Industri 4.0, kata ini sekarang pastinya belakangan ini sering kita dengar. Yang saya tahu industri 4.0 itu adalah akan dimulainya perdagangan bebas antar negara,  kemarin saya dan teman-teman blogger lainnya berkesempatan untuk bertemu dengan psikolog favorit Roslina Verauli, M.Psi Psikolog Anak, Remaja dan Keluarga, Dr. Pribudiarta Nur Sitepu, MM , Sekretaris  Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI , Dr.dr. M. Yani, M.Kes, PKK, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, BKKBN dalam kegiatan Pertemuan Blogger Pembangunan Keluarga di Era Industri 4.0.

Banyak hal menarik dan menyentil , saat mendengar pemaparan mereka mengenai pengaruh revolusi industri 4.0 saat  dikaitkan dengan keluarga dan anak. Dan semua itu kembali lagi pada pengaruh media sosial terhadap komunikasi di keluarga, yang sudah saya rasakan sendiri terkadang saat sedang berkumpul bersama, kami di rumah sibuk dengan gadget masing-masing dan mengakses   instagram, facebook dan youtube.

Industri 4.0

Dampak Revolusi Industri 4.0 Terhadap  Keluarga

Pastinya akan ada tantangan bagi orang tua untuk selalu beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang dan menunjang bagi anak, revolusi juga pastinya akan memberi dampak pada kehidupan keluarga misalnya pada pola komunikasi antar anggota keluarga.

Kehadiran mba Verauli kemarin membuat saya sadar mengenai perubahan yang harus saya lakukan terhadap anak dan keluarga, diantaranya komunikasi positif, karena suatu pemberian informasi dapat mengubah suatu hubungan, misalnya informasi negatif akan kita membuat kita jengkel dan sebaliknya informasi positif seperti pujian, akan membuat kita senang.

Generasi milenial dan Z , adalah generasi muda yang berusaha menjadi dirinya sendiri,  memprioritaskan karir, dengan kemudahan teknologi dan informasi yang ada mereka akan berfikir untuk hidup mandiri dan tidak bergantung pada keluarga sendiri.

Sekarang saja memenuhi kebutuhan sehari-haripun  dipermudah dengan teknologi mulai dari aplikasi ojek online, pesan makanan online dan masih banyak lagi. Selain itu kita semakin dipermudah dalam berkomunikasi dengan orang lain, namun tidak melakukan tatap muka langsung misalnya whats up, LINE, kita juga sekarang lebih mendengarkan referensi mengenai sesuatu misalnya makanan, hotel atau jasa melalui media sosial.

Nah sebagai orang tua,  tantangan bagi kita adalah anak termasuk kita orang tua,  tetap menjaga lisan kita saat berkomunikasi,  baik melalui WA,  Line,  Video Call dan lain-lain di media sosial ataupun bentuk interakasi lainnya dengan orang lain.

Menjaga lisan kita dengan kata-kata yang tidak menyakiti orang lain, kata kata yang tegas namun penyampaiannya dengan cara yang tidak menyakitkan dan mengajarkan mereka mengenai kesopanan dengan orang lain,  teman sebaya,  orang yang lebih tua bahkan ajarkan anak kita untuk tersenyum dan tidak terlihat jutek dengan orang lain.

Kita, orang tua yang bekerja terkadang lupa menjaga komunikasi dengan anak dan pasangan , padahal waktu bersama seluruh anggota keluarga hanya beberapa jam, terkecuali Sabtu dan Minggu. Karena itu kita harus membuat kegiatan bersama tanpa gadget, dan memperbanyak aktivitas diluar rumah misalnya berenang, main sepeda.

Bermain di alam, misalnya berkuda

Verauli kemarin sempat menjelaskan konsep family 4.0 yaitu gerakan yang bisa mengarahkan semua yang terkait dalam pembangunan sebuah keluarga,  untuk berkolaborasi  dan menghasilkan keluarga yang berkualitas dan mengadaptasi semangat perubahan dari industri 4.0 dengan cara  Kembali ke Meja Makan , dimana di meja makan seluruh anggota keluarga bisa berkumpul, berkomunikasi, menyampaikan informasi dengan cara yang menyenangkan.

Kegiatan kumpul di meja makan, merekatkan komunikasi keluarga.

FAMILY COMMUNICATION :

Berbagi informasi, ide, perasaan satu sama lain, seharusnya komunikasi yang terjadi adalah komunikasi yang positif , komunikasi yang tepat, pesannya jelas, dapat dimengerti,  namun dengan cara yang  menyenangkan. Terkadang tidak sadar, kita menyampaikan pesan dengan cara yang tidak tepat sehingga tidak bisa diterima.

Dalam menyampaikan pesan dengan anak misalnya, sebaiknya :

Hindari ‘Melarang’ , tanpa menjelaskan alasannya
Misalnya, “Athar, main api sembarangan bisa menyebabkan munculnya api besar dan kebakaran”  atau Lebih baik kita main bola di taman, yuk!”

Tinggalkan Kritik dan Cela
Kata-kata yang kasar , mengkritisi, menyalahkan, menghakimi, menceramahi, memerintah, atau mengancam anak bisa membuat anak  kurang percaya diri.

Lawan Ketidakpuasaan
Ada saatnya keadaan tidak seperti yang kita harapkan. Daripada menuntut si kecil memenuhi harapan-harapan tertentu, bantu dia menciptakan cita-citanya sendiri, ajak anak berdiskusi .

Jangan  Membandingkan
Daripada membandingkannya dengan orang lain yang dapat menyakiti hatinya, lebih baik bandingkan anak dengan dirinya sendiri.

Misalnya, “kemarin Mama lihat kamu sudah bisa makan sendiri. Hebat, ya. Hari ini pasti bisa juga, dong, makan sendiri?

Pahami  bahwa setiap anak berbeda,dan jangan lupa puji  saat melakukannya dengan baik.

PERAN KOMUNIKASI  DALAM KELUARGA DALAM HADAPI INDUSTRI 4.0

Komunikasi keluarga adalah komunikasi yang terjadi  di dalam sebuah keluarga,cara anggota keluarga untuk berinteraksi dengan anggota lainnya, penyampaian informasi berupa pesan, idea atau gagasan maupun menyampaikan perasaan.

Komunikasi yang baik dibangun berdasarkan kepercayaan, mendengarkan, dan memahami. Semakin efektif cara kita berkomunikasi, semakin kuat  ikatan sesama  anggota keluarga. Komunikasi dalam keluarga sangat penting untuk menjaga hubungan  dengan baik.

Pendidikan komunikasi positif pada anak penting dilakukan agar anak terlatih untuk mengetahui mana yang baik dan tidak, sehingga tidak asal bicara yang dapat menimbulkan kerusuhan, percekcokan. Anak harus diberitahu dan diajarkan untuk mempertimbangkan apa, siapa, dimana, dan untuk apa dia berbicara.

Jika tidak, perilaku kasar cenderung berkembang membentuk karakter anak dan bisa berakibat buruk, lebih ekstrimnya kepribadian yang brutal akan terbangun sendirinya.

Contoh komunikasi negatif misalnya kita sering berbicara dengan anak sambil jalan, berpaling, tidak fokus, malah sering menyindir, menujukan bahasa tubuh tidak sabar, bosan, tidak menantap anak, kurang memuji keberhasilan anak, sering mengatakan “Tidak boleh atau Jangan begini.. Jangan begitu..…” (Kamu tidak boleh main keluar.. kamu tidak boleh ini.. itu.. Jangan kamu lakukan ini.. itu..).

EFEK :

Apa yang terjadi kalau kebiasaan ini terus dilakukan? anak cenderung merasa disalahkan sehingga tidak berani mengungkapkan isi hatinya, anak akan menjadi pendiam bahkan akan bertindak diam-diam melakukan sesuatu tanpa diketahui ibu/keluarga sehingga membentuk karakter tidak jujur karena terbiasa berbohong.

Komunikasi positif menurut Dr. Hj. Yusrita Yanti, FIB – Universitas Bung Hatta, merupakan satu cara dalam penyampain pesan dan informasi dengan menggunakan strategi logis dan kesantunan berbasis konteks yang ada pada saat komunikasi berlangsung. Komunikasi positif sangat penting dalam membangun karakter keluarga yang kuat,  penggunaan kata-kata yang tepat penuh perhatian, dan kepedulian, belajar menjadi pendengar aktif (Active Listening) dalam berkomunikasi, menggunakan suara yang tenang, lembut, nyaman, dan bersahabat sehingga anak dapat merespons dengan baik dan positif.

Ada 11 strategi komunikasi positif yang dapat dipraktekan ketika berkomunikasi dengan anak :

(1) Gunakan komunikasi verbal (kata-kata) efektif dengan prinsip kesantunan,

(2) Tidak boleh atau minimalisir penggunaan kata “TIDAK BOLEH/JANGAN”,

(2) Gunakan kata-kata yang TIDAK meremehkan,menyalahkan, mencap, mengancam, menyindir, menceramahi, mengkritik, membanding-bandingkan,

(3) Gunakan bahasa tubuh yang mencerminkan kesabaran,

(4) Gunakan kata-kata Pujian dan Komunikasi

4 A (Attention, Assimilation, Adaption, Action),

(5) Gunakan Pertanyaan Terbuka (open questions), tidak tertutup,

(6) Berpikir sebelum bicara, jangan langsung membuat kesimpulan,

(6) Lakukan diskusi bukan berdebat,

(7) Bicara Singkat, Padat dan Tersenyum (KISS: Keep It Simple and Smile),

(8) Kembangkan sikap objektif,

(9) Saling menghargai/pertimbangkan hubungan vertikal & horizontal),

(10) Menolak membahas kekurangan orang lain (No Gossip),

(11) Kembangkan topik yang bersifat positif.

Karakter anak pun akan terbentuk salah satunya melalui komunikasi. Apakah pribadinya bisa lebih terbuka, fleksibel, dan ramah. Penting orang tua dalam memberikan komunikasi yang efektif, agar anak lebih bertanggung jawab.

Manfaat komunikasi yang baik serta efektif :

  1. Membangun sifat kejujuran anak : anak akan terbuka menyampaikan pendapatnya dengan jujur
  2. Mencegah kekerasan dalam keluarga
  3. Anak terbiasa mendengarkan, mendengarkan secara efektif, menunjukkan empati, dan memiliki cara komunikasi yang lebih baik dengan orang lain, dan menjadi pendengar yang baik.
  4. Dapat menyalurkan dukungan
  5. Memiliki maksud dan tujuan yang sama
  6. Membangun kehangatan dan keceriaan
  7. Menyalurkan sikap positif, seperti dengan menegur antar anggota keluarga, menyayangi, menghargai
  8. Tepat dalam mengekspresikan perasaan
  9. Dapat saling memahami persamaan dan perbedaan
  10. Memiliki kepercayaan diri

Penerapan komunikasi  di keluarga :

  1. Permintaan izin orang tua
  2. Diskusi keluarga
  3. Kumpul keluarga besar
  4. Pendidikan di rumah
  5. Berbagi pengalaman atau cerita
  6. Komunikasi jarak jauh antar anggota keluarga
  7. Mendongeng

Sayapun sebagai ibu, masih harus memperbaiki diri melakukan komunikasi positif ini , dalam memberi nasihat dan  motivasi terhadap anak  dan terus aktif menanyakan  aktivitasnya  dan perasaannya setiap hari. Dengan komunikasi positif, anak akan bisa menghadapi tantangan dari revolusi industri 4.0.

 

 

Ref :

parenting.co.id

pendidikan.klikpositif.com

pakarkomunikasi.com

 

#revolusikeluarga4
#keluargaindustri4