Sebenarnya, mencabut gigi susu bisa dilakukan di rumah tanpa perlu ke dokter gigi, karena gigi susu yang sudah sangat goyang akan lepas dengan sendirinya. Asalkan ketika melakukan pencabutan gigi menggunakan alat seperti kain kasa steril dan bersih. 

Sewaktu kecil. Saya terbiasa mencabut gigi sendiri. Awalnya memang dibantu oleh bapak. Berikutnya saya berani mencabut gigi sendiri. Gigi yang sudah goyang, tinggal sering-sering aja digoyang. Kira-kira sudah sangat goyang, saya akan melepasnya dengan menggunakan benang. Bangga, gembira dan sangat antusias tentunya. Karena memiliki keberanian dan mampu melawan rasa takut. Gigi yang sudah tanggal biasanya dipamerkan ke bapak. Jika bapak tersenyum, artinya beliau bangga atas keberanian dan hasil kerja keras saya. 

Maunya saya, pengalaman itu terulang pada anak saya. Tapi usaha merayu dan membujuk anak berakhir gagal total. Ya sudahlah. Akhirnya berangkat juga ke dokter gigi. 

Pengalaman sebelumnya, anak sempet tidak kooperatif dengan cara merengek dan tidak mau membuka mulut. Sempet juga 'tanduk' mau keluar, karena dua kali berbaring di tempat eksekusi, anak merajuk. Apa boleh buat, menunggu sampai anak tenang dulu. Usaha yang ketiga, akhirnya berhasil. Meskipun aksi tutup mulut sempat dilakukannya. 

Gigi susu akan bergantian goyang. Tidak mungkin hanya sekali atau dua kali mengalami pencabutan gigi. Pastinya berkali-kali. 

Kesekian kalinya. Momen cabut gigi kali ini, saya jauh lebih tenang. Memang betul, kalau saya tenang, anak juga terlihat tenang. Semenjak dari rumah, saya wanti-wanti sekali agar anak tenang dan mau membuka mulut. Dari rumah anak sih oke-oke aja jawabannya. 

Nah, pas sudah di dalam ruangan dokter. Kebetulan dokternya berbeda dari yang sebelumnya, anak mulai krengah krengih alias merengek. Eh, tiba-tiba pak dokter bilang, "Ibunya ikut berbaring ya, gak apa-apa kan ditindih anaknya?" Beberapa detik saya tertegun. Karena agak bingung saya balik bertanya, "Maksudnya, Dok?" 

"Ibu rebahan dulu, nanti anaknya di atas ibu. Peluk anaknya."

Ooow, saya hampir tidak percaya mendengar trik dari dokter tersebut. Asli, baper. Terus terang saya membayangkan wanita yang mau melahirkan, suaminya meluk dari belakang. Dukungan psikologis memang ajib, membantu meringankan rasa takut dan sakit. 

Tidak berapa lama, anak saya sudah berada di atas tubuh saya. Saya peluk badannya. Tangannya saya elus-elus. Walaupun masih terdengar rengekan lirih. Akhirnya, pencabutan gigi kali ini berjalan lancar. 

Wih, trik yang bikin baper dan sungguh ajib. Seandainya setiap dokter gigi menganjurkan cara seperti itu, ketika anak takut saat dicabut gigi. Kemungkinan akan meminimalisir kejadian rengekan dan aksi tutup mulut.

Taraaa, akhirnya si kakak ompong. Semoga gigi barunya bagus dan tahan awet. (*)