Saya ingat sekali,  bagaimana gantengnya tetangga saya yang bernama Rudi (bukan nama sebenarnya). Wajah tampan yang jarang dijumpai di kampung kami.  Hidung mancung, kulit putih, cukup menjadi alasan Rudi menjadi idola. Bahkan saya dulu sering mencuri pandang ke arahnya.  Sayang yang dicuri pandang cuek saja.. 😑

Waktu berlalu demikian cepat. Selepas saya lulus SMP, kira-kira tiga tahun kemudian secara tidak sengaja saya bertemu lagi dengan Rudi di acara kampung.  Saya pangling sekali. Dia terlihat kurus dan matanya cekung. Bibirnya terlihat hitam, mungkin karena banyak menghisap rokok. Tidak cuma itu saja, bicaranya juga terlihat ngelantur. Informasi yang saya dapat dari seorang kawan,  Rudi sering mengkonsumsi pil koplo. Pil yang belakangan saya tahu termasuk dalam deretan obat-obatan psikotropika.

Perubahan wajah akibat penyalahgunaan narkoba (doc BNNK Sleman) 
Kata teman yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah Rudi, dia menjadi seperti itu semenjak ibunya meninggal dunia. Rudi menjadi kehilangan pegangan, dan salah memilih pergaulan. 

Ingatan itu terbawa sampai sekarang,  betapa sebuah pil kecil dapat mengubah orang secara fisik dan mental. Rudi yang dulunya ganteng, pintar dan menjadi idola,  berubah menjadi cowok yang kurus, tidak terurus, dan tidak nyambung kalau diajak ngobrol. Akibatnya orang menjadi takut dan malas untuk menyapa, karena sorot matanya terlihat berbeda. 

Pendapat yang menyatakan narkoba dan psikotropika dapat memecahkan masalah itu hanya mitos semata.  Yang benar justru narkoba dan psikotropika akan menambah masalah yang imbasnya tidak hanya ke pengguna saja tapi juga ke keluarga dan lingkungannya. 

Efek kecanduan adalah pemicunya.  Demi mendapatkan barang yang diinginkannya, pemakai biasanya melakukan berbagai cara.  Termasuk melakukan tindakan yang melawan hukum seperti mencuri,  atau merampok. Dan ngerinya lagi dari pengguna dia bisa menjadi pengedar yang akan mencari mangsa anak muda di sekitarnya untuk menjadi pengguna juga.  

Untung untuk kasus Rudi dia segera tertangani. Keluarga kemudian membawanya ke sebuah pesantren untuk direhabilitasi. Dan kabar terakhir dia sekarang turut menjadi pengajar di sana.  

Saat ini saya sudah menjadi ibu,  tentunya kekhawatiran tentang bahaya penyalahgunaan narkotika dan psikotropika semakin besar.  Saya takut bila lengah,  anak saya ikut terkena juga.  

Apalagi sekarang pengedar semakin lihai menyamarkan barang-barang haram itu ke dalam makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi dan disukai anak-anak. Pernah ada temuan dari aparat adanya brownies dan permen yang disinyalir mengandung zat berbahaya tersebut.  Memang target para pengedar adalah anak-anak muda yang nantinya menjadi penerus bangsa.

Berbagai kemasan narkoba
(doc. BNNK Sleman) 
Data yang ada menunjukkan usia paling muda yang terpapar zat berbahaya ini adalah SD sedang paling tua berumur 59 tahun. Ini mengindikasikan penyalahgunaan narkoba dan psikotropika bisa menyasar siapa saja.  Sehingga penting bagi kita untuk tahu bagaimana cara pencegahannya. 

Forum Komunikasi Anti Narkoba Bagi Netizen bersama BNN
Beruntung sekali, pada hari Rabu 5 Desember 2018, BNNK Sleman menyelenggarakan Forum Komunikasi Anti Narkoba Bagi Netizen, bertempat di Innside Hotel Jogja. Dan saya berkesempatan mengikutinya. 

Acara tersebut bertujuan untuk mengajak netizen khususnya blogger untuk turut membantu menyebarluaskan informasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba sebagai salah satu langkah preventif menekan angka pengguna narkoba ilegal di masyarakat khususnya Jogja.

Para peserta diskusi
(doc BNNK Sleman)
Acara dihadiri kurang lebih 30 blogger. Nara sumber dalam acara ini adalah Kepala BNNK Sleman Ibu AKBP Siti Alfiah,  S.Psi. S.H, M.H. Informasi yang beliau sampaikan cukup membuat miris juga.

Ibu Siti Alfiah,  nara sumber diskusi
(doc. Pri) 
Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan kondisi dimana Indonesia berada dalam situasi darurat narkoba.  Hal tersebut ditunjukkan dengan beberapa fakta,  seperti :
  1. Bisnis narkoba menghasilkan uang yang besar.  
  2. Narkoba mudah masuk melalui jalur laut dan sungai-sungai. 
  3. Masih rendah minat penyalahguna untuk sembuh. 
  4. Tingginya angka coba pakai dan teratur pakai. 
  5. Maraknya peredaran narkoba di lapas,  bahkan bandar dapat menjalankan bisnisnya dari dalam lapas. 
  6. Peredaran sudah sampai ke desa-desa,  bahkan anak SD menjadi target sasaran. 
  7. Modus operandi peredaran yang berubah-berubah.  

Hal di atas diperparah dengan tingginya prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia.  Dimana berdasar data dari BNN tahun 2015, mencapai angka 2,2% atau sekitar 4 juta Jiwa dari total penduduk Indonesia. Sehingga menarik minat para bandar narkoba dan menjadi sasaran peredaran gelap narkoba.  

Apa itu Narkoba dan Mengapa Berbahaya
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat atau bahan berbahaya.  Termasuk di dalamnya psikotropika. 
Narkoba adalah bahan/zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan/psikologi (pikiran, perasaan dan perilaku) seseorang, serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi.

Penggolongan narkotika
(doc. BNNK Sleman) 
Sedangkan pengertian narkotika menurut Undang-undang No. 22 tahun 1997 : adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilang rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. 

Sebenarnya narkotika boleh digunakan sesuai dengan ketentuan,  diantaranya untuk pengobatan. Yang tidak diperbolehkan adalah penyalahgunaan narkotika.  

Yogyakarta, Rawan Peredaran Gelap Narkoba
Jogja sebagai kota pelajar menjadi daya tarik bagi bandar narkoba untuk menjadikannya sebagai target. Banyaknya anak muda yang tinggal di Jogja dengan segala problematikanya menjadi sasaran empuk bagi peredaran gelap narkoba. Oleh karena itu kita harus waspada.  Karena sesungguhnya ini tidak menjadi tugas BNN atau polisi saja,  tapi masyarakat juga turut berperan untuk mencegahnya.

Peta rawan narkoba di Jogja
(doc. BNNK Sleman) 
Berdasar data dari BNN,  di tahun 2008, prevalensi angka penyalahgunaan narkoba di Jogja menduduki peringkat kedua dengan angka 2.72%. Sedangkan di tahun 2017 mengalami perbaikan dan turun di peringkat 31 dengan angka prevalensi 1.19% dari jumlah total penduduk Jogja.  

Peran Masyarakat dalam Mencegah Penyalahgunaan Narkoba
Meskipun telah ada badan yang secara khusus ditunjuk untuk mengatasinya, namun kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus berperan mengatasi bahaya penyalahgunaan narkoba.  Diantaranya dengan mulai peduli dengan lingkungan di sekitar kita.

Peran masyarakat dalam menangkal
Penyalahgunaan Narkoba (doc. BNN) 
Bila ada hal-hal yang mencurigakan,  hendaknya kita segera melaporkan kepada yang berwenang.  

Karena disekitar kitapun banyak tanaman yang dapat memabukkan.  Seperti bunga kecubung,  putri malu dan lain-lain. Sedangkan yang baru saja hangat diberitakan adalah rebusan pembalut wanita.

Tanaman memabukkan (doc.BNNK Sleman) 
Memahami tanda-tanda penyalah guna narkotika juga penting kita ketahui. Sehingga kita bisa lebih waspada dan tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Tanda-tanda yang muncul pada pengguna narkoba
(doc. BNNK Sleman) 
Dengan keterlibatan masyarakat secara aktif,  Indonesia Bebas Narkoba bukanlah mimpi.  Yuk,  mulai ambil peran sesuai porsi...jangan biarkan narkoba merusak NKRI.

Salam...