Tentu ada alasan kuat dari para ahli yang menetapkan usia 1 hingga 3 tahun sebagai Usia Emas (Golden Age). Pasalnya pada rentang usia itulah pertumbuhan fisik anak berkembang sangat pesat. Di fase Golden Age, anak mulai belajar mengembangkan kemampuan motorik kasar dan halus. Kemampuan ini memang akan berkembang secara alami bersamaan dengan insting untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Biar begitu, agar kemampuannya bisa berkembang optimal, orangtua wajib memberikan stimulus yang tepat. Tentu saja dengan cara yang menyenangkan sehingga fase Golden Age ini bisa menjadi momen berharga bagi tumbuh kembangnya.

Saya ingat ketika Narend memasuki usia setahun dan mulai aktif mengeksplorasi diri dan lingkungannya. Lemari baju adalah salah satu sasaran berlatih yang paling ia gemari. Satu persatu pakaian yang sudah tersusun rapi di lemari ditarik hingga jatuh berhamburan. Hampir setiap hari begitu. Walau agak sebal dengan polahnya karena membuat saya harus memiliki ekstra tenaga untuk merapikan lemari tiap hari, saya toh membiarkan ia melakukannya.

Namun kebiasaan Narend membongkar lemari itu, perlahan mulai membuat saya mulai memutar otak. Nggak bisa dong terus menerus membiarkan Narend melakukan itu. Perlu ada kegiatan menarik lain yang bisa merangsang perkembangan motoriknya supaya lebih maksimal. Beberapa kegiatan pernah saya coba, seperti bermain balok bangun dan bernyanyi sambil bertepuk tangan pernah saya lakukan.

Nah, menjelang usia dua tahun, Narend mulai menampakkan ketertarikan dengan wayang kulit. Beberapa kali, saya melihat ia memainkan botol kecap seolah sedang memainkan lakon pewayangan. Kami pun mulai membelikan wayang kulit mainan berukuran kecil untuk dia.


Wah, jangan ditanya bagaimana gembiranya Narend saat mulai memainkan wayang kulit itu. Setiap hari, dengan panduan tayangan pagelaran wayang kulit yang kami unduh di youtube dan DVD pertunjukan wayang, ia pun mulai meniru gaya dalang kondang memainkan wayang.

Lantas apa hubungannya bermain wayang kulit dengan perkembangan motorik si kecil?

Nah, yang tidak banyak diketahui orang adalah, memainkan wayang kulit untuk anak sebenarnya sangat bermanfaat bagi pertumbuhan motorik kasar dan halusnya. Kok bisa? 

Begini penjelasan sederhananya; saat memainkan wayang kulit, seorang dalang dituntut untuk mampu menggerakan tangan kanan dan tangan kirinya dalam gerakan yang berbeda namun tetap harmonis. Misal, di tangan kanan ia memegang wayang Sri Krisna dan di sisi lainnya ia harus memainkan tokoh raksasa. Maka gerakan yang dibuat antara tangan kanan dengan tangan kiri harus berbeda namun tetap selaras.



Belum lagi kalau tokoh wayang yang dipegang perlu menggerakan tangannya, maka Narend akan menggerakan jari-jarinya agar tangannya bisa tetap menjepit wayang. Perlahan namun pasti kemampuan motorik Narend pun berkembang seiring dengan keterampilannya memainkan wayang. Kalau dulu, ia hanya belajar untuk menggerakan tangan wayang sambil mengikuti dialog wayang, sekarang tahap permainan wayangnya mulai merambah ke adegan pertempuran. Tokoh wayang yang sedang dimainkan dilempar, lalu ditangkap lagi. Nah, dibagian seperti inilah koordinasi motoriknya ikut terlatih. Sepintas lalu, kegiatan ini memang terkesan rumit. Namun sebenarnya tidak sulit karena bisa disesuaikan dengan kemampuan anak.

Asupan Makanan yang Tepat
Lalu, supaya perkembangan motoriknya bisa lebih maksimal, asupan makanannya juga perlu diperhatikan. Sejak dini sekali, saya sudah membiasakan Narend untuk tidak pemilih dengan makanan. Sayur dan buah adalah menu rutin yang selalu ada setiap kali ia makan. Begitu pula dengan konsumsi makanan sumber protein seperti daging, telur dan tempe/tahu.

Yang bikin saya agak pusing sebenarnya adalah saat harus menyiapkan camilan buat Narend. Karena saya tidak terlalu terampil mengolah camilan, alhasil saya hanya bisa menyiapkan camilan sederhana seperti buah atau pudding.

Pernah suatu waktu, setelah bermain dengan teman sebayanya, Narend meminta camilan biskuit seperti yang dimakan teman-temannya. Ah ini permintaan yang bikin saya makin pusing. Pertama, karena saya tidak yakin dengan kandungan gizi dalam biskuit-biskuit kemasan yang banyak beredar. Biasanya terlalu manis lah, mengandung banyak pengawet lah, atau mengandung coklat. Oh iya, sekadar informasi, Narend ini alergi dengan coklat. Kalau dia mengonsumsi coklat pasti langsung batuk dan sesak napas.

Kedua, karena saya tidak terampil membuat kue sendiri. Berkali-kali mencoba hasilnya tidak pernah memuaskan. Narend pun enggan menicipi kue buatan ibunya. Hiks sedih…. 

Untungnya sekarang ada Monde Boromon Cookies. Berbeda dengan kebanyakan camilan biscuit di pasaran, Monde Boromon Cookies ini diklaim bebas gluten karena dibuat dari tepung kentang. Selain itu, Monde Boromon Cookies juga diberi tambahan madu (0,3%) dan minyak ikan yang mengandung DHA.




Kalau dari segi tekstur, biskuit ini juga mudah meleleh saat kena air liur. Jadi meski ukurannya kecil, saya tidak khawatir Narend akan tersedak. Namun tetap bisa melatih motorik yang ada di lidah dan mulut anak. Dengan biskuit ini, anak juga bisa belajar mengeksplorasi rasa, bentuk dan tekstur makanan. Oh iya, bentuk Monde Boromon Cookies yang kecil itu juga baik lho untuk melatih motorik Si Kecil. Anak jadi belajar menjepit makanan dengan tangan.

Dan yang terpenting adalah, Narend suka sekali dengan rasa Monde Boromon Cookies ini. Makanya sekarang saya usahakan untuk selalu menyiapkan stok Monde Boromon Cookies di rumah. Harganya juga sangat terjangkau kok, hanya Rp 12.500 per box. Dalam satu box berisi 6 kemasan plastik biskuit seberat 20 gram. Khusus buat ibu-ibu yang males ribet, Monde Boromon Cookies juga bisa dibeli online di mondemart. Tinggal klik, bisa langsung dikirim ke rumah.


Melatih motorik Si Kecil agar lebih optimal memang membutuhkan usaha. Perpaduan stimulus berupa kegiatan yang menyenangkan dan asupan makanan yang bergizi dapat merangsang pertumbuhan motorik anak.


Semoga jadi tambah tahu ya.