Beberapa waktu lalu, lupa kapan saking lamanya, saya melihat liputan salah satu acara kuliner di youtube. Kebetulan yang saya lihat itu pas episode kuliner Jogja dan salah satunya meliput Warung Kopi Klotok yang sedang ngehits banget dan terkenal dengan telur crispynya.

Konsep Warung Kopi Klotok juga unik banget. Mereka menawarkan menu-menu rumahan dengan suasana pedesaan dan view persawahan gitu. Rupanya belakangan ini konsep resto "ndeso" ini emang lagi hype banget di Jogja. Tapi tetep sih konon katanya masih belum ada yang ngalahin ketenarannya Warung Kopi Klotok.

Namapun resto terkenal di kota wisata yha, jadi saya baca-baca pada bilang kalau tempatnya selalu ramai dan ngantri bahkan saat bukan jam makan mau pun di hari kerja. Udah gitu lokasinya jauh dari kota, di Kaliurang KM banyak. Sedangkan waktu saya di Jogja kemarin kan terbatas ya karena suami harus kerja.

Nah pas banget saya nemu Cengkir Heritage Resto and Coffee lewat akunnya @Depepedia (yang mau ke Jogja, coba deh kepoin akun itu). Jadi mas David, pemilik akun Depepedia, bilang kalau konsep Cengkir ini mirip sama Warung Kopi Klotok tapi pelayanannya lebih bagus dan lebih dekat dari kota. Jadilah saya pun memutuskan untuk ke Cengkir Heritage Resto and Coffee.


Kita sampai di Jogja hari minggu, 25 November 2019, sekitar jam 1 siang. Dari stasiun taruh koper dulu di hotel kemudian langsung cus ke Cengkir yang berjarak sekitar 20 menit dari hotel, dari stasiun Tugu juga hampir sama sekitar 20 menitan.

Lokasi Cengkir ini ada di jalan Sumberan II No 4, Ngaglik, Kabupaten Sleman. Rada masuk gang kampung yang bakal mepet banget kalau papasan sesama mobil. Untungnya dari jalan raya ke restonya gak terlalu jauh tapi bener-bener gak kelihatan banget kalau di ujung gang ada resto yang besar dan ramai pengunjung.

Kali itu pengunjung Cengkir lumayan ramai tapi masih banyak meja kosong karena tempatnya luas. Ada sekitar dua atau tiga bangunan dengan atap Joglo yang terbuat dari kekayuan yang dipakai untuk pengunjung. Ada juga yang di luar bangunan. Parkirannya juga luas, bisa muat beberapa bus.


Bangunan paling kanan dekat pintu masuk adalah bangunan utama resto tempat kasir dan pengambilan menu. Sistemnya kita pilih meja, terus nanti disamperin sama pelayannya yang akan membawakan menu, kemudian kita pesan menu selain menu utama seperti pesan minum atau cemilan. Setelah itu baru deh ambil sendiri menu utamanya alias prasmanan. Setelah selesai mengambil makanan, nanti pelayan akan mencatat berapa yang harus kita bayar.

Menu utamanya bener-bener menu rumahan banget, ada tumis genjer, sayur jantung pisang, urap-urap, sayur sop, mangut lele, garang asem, telur bali, ayam goreng, sate jamur, dan tentunya telur dadar crispy yang hits banget itu. Crispynya bukan karena dikasih tepung tapi digoreng dengan teknik khusus gitu jadi menghasilkan telur dadar yang kriuk.


Yang asik dari Cengkir ini adalah saat ambil nasinya, langsung dari dapur yang tradisional yang masih pakai tungku api dari tanah dan masaknya pakai kayu. Ditambah tembok dapur yang berwarna hitam karena asap jadi makin menambah kesan ndesonya. Ohya, selain nasi putih, di sini juga menyediakan nasi merah yang juga bisa diambil sendiri.


Kayaknya saat ke Cengkir, kita pada salah paham soal aturan ambil makanannya deh. Jadi di lembar menu ditulis kalau paket nasi plus sayur itu adalah 12 ribu. Mayan mahal yaa? Tapiii kayaknya itu untuk semua jenis sayur, terserah mau ambil berapa menu sayuran tetep dihitung 12 ribu. Lha kita kira itu untuk harga nasi plus satu jenis sayur, hikz hikz rugi deh. Salah sendiri gak nanyak. Ini juga ngehnya karena lihat postingan teman-teman blogger yang mampir di Warung Kopi Klotok karena di sana aturannya ambil macam-macam sayur, dihitung satu harga.

Harga menu di Cengkir Heritage Resto and Coffee

Ya udahlah ya, masa lalu biarlah masa lalu meskipun tetep kepikiran juga karena menu sayurannya yang malah pada bikin saya tertarik daripada lauknya *anaknya susah move on, heuheu* Waktu itu saya mengambil sayur genjer, telur crispy, dan sate jamur. Suami juga sama, cuma beda di sayurnya aja. Ini pertama kali saya makan sayur genjer. Ternyata rasanya kayak batang sawi atau pokcoy tapi gak ada sepet-sepet ala sawi. Telur crispy dan sate jamurnya enak aja, gak yang banget-banget gitu sih.

Selain menu utama, kita juga pesan pisang goreng buat cemilan. Beda sama lauk pauknya yang udah dingin, snack di sini disajikan masih panas karena baru digoreng saat ada pesanan. Pisang gorengnya enak, manisnya pas.


Untuk minumannya, di sini menyediakan beberapa minuman tradisional dan aneka kopi yang diracik dengan teknik manual brewing (kayaknya, soalnya cuma lihat sekilas). Agak kecewa karena di sini gak ada menu kopi klotoknya seperti di Warung Kopi Klotok jadi saya pesan es beras kencur, sedangkan suami pesan kopi joglo. Es beras kencurnya enak tapi gelasnya kurang gede. Sedangkan kopi joglonya enak banget. Salah satu kopi arabika terenak yang pernah saya icip selain di Bondowoso. Eh beneran kopi arabika bukan ya? Kok saya lupa, wakaka. Pokoknya rasanya enak sampai jatah suami saya abisin semua, wkwk.


Kesimpulannya, meskipun dari segi rasa makanannya biasa aja, gak yang wow amazing enak bianget sumpah gitu tapi suasana di Cengkir Heritage Resto and Coffee ini asik banget. Konsep tradisional jawanya kental dari bangunan, dapur, sampai ke fasilitas seperti toilet dan mushala. Parkirannya luas, meja untuk pengunjung banyak, dan yang paling top itu pelayanannya. Pesanan datang dalam waktu cepat meski pengunjung ramai, pelayannya sabar, sopan, dan tas tes. Kemarin kita tuh lama banget pas milih menu, dan masnya menunggu dengan wajah santai plus sabar.


Buat yang gak punya waktu banyak atau males jauh-jauh ke Kaliurang atas, Cengkir Heritage Resto and Coffee ini bisa jadi pilihan jika ingin makan-makanan "ndeso" di Jogja.