Suara dari mulut mungil itu terus saja mengudara di ruang kamar yang hanya sepetak. Sengaja aku diam, membiarkan ia asik dengan segala rupa imajinasi. Biarlah ia puas, walau suara itu kadang teramat stereo. Sesekali adik perempuannya menegur, karena merasa sedikit terganggu dengan celotehannya. 

Begitulah, Bintang sedari kecil sering tenggelam dengan dunianya sendiri. Ketika ditegur, ia akan menoleh sesaat, selebihnya ia akan terus tenggelam lagi.

Semakin hari, bahasa verbalnya sedikit banyak bisa dimengerti. Kadang hanya serupa bunyi-bunyian. Riuh, karena lidah dan bibirnya sibuk melafalkan sesuatu dan hanya ia yang paham.

Bahasa planet yang dulu sering terdengar, lambat laun menghilang dengan sendirinya. Rasanya lega, himpitan yang dulu sempat bersarang dalam dada perlahan-lahan mengendur sedikit demi sedikit. 

Pernah, dengan begitu egoisnya, aku menjejali ia dengan segala inginku. 

Suatu ketika, pengasuh di penitipan menyampaikan sesuatu, katanya Bintang sama sekali tidak mau memegang pensil. Ketika diminta untuk menggambar, pengasuhnya itu yang harus terus menggambar. 

Begitupun saat di rumah. Ia meminta aku dan suami yang terus menerus menggambar. Ia hanya mengamati saja. Sampai aku menyerah. 'Sudahlah,' pikirku. 

Seterusnya, aku ingin ia bisa mengenal warna. Maka kubelikan mobil-mobilan dengan aneka warna. Mobil mainan adalah benda kesayangannya, kupikir, dengan menggunakan media kesukaannya, semuanya akan berjalan sesuai harapan. Hasilnya? Tidak semuanya ia hapal. Hanya satu dua warna saja yang ia tahu. 

Berikutnya, aku mau dia bisa mengenal nama-nama hari. Setiap hari lagu Senin sampai Minggu berkumandang sumbang. Hasilnya? Ia acuh tak acuh. 

Berikutnya lagi, aku mau Bintang bisa bernyanyi. Aku bernyanyi layaknya seorang vokalis sedang konser di atas panggung. Biarlah tenggorokan serasa serak. Biarlah nada lagu tak tahu kemana arahnya. Hasilnya? Bintang tak perduli apa yang kunyanyikan. 

Kemudian, aku masih saja memaksakan kehendakku. Aku belikan berbagai macam puzzle dan mainan edukasi. Hasilnya? Bintang hanya memilih puzzle kesukaannya saja, yakni alat-alat transportasi. Selebihnya, mainan edukasi dan puzzle lainnya berhambur, hampir tak ada yang utuh lagi.

Akhirnya. Aku merasa harus istirahat dengan segala mauku.... 

Seminggu

Sebulan

Dan entah hitungan bulan ke berapa. Penantian yang terasa sangat panjaaang itu berbuah manis.

Tiba-tiba saja, Bintang mau memegang pensil. Mencorat-coret media kertas dengan goresan tangannya. Esoknya lagi, lusa, dan seterusnya. Ia sering tenggelam dengan media kertas putih dan pensil. Tidak kenal waktu. Tidak kenal tempat. 

Air mataku hampir menitik. Haru. 

Pada suatu hari, Bintang bertanya, "Bunda, bolehkan aku pinjam tabletku. Sekarang kan libur."

"Emang sekarang hari apa?"

"Sabtu. Sabtu dan Minggu, bolehkan pinjam tablet?"

Aha! Tertegun beberapa detik. Menikmati degup-degup yang memenuhi rongga dada. Inikah namanya euforia seorang ibu.

Di kemudian hari. Masih ada perasaan sangsi bahwa ia sudah mengenal nama-nama hari dengan baik. Sedikit iseng, aku bertanya padanya, "Ini hari apa, Bin?"

"Jumat."

"Kalau hari Jumat ngapain?"

"Sholat Jumat."

"Kalau besok hari apa?"

"Sabtu."

Ulalah. Terlonjak mendengar ia bisa menjawab dengan benar. Biasanya ia akan mejawab, "Nggak tahu." atau "Hmmm, apa ya?"

Begitupun dengan pengenalan warna. Duuh, sering ada perasaan sedih, kenapa belajar warna saja harus membutuhkan waktu lama.

Suatu ketika, ia bernyanyi lagu Tayo. Lirik yang sangat ia sukai. 

Hei Tayo.... Hei Tayo.... Dia bis kecil ramah

Melaju...melambat…. Tayo selalu senang


Secara iseng, aku bertanya padanya, "Tayo yang mana, Bin?"

"Itu yang biru."

"Lani warna apa, Bin?"

"Kuning."

"Rogi, warnanya apa?"

"Hijau."

"Kalau Gani?"

"Merah."

Ugh. Rasanya dadaku menggaduh. Saking senangnya, hingga suara detak jantungku terasa lebih keras. 

Tuhan. Kau jawab do'aku.

Pernah....Bintang menjalani terapi okupasi. Salah satunya belajar mengenal angka 1-10. Hasilnya? Berbulan-bulan!

Hari ini angka 5 yang terbalik. Besoknya angka 7 juga terbalik. Lusanya angka 4 juga terbalik. Berikutnya ada angka yang terlewatkan. Begitu dan begitu terus. Pfiuuh....rasanya ingin menghembuskan napas agar dada terasa longgar. 

Suatu ketika, tanpa dinyana. Ia bisa menulis angka 1-10 tanpa kesalahan, tidak ada yang terlewati. Goresan tangannya sangat tajam, bagus sekali menurutku. Kemudian ia bisa memahami konsep penjumlahan 1-20. 'Wow'! Batinku sekonyong-konyong berisik.

Sesekali ia bersenandung, menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang dulu sering kunyanyikan saat bersamanya. Menakjubkan! Senyum simpul tak lepas dari bibirku, mendengar ia bernyanyi. 

Oh, Bin-bin--panggilan baby imutnya dulu. You are my shining star! (*)