3ac3e840ee8589d122c3acbc39953fa6.jpg

Aku sedang membaca di meja ketika mendengar suara kunci berputar, dan pria domba masuk dengan nampan berisi donat dan limun.

“Ini adalah donat yang kujanjikan padamu sebelumnya, baru dari penggorengan.”

“Terima kasih, Mr Sheepman.”

Aku menutup buku dan cepat menggigit salah satu donat. Rasanya benar-benar lezat, renyah di luar, di bagian dalam begitu lembut meleleh di mulutku.

“Ini donat terenak yang pernah kumakan, ”kataku.

“Aku baru saja selesai menggorengnya,” kata si pria domba. “Kau tahu, aku membuat donat itu seadanya.”

“Aku yakin jika kamu membuka toko donat pasti akan sangat terkenal.”

“Ya, aku sering memikirkannya sendirian. Betapa kerennya toko itu nantinya. ”

“Aku tahu kamu bisa melakukannya.”

“Tapi siapa yang akan menyukaiku dan rela mengunjungi tokoku? Pakaianku lucu, dan juga gigiku ini. Aku tidak merawatnya dengan sangat baik.”

“Aku akan membantumu,” kataku. “Aku yang akan menjual donat, dan berbicara dengan pelanggan, dan menangani uang dan juga periklanan. Aku bahkan akan mencuci piring. Yang hanya perlu kamu lakukan adalah bekerja di belakang membuat donat. Aku juga akan mengajarimu bagaimana cara menyikat gigi. ”

“Itu akan sangat mengasyikkan,” kata pria domba itu.

BAGIAN 17

Ketika pria domba itu pergi, aku kembali membaca bukuku. Seperti sebelumnya, aku menjadi Ibn Armut Hasir, penulis The Diary of an Ottoman Tax collector: Aku berjalan-jalan di jalan Istanbul pada siang hari, mengumpulkan pajak, tetapi ketika malam datang, aku kembali ke rumah untuk memberi makan parkit peliharaanku. Sebuah bulan sabit tipis berwarna putih mengambang di langit malam. Aku dapat mendengar seseorang bermain flute di kejauhan. Setelah menyalakan dupa untuk kamarku, orang Afrika yang menjadi pelayanku bergerak, menangkap nyamuk dengan sesuatu yang mirip pemukul ping-pong.

Seorang gadis muda yang cantik, salah satu dari ketiga istriku, sedang menungguku di kamar tidur. Dialah yang melayani makan malamku setiap hari.

Hari ini bulan sabit, dia berkata kepadaku. Besok bulan baru, dan langitnya mungkin akan gelap.

“Kita harus memberi makan parkit,” kataku.

Bukankah kamu sudah memberi makan parkit beberapa waktu lalu? dia bertanya.

“Kamu benar, sudah kulakukan,” kataku sebagai Ibn Armut Hasir.

Tubuh sutra gadis itu berkilauan di dalam cahaya bulan sabit yang setipis pisau. Aku

terpesona. Rembulan yang bersinar, ulangnya. Bulan baru akan membentuk takdir kita.

“Itu akan sangat luar biasa,” kataku.

BAGIAN 18

Seperti lumba-lumba buta, malam di bulan baru diam-diam mendekat. Pak tua datang untuk memeriksaku malam itu. Dia senang menemukanku tenggelam dalam buku. Melihat betapa bahagianya dia membuatku merasa sedikit lebih terhibur. Tidak perduli seperti apa situasinya nanti, aku masih dapat merasakan kesenangan menyaksikan sukacita orang lain.

“Aku harus memberimu pujian,” dia berkata sambil menggaruk rahangnya.

“Kau sudah menyelesaikannya jauh lebih banyak dari yang kuperkirakan. Kau adalah anak laki-laki yang tangguh.”

“Terima kasih, Tuan,” jawabku. Aku sangat senang dipuji.

“Semakin cepat kau memasukkan buku-buku itu ke dalam memori, semakin cepat kau bisa pergi,” kata pak tua itu kepadaku. Dia mengangkat satu jari di udara.

“Mengerti?”

“Ya,” kataku.

“Apakah ada yang mengganggumu?”

“Ya,” kataku. “Bisakah Anda memberitahu saya jika ibu dan hewan peliharaan saya dalam keadaan baik-baik saja? Hal itu membuat saya sangat khawatir. ”

Pak tua itu mengerutkan kening. “Dunia mengitari orbitnya sendiri, ”katanya. “Setiap makhluk memiliki jalan pikirannya sendiri, setiap tapak memiliki lintasannya sendiri. Begitu juga dengan ibumu, dan begitu juga dengan jalak peliharaanmu. Berlaku juga untuk semua orang. Mereka mengitari orbit mereka sendiri tentu saja. ”

Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan, tapi aku dengan patuh mengatakan ya ketika dia telah selesai.

BAGIAN 19

Gadis itu muncul tidak lama setelah pak tua pergi. Seperti biasa, dia menyelinap masuk

melalui celah di pintu.

“Ini adalah malam bulan baru,” kataku.

Gadis itu duduk dengan tenang di tempat tidur. Dia tampak lelah. Dia telah kehilangan warnanya dan mulai berubah menjadi transparan, sehingga aku bisa melihat dinding di belakangnya.

Ini karena bulan baru, katanya. Bulan baru merenggut sebagian besar diri kami.

“Bulan baru itu hanya membuat mataku terasa sedikit silau.”

Gadis itu menatapku dan mengangguk. Bulan baru tidak berpengaruh padamu. Jadi, kau tetap akan baik-baik saja. Aku yakin kau akan dapat menemukan jalan keluar.

“Bagaimana denganmu?”

Tidak perlu menghawatirkanku. Kurasa kita tidak dapat keluar dari sini bersama-sama, tapi aku pasti akan menyusulmu nanti.

“Tapi bagaimana aku bisa menemukan jalan keluar dari sini tanpamu?”

Dia tidak menjawab. Sebaliknya, dia mendekat dan menambatkan ciuman kecil di pipiku. Kemudian gadis itu menyelinap melalui pintu dan lenyap. Aku duduk di tempat tidur, linglung untuk waktu yang lama. Ciuman itu terlalu banyak mengguncang perasaanku, Aku tidak dapat berpikir lurus. Pada saat yang sama, keresahanku telah berubah menjadi kecemasan yang menggelisahkan. Dan keresahan apa pun yang menimbulkan kegelisahan, pada akhirnya, menjadi sebuah kegelisahan yang sangat berarti.

BAGIAN 20

Tidak lama kemudian, pria domba kembali. Dia memegang piring berisi donat yang ditumpuk begitu tinggi.

“Hei, ada masalah apa? Kau terlihat linglung begitu. Apakah kau sakit atau bagaimana?”

“Tidak, aku hanya berpikir.”

“Kalau tidak salah dengar — kau berencana untuk kabur dari sini malam ini? Bisakah aku ikut? ”

“Tentu saja kamu bisa bergabung. Namun siapa yang memberi tahumu?”

“Aku bertemu seorang gadis di koridor semenit yang lalu, dan dia memberi tahuku. Dia berkata kita berdua dapat keluar dari sini bersama-sama. Aku tidak tahu ada seorang gadis cantik di sekitar sini— apakah dia temanmu? ”

“Yah, um. . . ”Aku tergagap.

“Begitu, ya. Wah, menyenangkan sekali jika punya teman seorang gadis keren seperti itu.”

“Jika kita bisa keluar dari sini, Mr Sheepman, aku yakin kamu akan punya banyak teman yang keren. ”

“Itu akan sangat mengasyikkan,” kata pria domba itu. “Tetapi jika kita tidak berhasil, neraka akan disiapkan untuk membayar perbuatan kita berdua. ”

“Yang kamu maksud ’neraka untuk membayar’ adalah toples berisi sepuluh ribu ulat? ”

“Kurang lebih begitu,” Kata pria domba itu dengan sedih.

Kemungkinan di kurung di dalam toples bersama sepuluh ribu ulat selama tiga hari membuatku merinding hingga terasa di tulang belakangku. Namun kehangatan dari donat renyah di perutku dan ciuman gadis itu di pipiku telah menghilangkan semua ketakutan yang kurasakan. Aku menyomot tiga donat dan pria domba mengambil enam donat.

“Aku jadi rakus dan hilang kendali akibat perut kosong,” pria domba itu berkata, dengan cara meminta maaf. Dia menyeka gula dari sudut mulutnya dengan jarinya yang gemuk.

Bersambung…

Iklan