#BPN30DAYCHALLENGE2018 DAY 10

Saya paling suka baca novel. Entah kenapa sampai di usia 27 tahun ini saya masih kecanduan untuk mendalami karakter, dunia, dan cerita dunia fiksi. Entah mungkin dipengaruhi oleh buku yang pertama saya baca selepas komik adalah novel fiksi, atau kebencian saya pada realita baik dalam bentuk real maupun bacaan (?).



Hahaha, well, sama seperti kebanyakan orang, ada beberapa buku yang saya lahap habis dalam sekali baca, ada yang baru tuntas dalam beberapa kali baca, ada yang jalan ceritanya membuat saya begitu hanyut, dan ada pula beberapa buku yang saya sesalkan kenapa baru baca sekarang? Karena itulah izinkan saya yang baru punya sekelumit referensi bacaan ini memberikan rekomendasi buku-buku (fiksi) apa saja yang harus dibaca sebelum kamu berusia 25 tahun.

Kenapa 25? Tanya saya ketika pertama kali memutuskan untuk menulis postingan ini. Well, 25 adalah usia rentan terkena quarter life crisis (saya contohnya, and still not through it!). Quarter life crisis sendiri bisa dialami oleh individu mulai dari usia 20-an hingga pertengahan 30-an. Psikolog Alex Fowke mendeskripsikan quarter life crisis sebagai a period of insecurity, doubt and disappointment surrounding your career, relationships and financial situation. Any similar symptom from you, guys? Tenang, kelen nggak sendiri.

Biasanya krisis ini terjadi ketika kita mulai ngeh kalau kita sudah memasuki kejamnya real world. Dimana masalah pekerjaan, karir, dan percintaan menjadi galau-galaunya dan sekali lagi kita ditemukan pada cabang-cabang pertanyaan (sok) filosofis dalam hidup. Misal: habis lulus kuliah eike ngapain ya? Kok kerjaan ogut gini-gini aja? Apa eike sudah siap untuk nikah? Kok duit tabungan seret ya? Traveling dulu apa nikah dulu ya? Dan pertanyaan-pertanyaan esensial (dan kurang esensial) lainnya yang mempengaruhi pola pikir untuk masa depan.

Common symptoms of a quarter-life crisis are often feelings of being "lost, scared, lonely or confused" about what steps to take in early adulthood. Studies have shown that unemployment and choosing a career path is a major cause for young adults to undergo stress or anxiety. Early stages of one living on their own for the first time and learning to cope without parental help can also induce feelings of isolation and loneliness. Re-evaluation of one's close personal relationships can also be a factor, with sufferers feeling they have outgrown their partner or believing others may be more suitable for them.

Recently, millennials are sometimes referred to as the Boomerang Generation or Peter Pan Generation, because of the members' perceived penchant for delaying some rites of passage into adulthood for longer periods than previous generations. These labels were also a reference to a trend toward members returning home after college and/or living with their parents for longer periods than previous generations.These tendencies might also be partly explained by changes in external social factors rather than characteristics intrinsic to millennials (e.g., higher levels of student loan debt in the US among millennials when compared to earlier generations can make it more difficult for young adults to achieve traditional markers of independence such as marriage, home ownership or investing). --source

So, without any further due, inilah list buku yang menurut saya wajib baca sebelum usia kamu 25 tahun. Don’t expect too much ya, karena list bacaan saya yang masih sederhana-sederhana aja. Hahahaha!

1. Tuesdays With Morrie (dan buku Mitch Albom lainnya)


Buku terbitan tahun 1997 ini ditulis berdasarkan kisah nyata penulis dengan mantan dosennnya, Morrie Schwartz. Albom kembali bertemu Morrie setelah ia menonton tayangan televisi dimana Morrie menjadi bintang tamunya. Sejak itu Albom rutin mengunjungi Morrie (yang ternyata mengidap penyakit syaraf Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)) setiap hari Selasa untuk kembali mendapatkan ‘kuliah’ tentang hidup dan maknanya.

Saya baca buku ini di tahun 2013 (22 tahun). Yang saya suka dari buku ini adalah petuah-petuah Morrie yang bener-bener bikin makjleb. Banyak kisah hidup Morrie yang pas untuk direfleksikan pada kehidupan kita sendiri. Beberapa pertanyaan sederhana dari Morrie tak hanya membuat Albom, tapi juga kita sebagai pembaca, berpikir ulang tentang apa yang hidup sudah berikan kepada kita dan bagaimana kita menyikapinya. Siap-siap aja menjawab pertanyaan-pertanyaan Morrie kepada Albom ketika baca buku ini.

“We've got a sort of brainwashing going on in our country, Morrie sighed. Do you know how they brainwash people? They repeat something over and over. And that's what we do in this country. Owning things is good. More money is good. More property is good. More commercialism is good. More is good. More is good. We repeat it--and have it repeated to us--over and over until nobody bothers to even think otherwise. The average person is so fogged up by all of this, he has no perspective on what's really important anymore.
Wherever I went in my life, I met people wanting to gobble up something new. Gobble up a new car. Gobble up a new piece of property. Gobble up the latest toy. And then they wanted to tell you about it. 'Guess what I got? Guess what I got?'
You know how I interpreted that? These were people so hungry for love that they were accepting substitutes. They were embracing material things and expecting a sort of hug back. But it never works. You can't substitute material things for love or for gentleness or for tenderness or for a sense of comradeship.

Money is not a substitute for tenderness, and power is not a substitute for tenderness. I can tell you, as I'm sitting here dying, when you most need it, neither money nor power will give you the feeling you're looking for, no matter how much of them you have.”
― Mitch Albom, Tuesdays with Morrie

2. Rectoverso (dan buku Dee lainnya!)


Of course akan ada bukunya Dee di list saya! My lifetime Indonesian favourite author, Dee, dengan karya omnibus terbaiknya (menurut saya): Rectoverso.

Yang galau karena cinta, mari merapat. 11 cerita apik dari Dee yang sebagian besarnya bertemakan cinta akan mengaduk akal dan perasaan kamu sekaligus. Pemilihan diksi, cerita sederhana tapi kaya akan makna, dan perumpamaan yang diluar akal menjadi ciri khas Dee di setiap karyanya, terutama dalam buku ini.

Rectoverso adalah buku kedua Dee yang saya baca di pertengahan tahun 2010 lalu (gils udah 8 tahun aja). Intinya waktu lagi galau-galaunya soal percintaan lah *tssah. Lalu dapat jalan keluar dari kegalauan cintanya mbak diaz? YA NGGAK LAH, dulu, iya dulu, galau is my middle name. And this book help me a lot through the healing process. Waktu itu usia saya masih 19 tahun, dan saya merasa tepat sekali membaca buku ini di usia 19 dimana kegalauan luar biasa menyertai dan menghantui saya waktu itu. Tapi nggak menutup kemungkinan buat kamu dengan usia berapapun membaca kisah-kisah di buku ini. Oh ya, Rectoverso juga menginspirasi tema tulisan saya, beberapa ada yang diunggah di blog dan beberapa ada yang hilang entah kemana. Dan, karena satu kesatuan dengan albumnya, setelah melahap habis buku ini silakan dengarkan lagunya untuk sensasi galau yang lebih dalam lagee~

Baca juga: Rectoverso
(dikomen langsung sama Dee, mau loncat ke langit ke-7 rasanya!)

“Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tak sanggup saya miliki.”
― Dee, Rectoverso

3. Entrok (Dan buku Okky Madasari lainnya)


86 adalah novel Mba Okky (sok kenal banget pake Mba segala, hehehe, gak papa ya siapa tau suatu hari ketemu lalu kenalan ^^) yang pertama kali saya baca. Tapi entah kemana rimbanya sekarang jadi nggak ada dalam foto (cry bombay, novel Kerumunan Terakhir juga entah dimana huhu). Tapi diantara novel-novel Mba Okky yang sudah saya baca, saya suka Entrok. Menurut saya setiap perempuan wajib baca karya Okky Madasari, apalagi Entrok. Dengan nuansa feminisme dibalut konflik batin, politik, dan agama, ditunjang suasana yang sederhana, Entrok mampu membahas tak hanya satu, tapi banyak keresahan yang kerap dialami perempuan lintas generasi. Bingung? Langsung aja baca bukunya karena benar-benar ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami. Anti njelimet-njelimet club deh! Masuk daftar buku sekali-baca-langsung-selesai!

Saya membaca buku ini sekitar tahun 2013 (22 tahun), saat awal-awal merintis karir sebagai jurnalis (ciee). It helps me a lot dalam dunia perisetan apalagi kalau lagi bikin liputan yang berbau perempuan. Semacam dapat sudut pandang baru dalam melihat hidup dari kacamata perempuan gitu (padahal saya juga perempuan ya). Yah, walaupun beberapa hasil risetannya mental karena sulit diinterpretasikan dalam bentuk layar, tapi cerita-cerita dalam novel ini benar-benar memberikan sudut pandang baru dalam benak saya tentang gerakan perempuan, efek domino politik, dan tentunya, feminisme.

“Ealah.. Nduk, sekolah kok malah membuatmu tidak menjadi manusia.”
― Okky Madasari, Entrok

4. Test Pack


Yang mau menikah mari merapat. Buku terbitan tahun 2005 ini wajib hukumnya kelen dan pasangan kelen baca sebelum menikah. Saya sendiri memaksa D untuk baca sebelum kita nikah. Ceritanya yang ringan dan mengalir tentang dinamika hidup setelah menikah menghasilkan beberapa pertanyaan sederhana yang jawabannya, luar biasa sulit diucapkan: menikah itu untuk hidup bersama atau mempunyai keturunan? Sanggupkah kamu menerima kekurangan pasanganmu?

Saya baca novel ini di pertengahan tahun 2011 (20 tahun). Termasuk novel yang sekali baca langsung selesai saking seru dan mengalirnya. KOMITMEN merupakan tema besar novel ini yang pasti membuat kita bertanya-tanya, apa saya sudah punya cukup komitmen untuk bersama? Nah lo, selamat memasuki dunia galau :D By the way, saran saya jangan nonton filmnya dulu sebelum baca novelnya, atau kalau yang udah terlanjur nonton, yuk baca novelnya!

Baca juga: Test Pack

“Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.
Will you still love them, then?
That’s why you need commitment.
Don’t love someone because of what/how/who they are.
From now on, start loving someone, because you want to.” 

― Ninit Yunita, Test Pack
5. Orang-Orang Bloomington


Yang suka kepo, mari baca buku ini. Menggunakan sudut pandang orang pertama, tokoh utama dalam cerita-cerita ini sangat detail mendeskripsikan keadaan sekitarnya. Ketujuh cerpen dalam buku setebal 296 halaman ini juga mampu membuat pembacanya kesal sendiri. Om Budi Dharma, penulisnya, sangat bisa mengaduk-aduk emosi pembaca. Setting cerita di kota metropolis yang menonjolkan sisi individualis dan keegoisan tokoh-tokohnya mengingatkan pembaca pada realitas persaingan dan interaksi di kota-kota besar. Seperti yang tercermin di salah satu cerpen favorit saya, Keluarga M.

"Yang merisaukan saya adalah setiap kali saya melihat wajah saya, saya merasakan bahwa semua yang saya kerjakan tidak pernah selesai, seolah saya ditakdirkan selalu sibuk, tapi tidak mempunyai arah." ('Charles Lebourne', hlm. 242)
― Budi Darma, Orang-Orang Bloomington

Saya baca buku ini di tahun 2016 (25 tahun) setelah mborong beberapa buku lainnya di IIBF. Trus saya kesal sendiri kenapa nggak baca buku ini dari dulu-dulu.


Well, itu tadi daftar 5 buku wajib baca sebelum usia 25 tahun versi saya. Ada yang mau menambahkan? :)