Cerita yang bulat. Utuh. Penuh konflik. Saya suka cara Mbak Sinta Yudisia bertutur. Kisah besarnya Palestina dikemas menarik karena latar tokoh utama bercerita di Maroko.

Dan, baru kali ini saya menemukan novel, dan saya suka semua tokoh di dalamnya! Dari mulai Reem, Kasim, Alya, Ilham, Baba, Bibi Aisyah, bahkan Salman Aziz!

Novel Reem terasa filmis, latar dari Maroko, Indonesia, Gaza mewarnai novel ini, begitu juga tokoh tokohnya. Sehingga novel Reem pun layak meraih Penghargaan Fiksi Dewasa Islami Terbaik di Islamic Book Fair 2018.

Latar Maroko ditampilkan apik.

Jalanan tidak lebar, penduduk tetap menanam pepohonan pada pot-pot, ciri khas perkampungan Maroko. Bangunan Maroko kota Biru. Tanaman merambat dan pilar-pilar coklat tanah sebagai aksen. 

Tidak ada pintu yang benar-benar sama di Kota Biru. Sepertinya, tidak ada pintu yang mirip baik di permukiman Casablanca, Rabat, maupun Fez. Sebagian pintu berbentuk melengkung seperti atap kubah masjid, sebagian yang lain persegi panjang. Tidak ada bahan baku ringan untuk pintu di Kota Biru. Pintu-pintu besi perkasa dengan pegangan kokoh dan kunci nyaris tidak terpatahkan. Ada yang pintunya dan dua lapis tepiannya berwarna biru tua, berbentuk lengkung, dengan ukiran. 

Ada yang biru lebih muda, dengan dua pelapis berwarna biru dan putih. Ada yang berwarna biru muda, dengan pelapis putih tulang. Ada dinding putih dan biru, pintu kuno cokelat tua berkerangka besi. Ada juga pintu biru dengan pelapis pertama berwarna putih susu, dan dinding yang mengelilingi pintu adalah batu terpahat berukir. (hlm 112) 


Reem gadis Maroko yang punya latar belakang Indonesia. Orang tuanya, Ummi-nya berasal dari Indonesia. Ia juga pernah pulang ke kampung halaman Ummi. Baba dan Ummi, keduanya bertemu di Jerman. Mereka menikah dan memiliki anak satu-satunya, Reem.

Baba dan Ummi, duduk bersisian berpelukan, di sebuah lahan tanah dengan tumbuhan zaitun muda yang berjajar rapi. Ummi, seorang perempuan Indonesia, bertubuh mungil dengan wajah khas. Kulit cokelat, mengenakan abaya khas Palestina berwarna cokelat tua dengan jilbab warna senada. Ummi tersenyum lebar, memeluk seorang laki-laki besar. Tampan. Bermata tajam. Senyum ramah mengembang, hidung mancung, dan kulit terang. Cambang menghiasi wajah dengan kumis tercukur rapi. Rambut ikal cokelatnya terpangkas cepak. (hlm 83)

Reem telah hafal Quran sejak usia sebelas tahun. Quran adalah pelembut hati. Obat bagi hati yang angkuh dan keras, pelipur lara bagi hati yang sakit dan luka. (Reem –hlm 110)

Menetap di Maroko, tak menghalangi keduanya memandang Palestina dengan penuh cinta.

Palestina negeri Para Nabi. Keberkahan tanah ini takkan tercerabut walau lapis demi lapis generasi mati, hancur, terusir, atau terpaksa mengembara ke negeri penampungan pengungsi. Meski, blokade merampas hak asasi; tanah tetap memberikan kehidupan bagi rumput hingga tanaman buah. Air tetap memberikan kehidupan bagi rumput hingga tanaman buah. Air tetap memberikan kehidupan bagi ikan dan manusia. Filistine tetap dengan kekayaan aslinya: kurma, tiin, dan zaitun.

Siklus hidup di Palestina tidak berhenti hanya karena rakyat terpaksa hidup bergantung pada bantuan asing, smuggling tunnel atau perbatasan yang kejam. Kelahiran terus berjalan, pernikahan terus berlangsung, pasar tetap ramai, bangunan remuk dan berdiri kembali. Kota-kota tetap bersemi dalam perputaran ekonomi, sosial dan politik; tidak terkecuali Khan Younis, Deir al Balah, Gaza City, hingga Jabaliyah. (hlmn 19) 

Cinta Kasim dan Reem berawal dari kecintaan mereka terhadap Palestina.
Kasim tertarik menjadikan perkembangan budaya dan linguistik pada masyarakat korban perang. Maroko sebagai salah satu negara yang memberikan penampungan kepada korban warga Palestina dan Suriah. Kasim melakukan kajian trauma terhadap perkembangan budaya dan linguistik pada masyarakat korban perang.

Tesisnya kualitatif, subjeknya orang Palestina, dan pada Reem, Kasim banyak bertanya.

Mbak Sinta juga pandai menggambarkan peradaban Islam yang Berjaya di masa lalu.

Diceritakan ruang Profesor Ahmed, dosen Kasim, dosen di Fakultas Ilmu Adab wa Ulum , beliau rajin meneliti fenomena-fenomena sosial yang berkembang di dunia Islam. Ruang kerja Profesor Ahmed 5x6 meter. Kotak yang terbatas untuk seseorang dengan pemikiran luas sepertinya.

Rupanya ruang kerjanya terhubung langsung ke pintu kupu-kupu yang terbuat dari kayu tebal berpenyangga besi, dengan pilar memagari dan memayungi terdiri dari pahatan keramik berbentuk oktagon –ornamen ziliij* yang terkenal di dunia sebagai warisan ulama serta maalim. Pintu kupu-kupu itu menghubungkan ruang Profesor dengan bunker luas di bawah tanah, bukan sebagai tempat persembunyian ketika pecah perang. Bunker tersebut tempat menyimpan ribuan atau mungkin puluhan ribu manuskrip asli para ulama. Kertas-kertasnya telah tua, disampul rapi dalam kulit yang telah disamak berwarna-warni.

Tidak semua dosen mendapatkan akses langsung ke bunker manuskrip. Profesor Ahmed, salah satu yang diistimewakan. Kasim pernah dua kali mengunjungi bunker mendampingi Profesor. Terkagum-kagum menyaksikan peninggalan para ulama yang tiada ternilai harganya. Di dalam bunker, mereka mendapatkan cahaya dari lantai utama aula mahasiswa, yang berlubang-lubang berlapis kaca tahan pecah dan terhubung dengan dunia luar berlimpah udara.

Kasim tidak pernah bosan mendengarkan cerita Profesor tentang para ulama terdahulu, tentang ketekunan mereka menuliskan empat puluh halaman naskah sehari! Masa saat komputer dan printer belum ditemukan seperti sekarang. Bukan hanya para ulama yang berjasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan, para penyalin kitab juga. Mereka membaktikan hidup dengan menggandakan buku serta menyebarkannya ke segala sudut penjuru dunia.

Dalam tesisnya, akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa, “perang tidak hanya bicara ukuran kuat lemah, mana persenjataan yang paling superior, mana yang paling inferior, pihak mana yang mengalami kekalahan paling mengenaskan.

Bagiku, perang melibatkan hati nurani manusia pula. Penyelesaiannya bukan sekadar memenangkan medan perang dari kekuatan militer, tapi juga sejauh mana daya tahan orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk mempertahankan prinsip.” 

Yang membuat Kasim takjub adalah meski Reem merasa sakit jika mendengar Palestina, --karena Ummi nya meninggal saat konflik perang, namun ada rona-rona kebahagiaan dan wajah bersemangat jika membicarakan Palestina.

Gadis di depannya menunduk. Palestina. Nama yang baginya selalu membangkitkan gelombang dalam denyut jantung, sel-sel kelabu otak, serta aliran darah. (hlm 63) 

Atau dalam paragraf lain:
“Aku ingin menunjukkanmu pada beberapa sejarah yang terkait dengan Palestina,” ajak Reem suatu ketika. 

Kasim sama sekali tidak menyangka, di balik kesantunan dan sikap sendu yang ditunjukkan Reem, tersembunyi semangat menyala. Diskusi-diskusi penuh gairah, sudut pandang yang sama sekali berbeda, kalimat-kalimat yang sulit dipatahkan kebenarannya menjadi ciri khasnya kemudian. (hlm 103) 
*
Saya menemukan scene seperti di film Doctors, ketika Dr. Hong tidak sanggup mengoperasi Ayahnya sendiri karena takut terbawa emosi.

Sehingga kehebatan serta instingnya sebagai dokter pun khawatir terbawa hanyut oleh emosi, sehingga ia menyerahkannya kepada Dr. Jung, meski ia juga sering memberinya wejangan ini dan itu agar tak salah langkah.

Persis, dalam buku ini pun yang berperan sama adalah Ayah Reem, Dokter Maher seorang ahli dokter di bidangnya, namun ia merasa tak punya ‘kekuatan’ apa-apa untuk mengobati ananya yang sakit dan rahimnya harus diangkat. Ia memilih Dokter Salman Aziz yang melakukannya.

Meski senang karena anaknya akhirnya telah operasi, Salman Aziz tak henti mengingatkan ini dan itu sebenarnya. Dokter Maher tahu dan khawatir melupakannya.

“Salman aku minta tolong, Nak!” 
“Dokter Maher, katakan, apa pun insyaAllah.” 
“Tolong tangani Reem. Jika memang rahimnya harus diangkat.” 
“Mengapa bukan Anda, Dokter Maher? Di negeri ini, Andalah yang terbaik,” Salman Aziz ragu. 
Dokter Maher menggeleng.
“Kali ini, akulah yang terburuk. Seorang ayah yang membedah tubuh anaknya, akan terlibat emosi dan tidak akurat. Demi Tuhan, Salman Aziz, tolonglah aku!” 
Dokter Salman Aziz tersenyum, meremas kedua lengan laki-laki dalam rengkuhannya. Dia mengangguk, memeluk tubuh yang terguncang hebat dan menangis tersedu bagai anak kecil. Salman Aziz menepuk-nepuk bahunya, mengelus punggungnya. 
“Insya Allah, Dokter Maher. Kulakukan yang terbaik, Laa haula wa laa quwwata illa billah. Bantu aku dengan menyiapkan kondisi psikologisnya.” (hlm 239) 

Dalam novel ini pun peran Ayah dan anak membuat terenyuh. Kisah Ayah Dokter Maher menemani Reem di waktu-waktu sakitnya, menyentuh ke hati. Setelah pertengkaran-pertengkaran hadir karena Sang Ayah melarang Reem dekat dengan Kasim.

“Baba mau tidur di sofa ini. Tolong, perdengarkan bacaan Quranmu hingga Baba terlelap, ya.” 

Reem menatap wajah laki-laki tua yang lebih banyak menghabiskan waktu di medan perang. Oh, ingin dia membersamainya hingga beliau renta dan tidak mampu apa-apa. Mengingat ini membuat Reem sedih. Bila maut  memisahkan mereka dan Reem harus pergi dahulu, seperti apa kedukaan di hati Baba? 

Lembut, Reem mengeja ta’awudz dan basmallah. Memperdengarkan Ar Rahmaan, surah yang memperlihatkan gambaran surga bagi orang-orang yang memilih kehidupan akhirat dibanding dunia. tentang surga yang bertingkat-tingkat. Tentang pakaian hijau para penghuni Firdaus. Tentang ranjang, bejana, piring makan, serta buah-buahan yang terserak di surga. Perlahan, mata dr. Maher terpejam dan kesadarannya mulai berganti kantuk. Napasnya teratur turun naik. (hlm 270) 

Perhatian Kasim pada Reem, membuat hadirnya cemburu pada Alya. Ilham sebagai sahabat Kasim selalu memberi pengertian bahwa Kakaknya itu sibuk mengerjakan tesis sehingga mengabaikannya.
Suatu hal yang menggembirakan melihat tingkah Alya dan Ilham. Mbak Sinta Yudisia pandai menuliskan karakter tokoh keduanya dengan porsi yang pas dan tidak berlebihan.

Ternyata konflik baru dimulai saat Kasim akan pulang ke Indonesia. Kasim berharap Reem mengucap kalimat perpisahan di Bandara, namun tak kunjung ada.

Saat Reem sadar dan berusaha mengejar ketertinggalannya ke Bandara, ia luruh hatinya karena Kasim sudah pergi. Tinggal Reem sedih, ia memang tidak dibolehkan kesana oleh Babanya, menyusul Kasim.

Di Indonesia, Kasim dikejutkan karena Alya bukan adik kandungnya. Hal tersebut meruntuhkan realita keduanya karena mereka selama di Maroko tinggal di atap yang sama. Orang tua Kasim dan Alya menyuruh mereka pulang karena keduanya akan dinikahkan.

Runtuhlah hati Alya karena Alya sendiri sebenarnya menghargai orang tuanya untuk pulang karena suatu hal yang penting. Karena tak ada angin, tak ada libur, tapi harus ikut Kasim pulang.

Kasim telah selesai kuliah, sedang Alya baru saja diberi kalung oleh Ilham sebagai tanda keseriusannya kelak akan melamar Alya.

Dengan kecamuk dalam hati akhirnya Alya menikah dan kisah persahabatan Kasim dan Ilham dirusak disini. Di depan mata, Alya hanya bisa menangis.

Hari ini, dia menyaksikan kehancuran di wajah Kasim dan Ilham sekaligus. Alya tahu, hati Kasim tertambat pada Reem. Dia tidak akan pernah mendapatkan Kasim sebagai suami yang sepenuhnya mencintainya. Ilham? Dia pasti hancur kehilangan saudara, sahabat, orang yang dikasihinya, yang dimatanya semua hilang hanya karena pengkhianatan dan kedustaan. (hlm 248) 

Kekacauan, memunculkan hampa. Ruang-ruang kosong itu akan membengkak bila diisi keluh kesah. Sebaliknya, bila memilih cahaya sebagai isi, materialnya mengalir lesat dari satu sisi ke sisi yang lain.

Yang menyakitkan adalah Kasim tidak menghiraukan Alya sejak hari pertama sampai akhirnya dua bulan Alya pun merasa hubungan ini tidak benar. Ia pun sebenarnya masih menganggap Kasim orang yang ia hormati.

Kasim telah menolak Alya sejak hari pertama. Tidak ada artinya memohon padanya, menghiba cinta atau merendahkan diri meminta kasih. Alya akan melakukan apa yang dilakukan para ulama terdahulu: siapa yang terkenal di kalangan penduduk langit, akan terkemuka di kalangan penduduk Bumi. Dia masih cukup terhormat sebagai perempuan untuk memiliki harga diri. Ayah dan Ibu tidak mengerti, tapi Alya memahami dirinya sendiri.

Terkenal di kalangan penduduk langit. 
Bila tidak ingin direndahkan penduduk Bumi, siapa  pun –termasuk suami—maka berkelanalah di langit. Menghidupkan malam dengan shalat dan bacaan Quran. Malam demi malam, Alya habiskan dalam munajat. Meletakkan dahi sejajar dengan tanah, menempelkan kepala di tempat sujud. Ketika otak tidak mampu berpikir, biarkan Allah yang membantu memecahkan rumusnya. Air mata Alya membantu memecahkan rumusnya. Air mata Alya mengalir sepanjang malam hingga bengkak mata. (hlm 258) 

Bagaimana kisah cinta Kasim dan Reem? Sementara Reem setelah dari bandara pingsan dan diketahui memiliki riwayat suatu penyakit yang mengharuskannya diangkat rahimnya dan tak bisa mempunyai anak.

Dokter yang menangani Reem, Dokter Salman Aziz sempat bertemu Reem dan menanyakan kabar yang bisa membuat bahagia adalah Kasim.

“Dokter Maher, pasien kanker yang paliatif sekalipun, bila mereka bersemangat hidup, harapan usia meningkat hingga 80%. Delapan puluh! Obat-obatan memang membantu, tapi keceriaan, kebahagiaan, sukacita si pasien adalah sebab musabab dia bertahan hidup dan insya Allah, mendapatkan usia lebih lama.” 

Dokter Maher menyeka hidung, “Jadi?”

“Tugasku mengontrol kreatininnya. Cisplatin punya dampak kerusakan ginjal dan kita harus pantau baik-baik. Tugas Anda, Sidi, menyalakan semangat hidupnya.” 
Dokter Maher menatap Salman Aziz. Ah, tampan dan santunnya sang dokter muda. Begitu saleh, tapi bukan dia yang mampu menyalakan api di dada Reem. (hlm 266) 

Hingga Baba dan Bibi Aisyah pun selalu bertanya apa sudah kontak dengan Kasim? Bagaimana kisah selanjutnya? Selamat membaca, ya!***

Novel Reem
Karya: Sinta Yudisia
Penyunting naskah: Irfan Hidayatullah
Cetakan: 1, Agustus 2017
Penerbit: PT Mizan, Bandung
Tebal halaman: 352 halaman
ISBN: 978-602-6716-11-8

*kerajinan keramik yang sangat mahsyur di Maroko. Lempeng keramik dipotong kecil-kecil dengan rapi dan sangat teliti membentuk pola geometris tertentu, lalu disusun menjadi sebuah rangkaian besar warna-warni untuk pintu masjid, lapisan dinding dan hiasan lainnya.