Bagi para pecinta fashion, pasti sudah tak asing lagi dengan model baju seperti ini, yakni tutu. Yups! Busana tersebut populer dikenakan para perani balet, namun belakangan sangat digemari dari berbagai kalangan. Biasanya dipakai bayi dan anak-anak. Tapi bukan berarti orang dewasa tak boleh memakainya.

Terbuat dari material kain tile yang kaku dan mengembang, sedang kata ‘tutu’ sendiri hanyalah sebutan untuk menamai jenis item fashion tersebut. Nah, bagaimana caranya tampil dengan pakaian jenis itu, berikut beberapa alternatife yang bisa kamu contek untuk dikenakan!

Tutu warna pink

Tutu tersebut dapat dikenakan sehari-hari. Pilih warna netral. Bagus juga saat dipakai saat menghadiri kondangan teman.

Tutu warna kuning

Cukup percaya diri dengan warna cerah? Coba intip tutu berwarna kuning, modelnya bertingkat dengan ikat pinggang mungil. Cocok dikenakan sehari-hari, baik hadir di acara penting maupun setengah resmi.

Tutu warna motif bunga

Traveling ke alam bebas misalnya ke pegunungan, tutu bermotif bunga ini akan melengkapi penampilanmu yang menyatu pada alam. Blazer birunya akan serasi, ketika dirimu mengambil pemotretan berlatar belakang suasana pemandangan itu.

Tutu kain songket

Hang-out di pusat keramaian, juga bagus kok bila mengenakan tutu berbahan dasar kain songket. Lengkapi dengan sepatu higheels yang tingginya sekitar 5-7 cm ya, agar kamu tetap chic
.
Tutu warna hijau

Kamu suka warna hijau? Jalan-jalan ke kota belum lengkap rasanya tanpa tutu berwarna hijau. Bisa dipadupadankan dengan model hijabnya yang bersinergi dengan bawahannya. Pilih motif bercorak yang mencerminkan warna itu.

Trik item fashion di atas dicontek dari desainer Dian Pelangi yang memang fokus pada jenis busana berhijab untuk wanita masa kini. Boleh pilih sesuai karaktermu ya.

Busana tutu tidak akan pernah menampilkan kesan kekanak-kanakanmu selama kamu pintar memainkan triknya dalam berpakaian. Sifatnya bebas. Bisa dipakai untuk segala jenis acara apapun. Jadi sayang sekali jika kamu tidak meliriknya.

Sumber foto : Koleksi blog Dian Pelangi