semakin tinggi level kemampuannya. Dan sekarang aku sedang mengambang dalam gundah gulana. Rasanya seperti membalikan gunung dalam satu malam. Sulit. Apakah bisa ? Akhirnya Tuhan Yang Maha Baik menunjukan sedikit petunjuknya. Bergembiralah aku, Tuhan memberi tandanya. Tapi sayang itu hanya beberapa saat. Kembali aku dibuat mengambang diluar sana. Entah apa maksudnya, kini aku enggan untuk menuntut. Meski hati berkata ingin. Tapi hati yang lain berkata, "yasudahlah" tidak ada rencana yang lebih baik selain rencana kirimanNya. Antara pasrah, menyerah atau ikhlas. Aku tak tau yang mana. Sebab aku masih berada dalam gulana yang merungsing diri. Al Baqarah 216, "Seperti saat kamu mennginginkan sesuatu padahal buruk bagimu, dan menerima sesuatu padahal itu baik bagimu. Sungguh Dia Yang Maha Tahu untuk hamba hambanya".