SARA NEYRHIZA


Jujur, frekuensi keluar rumah antara saya dan suami itu justru lebih banyak di saya. Karena kami berdua sepakat tidak ingin menghire ART, jadi setiap kerepotan ditanggung berdua. Termasuk soal mengasuh anak ketika saya, sebagai ibunya, harus keluar rumah untuk bekerja.

Untungnya suami memang wiraswasta, sehingga waktu bekerja sedikit lebih fleksibel dibandingkan saya.

Bersyukur banget, sekarang anak perempuan saya bisa dekat dengan papanya. Jadi nggak ngerepotin titip ke neneknya lagi. Suami juga sudah "pinter", urusan ngajak main, mandiin sampai menemani tidur. Makan juga bisa nyuapin dikit-dikit.

Duh, seneng deh urusan ngasuh bisa dihandle berdua.

Memang sih, itu hasil diskusi dan kesepakatan kami berdua. Jadi nggak ada tuh istilah suami cari duit doang, dan saya cuma sibuk di dapur dan ngurusi rumah. Pembagian pekerjaan rumah tangga juga perlu. Misalnya nih, suami saya punya tugas merapakan kamar tidur dan cuci piring. Lainnya seperti nyapu, ngepel, cuci baju, dan sebagainya menjadi tugas saya.

Enak kan kalau semua kerepotan dipikul bersama.

Baca Juga : Waspadai Pengaruh Buruk Social Media

Ayah, Ikut Mengasuh Anak Juga Yuk!

MANFAAT AYAH DEKAT DENGAN ANAKNYA

Ternyata mendiskusikan perilah pembagian peran di rumah tangga itu bukan hal yang tabu. Meski budaya patriarki di Indonesia sangat kuat, dimana laki-laki lebih mendominasi, namun sekarang eranya sudah berubah. Para suami harus lebih sadar, bahwa membangun keluarga itu butuh campur tangan bersama.

Hingga tahun 1960-an, para ahli jarang mendorong para ayah untuk secara aktif berpartisipasi dalam pengasuhan anak, seperti berpartisipasi selama persalinan, atau merawat bayi. Tetapi beberapa dekade terakhir penelitian menunjukkan bahwa semakin dini seorang ayah terlibat maka semakin baik. Pada tahun 1997 para peneliti berpendapat bahwa ayah yang secara aktif terlibat dalam persalinan, secara efektif membangun hubungan (meskipun hubungan satu arah) dengan anak-anak mereka sedini mungkin, sehingga hubungan ayah dan anak menjadi lebih dekat dan hangat..

Bertepatan dengan Hari Ayah Nasional 12 November 2018 kemarin, bertempat di Le Meridien Hotel, Jakarta, saya berkesempatan mengikuti acara Ngobrol Santai "Ayah Percaya Kamu Bisa". Acara ini menghadirkan Donny de Keizer (speakerpreneur), Retno Wahyu Nurhayati (peneliti) dan Jane L. Pietra (psikolog). Juga turut hadir juga Rita Erna, TNI (KOWAD) dan Tyas Marisca, Pilot Air Asia. Acara ini diadakan oleh Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) dan Yayasan Pulih.

MANFAAT AYAH DEKAT DENGAN ANAKNYA

Dalam obrolan santai selama kurang lebih 90 menit ini, banyak hal menarik seputar pengasuhan anak yang saya pelajari. Ternyata, memiliki anak yang dekat dengan ayahnya itu punya banyak keuntungan, salah satunya dalam membentuk karakter anak..

Manfaat keterlibatan ayah dalam mengasuh anak, antara lain :

1. Emosi anak lebih stabil
2. Terhindar dari perilaku bullying, baik pelaku maupun korban
3.  Mudah beradaptasi dan lebih percaya diri
4. Lebih menghargai diri sendiri
5. Lebih tahu cara memperlakukan lawan jenis. Anak memiliki role model sosok laki-laki yakni ayahnya sendiri.

Kehadiran ayah pada momen penting seperti ulang tahun, atau kelulusan sekolah memberikan dampak yang sangat berarti bagi hubungan anak dan ayah. Memang, banyak kondisi yang mungkin memaksa ayah tidak selalu ada di rumah. Bisa karena pekerjaan yang mengharuskan ayah terpisah jauh dari keluarga.

Tapi seharusnya hal itu tidak jadi alasan.

Mengingat kecanggihan teknologi mampu mendekatkan yang jauh. Sehingga kualitas hubungan bisa tetap terjaga meskipun tidak melalui komunikasi tatap muka untuk berinteraksi dan memantau perkembangan anak-anakanya.

Pada intinya kualitas jauh lebih penting dari kuantitas. Itu jauh lebih baik, daripada ayah di rumah 24 jam tetapi sibuk bermain handphone tanpa menghiraukan anak mereka. Atau  ayah yang menghabiskan banyak waktu dengan anak-anaknya  tetapi memiliki kebiasaan buruk seperti meremehkan , menghina dan berkata kasar.

Penelitian yang dilakukan di Imperial College London, mencatat para ayah yang berinteraksi positif dengan anak-anak mereka dengan bermain bersama mereka dan memberi mereka umpan balik positif, dapat membantu meningkatkan perkembangan kognitif anak mereka sehingga anak menjadi lebih cerdas. (Sumber: Sethna V, Perry E, Domoney J, et al. Father - Chils Interactions at 3 Months and 24 Months : Contributions to Children's Cognitive Developmnet at 24 Months. Infant Mental Health Journal. 2017)

Baca Juga : Manusia Itu Ekuilibrium

Pentingkah ayah dekat dengan anak perempuannya?

MANFAAT AYAH DEKAT DENGAN ANAKNYA

Sekali lagi kalau boleh jujur, saya memang tidak memiliki kedekatan yang cukup baik dengan almarhum abah saya. Meski kami tinggal bersama namun sangat jarang berkomunikasi maupun berdiskusi. Kami tidak pernah membicarakan hal intim atau membahas visi yang besar.

Saya kemudian mencari sosok "ayah" pada eyang kakung, dan menjadikan beliau role model sosok laki-laki yang baik di mata saya.

Ketika menginjak remaja, saya mendapatkan kedekatan emosional dengan pacar saya (sekarang suami). Dengan beliaulah saya bisa membicarakan banyak hal termasuk urusan cita-cita. Meski begitu, memang tidak mudah bagi saya untuk bisa terbuka secara emosional dengan lawan jenis. Seperti ada tembok batas yang tinggi untuk bisa berinteraksi dengan mereka karena rasa waspada yang berlebih.

Ada sebuah buku berjudul Women and Their Fathers: The Sexual and Romantic Impact of the First Man in Your Life, 1992. Sang penulis, Victoria Secunda menyimpulkan bahwa laki-laki dan wanita yang tidak dekat dengan figur ayahnya (remote and aloof father.) akan memiliki kecenderungan untuk bersikap waspada dan sulit mendapatkan keintiman dengan lawan jenis. Hal ini karena mereka merasa selama ini tumbuh dengan sosok ayah yang susah untuk dipahami. Sehingga sulit bagi mereka untuk memahami orang lain.

Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa, sampai anak-anak mencapai pubertas, "father effect" kurang lebih sama untuk anak laki-laki dan perempuan. Namun, setelah fase pubertas ini terjadi, kedekatan dengan ayah berpengaruh terhadap perilaku seksual juga. Dan itu paling dirasakan oleh remaja putri, yang mengambil risiko seksual lebih sedikit jika mereka memiliki hubungan yang kuat dengan ayah mereka. Para anak perempuan cenderung menghindari perilaku seks bebas atau perilaku seks berisiko  (tanpa kondom, misalnya). (DelPriore, D. J., Schlomer, G. L., & Ellis, B. J. (2017). Impact of fathers on parental monitoring of daughters and their affiliation with sexually promiscuous peers: A genetically and environmentally controlled sibling study. Developmental Psychology, 53(7), 1330-1343.). Baca penelitian ini selengkapnya di sini.


Akhirnya, tidak ada yang salah jika seorang ayah berusaha untuk membangun hubungan lebih dekat dengan anak mereka. Karena bahasa cinta tidak melulu soal uang atau financial, tetapi juga kehadiran, sentuhan fisik dan perhatian.

Selamat hari ayah para ayah di Indonesia. Cintamu, untuk masa depan anak-anakmu. 



Let's be friends!


Instagram | Facebook | Twitter

See you on the next blogpost.





Thank you,