Pukul setengah empat pagi, mobil saya sudah mulai beregerak meninggalkan rumah. Di dalamnya ada kami berlima, saya, suami dan anak, serta mama dan bapak mertua. Seniat itu, kami berencana untuk mencari pantai di Yogyakarta, Karena anak saya belum pernah sekalipun merasakan ombak yang menyenangkan itu.

Buat saya pantai adalah tempat terbaik untuk menikmati kekuasaan Tuhan. Tidak pernah saya menolak untuk menjumpainya. Hamparan panjang laut di depan mata menjadi "vitamin sea' yang berhasil melepas segala lelah dan penat. Laut dan pantainya adalah sebuah kesenangan dunia.

Tidak sabar rasanya untuk segera sampai menikmati bau garam di laut. Sementara kendaraan masih melaju cukup kencang dijalanan yang masih terlihat sepi. Kami sempatkan untuk mampir sebentar di sebuah masjid untuk menunaikan solat subuh di daerah Klaten. Tidak beberapa lama, kami lanjutkan perjalanan.

Pagi itu rasa kantuk masih mendera mata. Hingga tak terasa saya terlelap cukup lama hingga dibangunkan saat tiba disebuah warung makan.  Mengisi perut pagi itu saya memilih menu nasi putih, sayur pepaya dan paha ayam. Rasanya begitu nikmat. Ditambah segelas teh hangat yang membawa kesegaran pada mata yang masih berat.

Kenyang terasa, berarti waktunya kami melanjutkan perjalanan ke Bantul. Tidak beberapa lama ternyata kami sudah bisa melihat pantai dikejauhan. Jujur saja, belum ada destinasi yang kami pilih. Dan secara spotan, kami sekeluarga akhirnya memutuskan untuk menikmati Pantai Parangkusumo.


Menikmati Pantai Parangkusumo 


Kami parkirkan kendaraan tidak jauh dari bibir pantai. Dengan bertelanjang kaki, saya mulai merasakan putiran-putiran pasir melewati sela-sela jemari. Sayangnya tanpa sengaja kaki saya menyandung sampah botol bekas air mineral. Ah, begitu menyebalkan. Ternyata pantai ini tidak cukup baik kebersihannya. Banyak sampah berserakan membuat pemandangan menjadi terganggu.

Saya mencoba mengalihkan pikiran dan tetap fokus menikmati deburan ombak di laut. Senang sekali rasanya air laut mengenai kaki hingga ke lutut. Agar semakin puas, saya ceburkan seluruh tubuh di air. Merasakan air laut menampar-nampar pipi, membasuh dengan airnya yang pekat dengan garam. Surga dunia bagi pecinta pantai pastinya.


Padahal air laut ini tidak bersih. Ya, lautnya berwarna kecokelatan. Tapi tidak saya pedulikan. Saya bahagia bisa bermandikan air garam.

Saat sedang asyik-ayiknya bermain ombak, saya melihat rombongan besar orang yang memakai baju adat Jawa. Beberapa diantaranya membawa berbagai makanan dan buah yang disusun tinggi menyerupai gunung diarak oleh beberapa laki-laki. Semakin tertarik dengan apa yang saya lihat, saya mencoba berjalan lebih dekat. Sepertinya akan dilakukan suatu upacara adat tertentu di pantai ini.

Sayapun sengaja untuk bertanya kepada salah satu orang peserta upacara ini. Mereka adalah rombongan dari Keraton Kasunan Surakarta yang akan melaksanakan tradisi Labuhan.

Melihat Upacara Labuhan Keraton Kasunanan Surakarta


Baru kali pertama saya melihat jalannya suatu upacara adat. Beberapa pengunjung pantai juga turut mendekat untuk melihat lebih jelas.

Rombongan mulai duduk dengan rapi menghadap ke laut. Ada seorang pemimpin upacara yang berada di depan tengah berkonsentrasi merapalkan doa-doa atau mantra. Peserta yang lain duduk khusyuk sembari menunduk.

Di depan si pemimpin upacara ada sebuah arang yang dibakar. Di atasnya terdapat beberapa keris. Setelah doa-doa dibacakan, keris yang dibakar kemudian ditempelkan pada lidah. 

Wah, saya cukup ngeri melihatnya. 

Membayangkan panasnya lidah terpapar keris yang habis dibakar itu. Hal ini kemudian diikuti oleh beberapa orang dari peserta upacaya. Tidak ada reaksi sakit yang terlihat dari raut wajah mereka. Seolah-olah menggambarkan bahwa mereka sudah terbiasa dengan perlakuan ini. Atau mungkin mereka sudah memiliki ketrampilan menahan panas? Bisa jadi.

Selesai beberapa orang menempelkan keris panas di lidah mereka, tidak berselang lama buah-buahan dan makanan yang berbentuk gunungan mulai dilarung ke lautan. Uniknya, setelah beberapa detik dilarung, gunungan buah-buahan ini langsung diserbu oleh para pengunjung pantai dan peserta upacara. Konon, makanan sesaji sesembahan ini membawa keberkahan bagi yang mendapatkan dan memakannya.

Baru kali ini saya melihat upacara tradisi Labuhan secara langsung. Walaupun tidak turut serta dalam upacara tersebut, saya menghargai tradisi ini sebagai bentuk kekayaan budaya Indonesia.

Baca Juga : Mengenal Tradisi Ruwatan di Jatim Park 1


Labuhan sendiri berasal dari kata “labuh” yang berarti melarung. Dalam upacara ini selain kepala kerbau juga dilarungkan sesaji atau pun ubo rampe ke Laut Selatan. Tujuannya untuk menolak bala atau sial.



Upacara labuhan sendiri biasa dilakukan oleh Keraton Kasunan Surakarta dan Kasunanan Yogyakarta. Untuk Labuhan yang dilakukan Keraton Kasunan ini dilakukan pada pada pertengahan Bulan Suro.

Bagi warga Yogyakarta, upacara Labuhan menjadi salah satu tradiri yang dilakukan oleh Raja- Raja di Keraton Yogyakarta. Upacara adat ini bertujuan untuk memohonkan keselamatan Kanjeng Sri Sultan, Keraton Yogyakarta dan rakyat Yogyakarta. Upacara Labuhan sarat akan makna magis yang biasanya dihubungkan dengan legenda-legenda tertentu. Sebagai contoh adalah Upacara Labuhan Parangkusumo yang identik dengan legenda Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul dan Panembahan Senopati.

Upacara adat Labuhan yang didakan oleh Keraton Kasunanan Yogyakarta diselenggarakan dalam empat waktu, yaitu :
1. Satu hari setelah Jumenengan (penobatan seorang raja).
2. Satu hari setelah Tingalan Jumenengan (peringatan satu tahun penobatan raja) biasanya disebut dengan Labuhan Alit.
3. Dilakukan delapan tahun sekali (Labuhan Ageng).
4. Dilakukan dalam kondisi tertentu (contohnya adalah ketika putra atau putri dari raja akan menikah).

Ada beberapa lokasi yang dipilih untuk upacara Labuhan ini, antara lain
1. Pantai Parangkusumo
2. Gunung Merapi
3. Gunung Lawu
4. Dlepih Kahyangan

Inilah pengalaman saya melihat tradisi Jawa yang masih dilestarikan hingga saat ini. Konon, upacara Labuhan sudah ada sejak zaman Mataram Islam. Di sini saya sadar, bahwa Indonesia memang begitu kaya dengan tradisi yang menjadi bagian dari budayanya. Penting bagi kita untuk menghormati setiap kepercayaan dari tiap individu. Wonderful Indonesia, biarlah kekayaan ini menjadi identitas  negara Indonesia yang berbudaya dan menghargai sesamanya.


Nah, buat kamu yang punya cerita betapa kaya dan indahnya Indonesia yuk ikuti Wonderful Indonesia Blog Competition. Lihat informasi selengkapnya di banner atau klik di sini.




Let's be friends!


Instagram | Facebook | Twitter

See you on the next blogpost.





Thank you,