Tidak terpikirkan oleh saya kalau sebuah serial sinetron dijadikan film. Bayangkan saja, jalan cerita sinetron itu panjang, banyak pemain dan cenderung bertele-tele. Bahkan ada sinetron yang judulnya sampai angka belasan. Pasti yang eksis tahun 90an tahu sinetron apa ini. Soalnya saya juga nonton sinetron itu. Sekitar tahun 2015 salah satu stasiun teve (sebut saja RCTI) menayangkan sebuah sinetron dengan jalan cerita dan pemain yang tidak biasanya. Malah cenderung tidak terkenal. Preman Pensiun, menjadi tontonan saya tiap sore. Serial sinetron dengan logat khas Sundanya.  Lama tak bersua di layar kaca, 17 Januari 2019 Preman Pensiun hadir dalam versi layar lebar.

film preman pensiun
Hadir di press screening Preman Pensiun

Pastinya kangen banget sama Kang Muslihat, Kang Pipit, Kang Murad, Ceu Esih, Ceu Edoh, Kinanti atau Amin. Selama 3 tahun mereka menghilang tapi meninggalkan jejak kegelian karena mengikuti ceritanya episode demi episode. Saya mengikuti cerita Preman Pensiun dari zaman almarhum Kang Bahar (Didi Petet) masih hidup. Kang Bahar sebenarnya sosok yang paling dirindukan. Sangat membekas di hati para pemain dan juga penonton. Saya bisa datang ke press screening-nya hari ini (10-01-2019) kayak nostalgia atau reuni. Oh ya, Preman Pensiun juga menggelar gala premier di Bandung (12 Januari 2019). Sebelum menonton, saya, Clara, Sifora, Day sempat mengingat kembali karakter-karakter yang bermain. Bahkan sampai browsing di YouTube melihat episode lawas serialnya.

Baca juga dong  Film Meet Me After Sunset

Preman Pensiun termasuk serial sinetron yang lama episodenya tapi jalan ceritanya tidak membosankan. Pastinya hal ini dari racikan sutradara dan penulis skenario, Aris Nugraha. Ia begitu terampil membuat dialog continuity dalam sebuah skrip. Maksudnya tuh, omongan pemerannya bisa nyambung satu sama lain. Kalau yang sering nonton pasti tahu dialognya kayak gimana. Ciri khas sinetron yang digarap Aris Nugraha memang kayak begitu. Sebut saja Bajaj Bajuri dan Tukang Ojek Pengkolan. Bahkan skrip bab terakhir film Preman Pensiun diserahkan ke produser sekitar 2 Minggu sebelum syuting. "Sengaja saya kasih mepet waktu. Biar nggak ada revisi dan langsung syuting", jelas Aris Nugraha. Hmm...pinter juga nih strateginya. Istilahnya, diterima syukur, ditolak kebangetan 😆.

Sutradara kelahiran Garut ini juga sedikit absurd dalam memilih para pemain. Coba perhatikan pemain di Preman Pensiun tidak ada yang ganteng atau cantik kan? Pernah sih Ridwan Gani main di sini, ia berperan jadi pacarnya Kinanti. Bisa dibilang paling mendinganlah wajahnya dibanding Mang UU. Biasanya pemeran utama itu harus cakep biar menarik perhatian penonton. Aturan ini nggak berlaku bagi Kang Aris Nugraha. "Saya nggak pernah lihat video dari hasil casting, asisten sutradara saya yang lihat. Malahan saya bilang ke Astrada saya, tolong bilang ke casting director videonya ditolak semua", jawabnya saat sesi Q&A press conference. Saya sebagai penonton malah lebih suka dengan pemain yang wajahnya masih asing. Lebih natural aktingnya. Lucunya lagi pemeran Kang Pipit (Ica Naga) dan Murad (Deny Firdaus) direkrut gara-gara Kang Aris Nugraha melihat foto di sebuah grup BBM. Ia langsung meminta dua orang tersebut untuk main sinetron Preman Pensiun.

pemain film preman pensiun
Foto bareng dengan pemain dan
komunitas Bloggercrony

Benang merah film Preman Pensiun masih sama dengan cerita serial sinetronnya. Mengisahkan para preman yang banting setir ke arah lebih baik tapi tidak meninggalkan kesan seramnya. Kang Gobang (Dedi Moch Jamasari) kembali datang ke Bandung dan menemui rekan-rekan premannya untuk menyelidiki kasus pengeroyokan yang dialami adik iparnya. Dengan sigap para preman berkumpul membuat sebuah rencana. Kang Muslihat (Epy Kusnandar) masih berbisnis kecimpring (opak) yang cenderung menurun progressnya. Tiap hari Kang Ujang (M Fajar Hidayatullah) laporan ke Kang Mus kondisi bisnis kecimpringnya. Bahkan melaporkan suatu hal yang terjadi sama Dikdik ( Andra Manihot). Imas (Soraya Rasyid) makin begitu posesif dengan suaminya karena gerak-geriknya yang mencurigakan.

Kang Idris datang ke Bandung dari Garut setelah membersihkan makam Kang Bahar. Menjelang 1000 harinya, keluarga ingin ziarah ke sana. Ia menyampaikan kembali wejangan dari Kang Bahar yang ditaruh di bahu Kang Muslihat. Tidak lupa Kinanti (Tya Arifin), Kirani (Anzanie Kamilah), Kinasih (Sindy Laksmana) sempat berkunjung ke rumah Kang Bagja. Sahabat papih dari 3 anak wanita geulis ini menyampaikan pesan tujuan ziarah. Sungguh pesan yang kadang membuat khilaf manusia menengok orang yang sudah ada di alam barzah. Mendingan pesanan bakso, sekoteng atau martabak yang diminta Emak (Isye Sumarni) pada menantunya, perut kenyang dan nggak bikin khilaf.

Dulu Neng Safira (Safira Maharani) masih pakai rok merah di sinetron Preman Pensiun, seiring waktu berjalan ia berubah menjadi gadis yang patah hati atas sikap  cowok bernama Rendy (Sadana Agung Sulistya). Kang Mus mulai khawatir dengan kondisi anak-anak gadis satu-satunya, sama dengan ucapan Emak sewaktu Esih (Vina Ferina) dideketin sama seorang preman.

preman pensiun versi layar lebar
Ngefans pisan sama Kang Pipit

Overall, saya dan penonton lainnya dibuat ngakak sepanjang durasi 90 menit lebih. Ada beberapa adegan yang membuat saya terharu cenderung sedih saat Kang Mus bicara dengan Kinanti di teras depan rumah dan di bangku penuh kenangan itu. Begitupun dengan adegan-adegan terakhir yang membuat saya deg-degan. Apa iya darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa? Hukum rimba terjadi di tengah gelapnya malam dan seruan dukungan Cecep (Abenk Marco) di atas ring tinju. Editingnya keren banget, dua jempol untuk sang editor. Film Preman Pensiun juga memberikan sedikit kejutan. Kejutannya apa? Nonton aja di bioskop ya.

Baca yang ini juga seru lho Wiro Sableng

Sayangnya saya tidak sempat menanyakan seorang preman yang tidak ada di film ini. Beneran ini masih ngeganjel di pikiran saya. Padahal sosoknya yang eksentrik itu bakal membuat penonton makin terbahak-bahak. Disamping Kang Pipit, preman satu ini favorit saya juga. Entahlah alasannya apa ia nggak muncul di film ini. Semoga aja ada sequelnya, jadi saya bisa ketemu langsung di press screening berikutnya. Mungkin saja nanti ada film Preman Pensiun season 2 dst.

poster orisinil film preman pensiun
Official poster film Preman Pensiun

Kalau boleh dinilai dengan angka, film produksi MNC Pictures ini saya kasih angka 9,90 dan masih bisa ajak anak kecil nonton film ini meskipun rating 13+. Tidak ada adegan yang terlalu ekstrim. Saya bisa tertawa sepuasnya karena kelucuan film ini, meskipun ada kekurangan yang terasa juga (tidak ada yang sempurna). Tapi saya puas dengan hasil kerja keras para pemain dan kru yang terlibat. Khususnya Kang Aris Nugraha selaku penulis skenario dan sutradara yang membuat cerita berepisode-episode  di layar kaca dirangkum dan dikemas dengan versi layar lebar yang ditonton selama 90 menitan.

Mengutip dari pesannya Kang Bahar
"Setiap pertanyaan harus terjawab di kamu, setiap persoalan harus selesai di kamu"

Kalau kutipan saya
"Setiap film harus ditonton bioskop, makanya nonton film Preman Pensiun tanggal 17 Januari 2019"






***