cara merawat bayi prematur
cara merawat bayi prematur
Nina telah mengalami keguguran tiga kali. Di usianya yang memasuki kepala empat, akhirnya ia positif hamil. Inilah buah hati yang ia dan suami damba-dambakan. Akan tetapi, bayi tersebut harus terlahir prematur di usia kehamilan 8 bulan. Khalid, bayi kecil seberat satu kilogram, lahir dengan kelainan jantung bawaan. Selama sebulan, bayi prematur tersebut dirawat di RSCM.

Kini Khalid berusia setahun. Ia nampak menggemaskan dan lincah seperti bayi pada umumnya. Syukur alhamdulillah Khalid menjadi NICU Survivor, pejuang cilik tangguh.

Lain lagi kisah selebritis Joanna Alexandra. Kelahiran anak keempatnya lebih cepat seminggu dari jadwal. Zionna terlahir di usia kehamilan 36 minggu karena detak jantungnya melemah. Saat itu berat lahir Zionna 2.695 gr. Tergolong normal, ya.

Meski sudah terbiasa mengasuh anak, Joanna sempat panik dan over-protected akan bayi prematur tersebut. Joanna menimbang bayinya setiap hari, menggunakan cairan antiseptik, bahkan menyiapkan pakaian khusus untuk masuk ke kamar bayi.

Haruskah se-protektif ini pada anak lahir prematur? Bagaimana cara yang tepat menangani bayi lahir prematur?

Pada peringatan World Prematurity Day yang jatuh pada 17 November 2018 lalu, saya mengikuti #BicaraGizi bersama Nutricia dan Sarihusada dalam Nutrisi untuk Bangsa (NUB) bertema “Dukung Si Kecil yang Lahir Prematur untuk Tumbuh Kembang Optimal”.

Bayi Lahir Prematur

Mendengar berbagai kisah kelahiran prematur di atas, juga dari obrolan teman yang kedua anaknya terlahir prematur, saya baru menyadari banyak juga ya bayi prematur di Indonesia. Sebuah riset menunjukkan Indonesia menempati peringkat ke-5 kelahiran prematur tertinggi di dunia, dengan angka kejadian 15,5% (Blencowe, et al. 2012; Liu, et al. 2012).

bicara gizi nutrisi untuk bangsa
(ki-ka): Joanna Alexandra, dr. Putri, Sp.A(K), Ibu Nina dan suami (menggendong Khalid), serta MC
By the way, bayi lahir prematur berbeda dengan bayi BBLR alias berat badan lahir rendah. Bayi prematur merupakan anak yang lahir pada usia kehamilan (gestasi) kurang dari 37 minggu akibat berbagai kondisi. Sedangkan bayi BBLR untuk bayi yang terlahir dengan berat kurang dari 2.500 gram.

Penyebab bayi terlahir prematur pun beragam. Ada yang karena ibu hamil mengalami darah tinggi (berujung ke pre-eklamsia), diabetes, kondisi janin melemah, pengapuran plasenta, dan lain sebagainya.

Masalah pada Bayi Prematur

Bayi terlahir prematur seharusnya masih tumbuh di dalam rahim. Karena sudah dilahirkan, ia tidak mendapat asupan yang tepat. Beberapa masalah pada bayi prematur, antara lain:

  • Metabolisme tinggi.
  • Imaturitas organ.
  • Feeding intolerance karena saluran cerna masih beradaptasi.
  • Rentan terhadap penyakit.
  • Cadangan nutrisi rendah tetapi butuh nutrisi tinggi.

Tepat Menangani Bayi Lahir Prematur

Menurut Dokter Anak Konsultan Neonatalogi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Putri Maharani Tristanita Marsubrin, Sp.A (K), secara garis besar, ada lima hal yang orang tua lakukan untuk menangani bayi lahir prematur, yaitu:

1. Pantau pertumbuhan dengan grafik khusus

Bayi prematur terlahir dengan dua kondisi: sesuai masa kehamilan dan kecil masa kehamilan. Ketahui kondisi bayi lahir prematur tersebut melalui grafik pertumbuhan khusus (usia 0-40 minggu). Grafik ini berbeda dengan yang ada di KMS (>40 minggu).

Tiga hal yang perlu dipantau yaitu berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Poin terakhir ini kadang terlupa padahal ukuran otak bayi masih bertumbuh.

danone indonesia
Yanne Sukmadewi dari Danone Indonesia dulu terlahir prematur, lho.

2. Beri nutrisi yang tepat

ASI menjadi asupan terbaik bagi bayi prematur. Akan tetapi, kondisi bayi saat lahir di atas membedakan jumlah pemberian nutrisi pada bayi lahir prematur. Hitung kebutuhan nutrisi agar pemberian nutrisi tepat, tidak lebih maupun kurang.

Bila kekurangan nutrisi, bayi prematur akan mengalami gagal tumbuh dan tidak dapat mencapai kejar tumbuh. Efek jangka panjangnya yaitu stunting. Bayi terlihat lebih kecil dan lebih pendek dibanding rata-rata bayi seusianya.

Bila kelebihan nutrisi, bayi prematur berisiko mengalami sindrom metabolik akibat berat badan yang naik terlalu cepat. Risiko penyakit tersebut antara lain: dislipidemia, penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes mellitus.

Rutin kontrol ke dokter dan pantau secara berkala tumbuh kembang optimalnya melalui grafik (poin 1).

3. Lakukan skrining (bila perlu)

Skrining pada bayi prematur yang terindikasi perlu dilakukan. Skrining tersebut antara lain: extrauterine growth restriction, osteopenia of prematurity, anemia of prematurity, USG kepala, dan pemeriksaan pendengaran.

4. Perkuat bonding orang tua dan bayi prematur

Tak kalah penting, bonding orang tua, khususnya ibu, dengan bayi perlu diperkuat. Saat memberi ASI merupakan momen spesial membangun ikatan ibu dan bayi. Belai anak, ajak ngobrol dengan suara lembut, atau menggendong a la kangguru dengan skin-to-skin dipercaya dapat mendukung kesehatan bayi prematur. Orang tua sebaiknya tenang dan tidak over-protected karena bayi dapat merasakannya, lho. Kalau orang tua tenang, bayi tenang, treatment yang dilakukan dokter sesuai, insya Allah bayi prematur dapat tumbuh optimal.

Peluk dan ajak ngobrol bayi prematur (dok. unsplash)

5. Bangun support system

Mengasuh bayi prematur butuh dukungan banyak pihak. Joanna merasakan dukungan suami dan anak-anaknya mampu menguatkan dirinya mengasuh Zionna. Untuk itu, support system perlu dibangun, dari keluarga ataupun orang lain yang sama-sama memiliki bayi prematur.

Support system yang kuat membuat ibu tidak mudah baper atau down ketika ada omongan negatif yang membanding-bandingkan anak lahir prematur dengan anak lainnya. 

Sesama supermom harus saling dukung

Menghitung Usia Koreksi Bayi Prematur

Ngomongin baper, teman saya yang memiliki anak lahir prematur sempat baper ketika anaknya dibandingkan dengan anak tetangga yang lahirnya di hari yang sama. "Kok badannya kecil dibanding si itu?".

Meski lahir di hari yang sama, anak lahir prematur tidak bisa dibandingkan dengan anak cukup bulan. Perlu dihitung usia koreksi untuk memantau tumbuh kembang bayi prematur.

Rumus usia koreksi adalah:
(Usia gestasi + usia kronologis) - 40 minggu
Keterangan:
  • Usia gestasi sesuai umur kehamilan saat bayi prematur lahir.
  • Usia kronologis atau usia kalender, dari sejak dilahirkan sampai saat ini.
  • Usia koreksi diperhitungkan hingga 2 tahun saja.
Contoh:
Ibu dengan usia kehamilan 35 minggu melahirkan bayi prematur. 12 minggu kemudian, berapa usia koreksi bayi tersebut?

Usia gestasi 35 minggu
Usia kronologis 12 minggu
Usia koreksi = 35+12-40 = 7 minggu

Bayi prematur yang sudah 12 minggu lahir ke dunia, tumbuh kembangnya dapat disejajarkan dengan bayi cukup bulan usia 7 minggu.

fakta bayi prematur

Dari talkshow di Hari Prematur Sedunia tersebut, dapat disimpulkan bahwa bayi prematur butuh penanganan ekstra yang tepat. Akan tetapi #PrematurBukanHalangan karena bayi prematur dapat tumbuh normal dan memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi.

Semangat ya, para orang tua hebat yang memiliki anak lahir prematur. Dukung selalu si kecil untuk tumbuh kembang yang optimal!