PicsArt_12-07-01.13.08.jpg

Di suatu tempat jam berjalan pukul sembilan. Pria domba itu berdiri dan mengibaskan lengan bajunya beberapa kali untuk membetulkan kostum dombanya agar pas dengan bentuk tubuhnya. Sudah waktunya bagi kami untuk pergi. Dia melepaskan lilitan bola rantai dari pergelangan kakiku.

Kami keluar kamar dan berangkat menyusuri koridor gelap. Aku bertelanjang kaki karena meninggalkan sepatuku di dalam sel. Ibuku akan marah besar saat dia tahu aku telah meninggalkan sepatu itu di suatu tempat. Sepatu itu adalah sepatu kulit yang sangat bagus, dan ibuku memberikannya untukku sebagai hadiah ulang tahun. Tapi tetap saja benda itu tidak sepadan dengan suaranya yang mungkin akan membangunkan si pak tua.

Aku memikirkan sepatu itu selama kami berjalan menuju pintu besi besar. Pria domba yang memimpin jalan. Tinggiku sekitar setengah kepala lebih tinggi darinya, membuat kedua telinganya bergerak naik dan turun tepat di depan hidungku sepanjang waktu.

“Hei, Mr. Sheep Man,” aku berbisik kepadanya.

“Apa?” Dia balas berbisik.

“Seberapa baik pendengaran pak tua itu?”

“Malam ini adalah bulan baru, jadi dia akan tertidur lelap di kamarnya. Tapi dia sangat cerdik, seperti yang kau lihat. Jadi, lebih baik lupakan sepatumu. Sepatu itu hanyalah benda yang mudah ditemukan penggantinya, tapi kau tidak bisa menggantikan otak dan kehidupanmu.”

“Kamu benar tentang itu, Mr Sheepman.”

“Jika dia bangun dan datang mengejarku dengan pecut di tangannya, bisa tamat riwayatku. Aku sama sekali tidak ada gunanya bagimu kalau begitu. Saat pak tua itu mencambukku,aku merasa tidak berdaya — seperti aku ditakdirkan menjadi budaknya.”

“Apakah pecutnya memiliki semacam kekuatan khusus?”

“Kau sangat mengerti maksudku” kata pria domba itu. Dia berpikir sejenak. “Sepertinya hanya pecut yang biasa saja. Tetapi aku tidak tahu.”

Bagian 22

“Tapi ketika dia mulai memukulmu dengan benda itu, kamu merasa tidak berdaya, kan?”

“Bisa dibilang begitu. Jadi, lebih baik kau lupakan sepatu itu. ”

“Aku akan menyingkirkannya dari pikiranku,” kataku.

Kami berjalan sedikit lebih jauh menuruni koridor tanpa berbicara.

“Hei,” kata pria domba itu.

“Ada apa?”

“Kamu sudah melupakan sepatu itu, bukan?”

“Ya, aku sudah melupakannya,” jawabku. Namun berkat pertanyaannya, sepatu yang berhasil kulupakan berjalan kembali memasuki pikiranku.

Kami menuruni tangga yang terasa dingin dan licin, tepi batu di bagian depan anak tangga terdapat bekas tapak kaki akibat sering dipijak. Seringkali aku merasa menginjak sesuatu seperti serangga. Saat kau berjalan tanpa alas kaki di tempat asing yang gelap gulita, rasanya sangat tidak menyenangkan. Terkadang benda itu terasa lembut dan licin, terkadang sedikit kernyau. Sial, aku mulai berpikir, seharusnya kupakai saja sepatuku tadi.

Akhirnya kami mencapai puncak anak tangga dan tiba di pintu besi. Pria domba itu menarik cincin besar dari sakunya.

“Kita harus melakukan ini dengan tenang. Jangan sampai membangunkan pak tua itu. ”

“Benar,” kataku.

Dia memasukkan kunci dan memutarnya ke kiri. Ada bunyi “cengklung” yang keras, dan

pintu terbuka dengan deritan panjang. Tidak ada ketenangan sama sekali.

“Mulai dari sini ada labirin yang benar-benar rumit, ”kataku.

“Kau benar,” kata pria domba itu.

“Ada labirin, aku harus memikirkannya sekarang. Aku tidak dapat mengingatnya dengan baik, tetapi kita akan mencoba mencaritahu. ”

Mendengar perkataannya membuatku sedikit gelisah. Hal yang rumit tentang labirin adalah kau tidak akan tahu apakah jalan yang dilalui itu benar atau salah sebelum menyelesaikannya sampai akhir. Jika ternyata kau salah, biasanya sudah terlambat untuk kembali dan memulainya dari awal lagi. Itulah kerumitan dari labirin.

BAGIAN 23

Seperti yang sudah kuduga, pria domba itu harus mencoba sejumlah rute dan mundur beberapa kali. Namun aku bisa merasakan, entah bagaimana, bahwa kami sudah semakin dekat dan lebih dekat lagi menuju jalan keluar. Terkadang dia berhenti untuk mencolekkan jari-jarinya di sepanjang dinding dan menjilatnya dengan wajah yang penuh konsentrasi. Atau berjongkok untuk menempelkan daun telinganya dengan erat lantai. Atau bercakap dalam nada rendah dengan laba-laba yang membangun jaring mereka di sepanjang langit-langit. Berhadapan dengan persimpangan jalan, dia akan berputar di tempat, seperti angin puyuh, sebelum memilih jalan mana yang akan dia ambil. Seperti itulah cara pria domba itu mengingat rute melewati labirin. Cara yang jauh sekali dari kebanyakan orang saat berusaha mengingat sesuatu.

Sementara itu, waktu terus berjalan. Fajar semakin dekat, dan hitam pekatnya malam bulan baru sepertinya memudar sedikit demi sedikit.

Pria domba dan aku bergegas. Kami tahu bahwa kami harus mencapai pintu terakhir sebelum mentari menyingsing. Kalau tidak, pak tua itu akan terbangun dan menemukan kami telah menghilang lantas mempersiapkan pengejaran.

“Apakah menurutmu kita dapat melewatinya?” Aku bertanya.

“Ya, pikiran yang sangat bagus. Keluar dari sini, ada sepotong kue. ”

Sudah jelas bahwa pria domba itu mengetahui jalan sisanya. Kami berlari menuruni koridor, melewati belokan pertama, dan belokan berikutnya, tanpa jeda. Akhirnya, koridor terakhir terbentang sangat dekat. Kami dapat melihat sebuah pintu, dan berkas cahaya menembus retakannya.

“Lihat, sudah kubilang, kan,” kata pria domba itu dengan bangga. “Aku sudah berusaha mengingat semuanya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah melewati pintu ini. Maka kau dan aku akan bebas. ”

Dia membuka pintu dan tampaklah pak tua, menunggu kami.

BAGIAN 24

Ini adalah ruangan yang sama saat pertama kali aku bertemu dengan pak tua. Ruang 107, terletak di ruang bawah tanah perpustakaan. Dia sedang duduk di sana, di depan mejanya, matanya tertuju padaku.

Di sebelah pak tua itu duduk seekor anjing hitam besar. Seekor anjing dengan mata hijau dan kalung bertatahkan permata.

Anjing itu memiliki kaki yang besar, dan enam cakar pada masing-masing kakinya. Telinganya bercabang di bagian ujungnya, dan hidungnya berwarna coklat kemerahan seperti warna kulit yang terbakar sinar matahari. Dia adalah anjing yang sama yang telah menggigitku bertahun-tahun yang lalu. Tubuh jalak, hewan peliharaanku, penuh dengan darah terapit diantara dua taring anjing itu.

Aku mengeluarkan tangisan kecil dan mulai rubuh ke belakang, tetapi si pria domba menangkap tubuhku.

“Kami sudah menunggu dan menunggu,” kata pak tua itu. “Apa yang membuatmu begitu lama? Heh? ”

“Aku bisa menjelaskan semuanya, Tuan,” kata si pria domba.

“Diam, tolol,” suara pak tua menggelegar. Dia menarik pecut dari saku belakangnya dan menyabetkannya di meja tulis. Anjing hitam menajamkan telinganya, dan pria domba terdiam. Ruangan semakin terasa mencekam.

“Jadi, sekarang, ” kata pak tua itu. “Dengan cara apa aku harus membuang kalian berdua? ”

“Jadi Anda tidak tertidur, saat bulan baru dan semuanya? ” aku bertanya dengan malu-malu.

“Kau anak yang kurang ajar, bukankah demikian,” pak tua itu mencibir. “Aku tidak tahu di mana kau mendapatkan informasi itu, tetapi aku tidak demikian mudah untuk ditipu. Aku dapat membaca kalian berdua semudah mengupas semangka di siang hari bolong.”

Ruangan menjadi gelap di depan mataku. Kecerobohanku telah menghancurkan segalanya — bahkan jalak, hewan kesayanganku telah menjadi korban.

Aku telah kehilangan sepatu baruku, dan aku tidak akan pernah melihat ibuku lagi.

“Dan kau,” kata pak tua itu, mengarahkan pecutnya lurus ke arah pria domba itu. “Aku akan mengiris-iris dagingmu dengan baik dan sempurna sebagai makanan lipan. ”

Pria domba itu bersembunyi di belakangku, gemetar dari kepala sampai ke kaki.

BAGIAN 25

“Dan untukmu, teman mudaku,” kata pak tua, menunjuk ke arahku, “Aku akan menjadikanmu sebagai makanan anjing ini. Dia akan mengunyahmu hidup-hidup. Ini akan menjadi kematian yang lambat. Kau akan mati dengan menjerit. Tapi otakmu tetap jadi milikku. Otak itu tidak akan terasa lembut seperti yang seharusnya jika kau telah menyelesaikan buku-buku itu, tetapi aku tidak pemilih. Aku akan menyedot setiap tetes terakhir. ”

Pak tua itu memamerkan giginya selayaknya iblis yang tersenyum. Mata hijau anjing itu berkilauan penuh kegembiraan.

Saat itulah aku menyadari bahwa jalak peliharaanku semakin membesar di antara gigi-gigi anjing itu.

Saat ukurannya menjadi sebesar ayam, jalak itu memaksa rahang anjing hitam untuk terbuka seperti dongkrak mobil. Anjing itu mencoba melolong, namun sudah terlambat.

Mulut anjing hitam robek — ada suara gemertak tulang yang hancur. Pak tua dengan panik melecut jalak dengan pecutan miliknya. Tapi tubuh burung itu terus membengkak hingga seukuran banteng, mendesak pak tua dengan cepat pada dinding. Ruangan yang kecil dipenuhi dengan kepakan suara sayap yang begitu kencang.

Larilah. Sekarang kesempatanmu, kata burung jalak. Suara itu adalah milik sang gadis jelita.

“Tapi bagaimana denganmu?” Aku bertanya pada burung gagak – yang sebenarnya adalah gadis jelita.

Jangan mengkhawatirkanku. Aku akan menyusul nanti. Cepat, sekarang. Kalau kau tidak pergi sekarang juga, kau akan lenyap untuk selamanya – kata gadis jelita dalam tubuh burung jalak.

Aku melakukan apa yang katakannya. Meraih tangan pria domba, aku berlari dari ruangan itu.Aku sama sekali tidak menoleh ke belakang.

Saat itu pagi hari, dan perpustakaan tengah

sepi. Kami berlari menaiki tangga dan menyebrangi ruang utama menuju ruang baca,membuka paksa jendela, dan melompat keluar. Lantas kami berlari secepat yang kami bisa menuju taman, tempat kami menjatuhkan diri di halaman. Kami berbaring di sana, terengah-engah dengan mata tertutup. Aku tidak membuka mata untuk beberapa lama.

Saat aku membuka mata, pria domba itu telah menghilang. Aku berdiri dan melihat sekeliling.Aku memanggil namanya berulang kali hingga menguras isi paru-paruku. Tapi tetap tidak ada jawaban. Matahari pagi memberkaskan sinar pertamanya pada daun di pepohonan. Pria domba itu menghilang tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadaku. Seperti embun pagi yang telah menguap.

BAGIAN 26

Ibuku menyiapkan sarapan hangat di meja dan sedang menungguku ketika aku sampai di rumah. Dia tidak menanyakan sesuatu kepadaku. Tidak bertanya tentang alasan mengapa aku tidak segera pulang selepas sekolah, atau di mana aku menghabiskan waktu selama tiga malam, atau mengapa aku tidak bersepatu — tidak satupum pertanyaan atau keluhan. Sikapnya sungguh tidak seperti biasanya.

Jalak peliharaanku menghilang. Yang tersisa hanyalah sebuah kandang kosong. Aku tidak menanyakan apa terjadi. Sepertinya akan lebih baik jika aku tidak membicarakannya sama sekali. Sosok ibuku tampaknya telah berubah menjadi lebih muram, seolah bayang-bayang sedang berkumpul di sekitarnya. Tapi mungkin itu tidak lebih dari anggapanku saja.

Setelah itu, aku tidak pernah mengunjungi perpustakaan kota lagi. Aku tahu seharusnya aku menemui pihak yang bertanggungjawab di tempat itu untuk menjelaskan apa yang terjadi kepadaku, dan untuk memberitahunya tentang sel yang tersembunyi jauh di ruang bawah tanah. Kalau tidak, anak yang lain mungkin harus menanggung akibat yang mengerikan seperti kejadian yang kualami. Tetapi, hanya dengan melihat gedung perpustakaan saat senja sudah cukup untuk menghentikan langkahku untuk menghampirinya.

Terkadang aku masih memikirkan sepatu kulit baru yang kutinggalkan di dalam ruang bawah tanah. Sepatu itu juga membuatku terkenang akan manusia domba dan gadis jelita yang tidak dapat bersuara. Apakah mereka benar-benar nyata? Berapa banyak dari yang kuingat adalah hal yang benar-benar terjadi? Sejujurnya, aku tidak tahu pasti. Yang kutahu pasti adalah bahwa aku kehilangan sepatu dan jalak peliharaanku.

Ibuku meninggal dunia hari Selasa lalu. Dia menderita penyakit yang misterius, dan pagi itu dia telah pergi. Dimakamkan dengan sederhana, dan sekarang aku benar-benar sendirian. Tanpa ibu. Tanpa burung jalak peliharaanku. Tanpa pria domba. Tanpa gadis jelita. Aku berbaring sendiri dalam gelap di jam dua pagi dan memikirkan tentang sel di perpustakaan ruang bawah tanah. Tentang bagaimana rasanya sendirian, dalam kegelapan yang pekat di sekelilingku. Kegelapan yang hitam pekat seperti malam bulan baru.

Selesai.

Iklan