Pada chapter pembuka A Brief History of Time karya Stephen Hawking, terdapat frasa Turtles All The Way Down. Kata-kata tersebut diutarakan seorang wanita tua yang keukeuh bahwa bumi ini berada pada punggung seekor kura-kura. Di mana selanjutnya, kura-kura tersebut bertumpu pada punggung kura-kura lainnya, dan begitu seterusnya.

Hal ini menjadi salah satu hal yang membuat saya tertarik membaca Turtles All The Way Down karya John Green. Saya penasaran, apakah memang benar buku ini memiliki keterkaitan dengan buku Almarhum Hawking.

Untuk karya-karya John Green sendiri, saya memang sudah lama menyukainya. Dari mulai boomingnya The Fault in Our Stars atau Paper Town, di mana keduanya sudah diangkat ke layar lebar dan mendapatkan sambutan luar biasa dari penggemar. Atau, Looking for Alaska, yang saya dengar juga akan dibuat versi layar lebarnya.

Satu hal yang saya suka dari Green adalah gayanya bercerita, yakni dengan menambahkan bumbu-bumbu filosofis, atau caranya bermain-main dengan bahasa (baca: kata-kata), yang (sebetulnya) sederhana tapi sekalinya dimengerti, bisa memberi arti atau sudut pandang baru terhadap sesuatu.

..the first time it got this bad: Do you feel like a threat to yourself? But which is the threat and which is the self? I wasn’t not a threat, but couldn’t say to whom or what, the pronouns or objects of the sentence muddied by the abstraction of it all, the words sucked into the non-lingual way down. You’re a we. You’re a you. You’re a the, an it, a they. My kingdom for an I.

Ini bikin saya berpikir, dengan cerita dan alur yang sama pasti feel-nya nggak akan berbeda jika penulisnya bukan Green.

Dengan kekuatan kata-katanya, Green mampu membuat cerita-cerita sederhana (yang mostly tentang kehidupan remaja) menjadi luar biasa, dan yang pasti genuine.

Satu hal lagi, untuk buku setebal 286 halaman ini juga menjadi buku Green yang cukup sulit untuk dipahami. Butuh beberapa kali pengulangan dalam membaca beberapa kalimatnya, berdiam sebentar untuk mencerna, lagi pada satu poin membuat saya berdecak kagum, untuk selanjutnya melanjutkan membacanya.

Turtles All The Way Down sendiri bercerita tentang seorang gadis bernama Aza. Ia memiliki Mental Illness, di mana pikiran dan kekhawatirannya bisa sangat menjadi-jadi dalam suatu waktu. Itu juga yang ia coba terima dari waktu ke waktu.

Di sini kita bisa melihat, mental illness bukan sesuatu yang dapat dimengerti semua orang. Terlebih mereka yang tidak mengalaminya, menjadi sangat sulit untuk memahami bahkan untuk sekadar mengerti cara berpikir orang-orang yang menderita penyakit mental tersebut.

Tidak hanya itu, penyakit satu ini juga bisa sangat sulit disembuhkan bahkan dengan bantuan medis sekalipun. Jadi, cara paling sulit namun memungkinkan yang bisa dilakukan adalah dengan menerimanya. Butuh waktu memang. Namun, dengan dukungan dari orang-orang terkasih akan memberi dorongan moral kepada si penderita. Ini akan mengingatkan ia bahwa ia tidak sendiri.

4/5

Want to read more like this? Please go check out Finding Audrey by Shopie Kinsella.