Hai, keluarga Indonesia! Saat akhir pekan, agenda keluarga apa yang sering kalian lakukan? Memasak bersama, memancing, berkebun, atau asyik dengan gawai masing-masing? Ayah scrolling facebook, ibu ngubek diskonan di e-commerce, dan anak nonton TV. Hmm …  pemandangan wajar zaman now. Tahu enggak, ini tuh efek revolusi industri 4.0, lho.

revolusi keluarga 4.0
Berdekatan tapi sibuk dengan gawai masing-masing
Akhir-akhir ini kata “Revolusi Industri 4.0” semakin sering terdengar tapi saya skip aja. Ibu rumah tangga apa urusannya dengan revolusi industri? Saya salah. Rupanya, revolusi industri 4.0 ini tak hanya berimbas pada pekerjaan tetapi juga keluarga. Hal ini dibahas secara mendalam di blogger gathering bersama BKKBN pada 15 November 2018 lalu.

FYI, revolusi industri sudah dimulai sejak industri mekanik dan tenaga uap. Di revolusi industri 4.0 ini ditandai dengan sistem fisik maya, internet, dan jaringan. Internet dan serba IT ini lho bagian dari revolusi industri.

Dampak Industri 4.0 Terhadap Keluarga

Ternyata oh ternyata dampak revolusi industri 4.0 tuh besar untuk keluarga. Salah satunya ya familiarnya penggunaan gawai di keluarga, dari dewasa sampai anak-anak. Bahkan anak balita udah tahu cara nonton YouTube, ye kan.


Di era digital seperti sekarang, arus informasi begitu cepat dengan berbagai kecanggihan teknologi menuntut keluarga beradaptasi dengan kondisi yang ada. Dr. dr. M. Yani, M.Kes, PKK, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN menjelaskan dampak revolusi industri 4.0 terhadap keluarga, yaitu:

1. Konsep keluarga kecil dengan dua anak semakin populer.
2. Cemas akan situasi politik, ekonomi, dan lingkungan yang dianggap memburuk. Hal ini dipengaruhi budaya populer dan media digital.
3. Pilihan melajang, menikah tanpa anak, bahkan LGBT sebagai lifestyle. Bahkan melahirkan di luar nikah semakin marak.
4. Fokus pada masa depan dan karir termasuk pilihan merantau.
5. Pernikahan lintas suku, agama, ras, dan budaya di Indonesia.
6. Makin mudah pembagian peran domestik dan publik dalam keluarga. Ayah turut mengurus anak.
7. Waktu berkumpul bersama keluarga semakin sedikit sehingga keluarga mengatur quality time. Sayangnya, anggota keluarga sibuk dengan TV atau smartphone masing-masing ketika berkumpul.
Dsb.
Blogger gathering bersama BKKBN, 15 November 2018


Berdekatan Namun Dipisahkan Teknologi

Teknologi memudahkan namun juga dapat memisahkan orang yang berdekatan. Acara kumpul keluarga yang dulunya bertukar kabar menjadi foto bersama kemudian sibuk upload ke media sosial masing-masing. Chat di Whatsapp atau saling komentar di Facebook begitu ramai akan tetapi ngobrol langsungnya malah sedikit. Lucu, ya, bahkan orang tua mencoba merasa dekat dengan anak lewat pertemanan di media sosial (sekalian mengawasi juga, sih).

Sekretaris KPP dan PA Dr. Pribudiarta Nur Sitepu mengaminkan dampak revolusi industri 4.0 ini. Anak sekarang bukan lagi bercita-cita menjadi insinyur atau dokter tetapi YouTuber. Mau pesan semangkuk bakso aja tinggal pencet HP. Enaknya dari sisi pemerintah lebih terkendali dengan sistem transaksi yang terhubung ke perbankan seperti ini.

Saya jadi tersentil dengan contoh di atas karena mengalami sendiri di keluarga. Sampai sekarang, kami masih diet gawai supaya anak tidak terlalu lama terpapar layar HP. Kalau orang tua pegang HP sambil makan, anak akan mengikuti. Jangan sampai deh berdekatan namun dipisahkan teknologi.

Social experiment tentang komunikasi


Family 4.0 dari BKKBN

BKKBN enggak hanya punya program KB alias Keluarga Berencana. Menghadapi revolusi industri 4.0, BKKBN mengenalkan Family 4.0 sebagai platform gerakan untuk mengarahkan semua pihak yang terkait dalam pembangunan keluarga agar berkolaborasi menghasilkan output dan outcome keluarga berkualitas yang terukur dengan waktu relatif cepat, tentunya mengadaptasi semangat perubahan dari revolusi industri 4.0.

Yup, butuh kerja sama berbagai pihak, dari pemerintah hingga masyarakat agar keluarga Indonesia siap menghadapi era industri 4.0 ini. Tapi … gimana ya contoh nyata yang tiap keluarga bisa lakukan?


Kembali ke Meja Makan

Sebelum ngomongin solusi, psikolog Roslina Verauli, M.Psi., Psi. mengajak kita mendefinisikan keluarga. Tiap keluarga memiliki tujuan dan nilai kehidupan yang sama, komitmen jangka panjang, serta umumnya tinggal bersama. Kalau ayah sibuk mengejar karir, ibu mengurus rumah tangga, dan tidak ada komunikasi di dalamnya, apa disebut keluarga? Hmm ….

It takes a village to raise a child. Dalam mengasuh anak, ayah dan ibu merupakan sekolah pertama bagi anak. Selain itu, anak dipengaruhi oleh microsystem, mesosystem, exosystem, sampai macrosystem. Selengkapnya pada gambar berikut.

dok. Roslina Verauli
Dalam menghadapi berbagai tantangan di luar sana perlu penguatan keluarga berupa family system, 
yaitu:

1. Family cohesion: kedekatan emosional yang dirasakan tiap individu ke tiap anggota keluarganya. Hal ini berhubungan dengan komitmen dan waktu bersama. Bukan berarti harus berdekatan terus menerus, ya, tetapi seimbang waktu separateness vs togetherness.

2. Family flexibility:  kemampuan berubah dan beradaptasi.

3. Family communication: saling berbagi ide maupun informasi satu sama lain.

Jika ketiga nilai ini kuat, keluarga akan kuat melawan tantangan eksternal.

Komunikasi dalam keluarga itu penting namun perhatikan waktu dan suasana yang tepat
Komunikasi dalam keluarga itu super penting. Tanpa adanya komunikasi, akan rawan miskomunikasi dan ketimpangan info di anggota keluarga. Padahal, keluarga itu satu tim yang akan mencapai tujuan bersama, so, perlu koordinasi, dong.

Komunikasi bukan hanya sekadar bicara. Pilih saat yang tepat menyampaikan info, ide, maupun saran bagi anggota keluarga lain. Yang paling santai sih saat ngobrol di meja makan. Ayah dan ibu bisa menanyakan kabar kegiatan anak. Pun, orang tua bercerita kegiatan mereka. Jangan lupa simpan gawai untuk sementara waktu, ya, supaya ngobrolnya berkualitas.

Saya teringat kebiasaan di keluarga suami yang selalu makan di meja makan. Setiap mudik, kami kumpul mengelilingi meja makan (kini perlu kursi ekstra atau gantian makan karena anggota keluarga semakin banyak). Di sana, setiap anggota keluarga saling bertukar kabar dan cerita lucu masa kecil. Seru deh! No gadget, ya, lagian di sana susah sinyal. Haha ….


Kalau di keluargamu, gimana? Udah siap menghadapi revolusi industri 4.0? Yuk, keluarga Indonesia kembali ke meja makan!

#revolusikeluarga4
#keluargaindustri4