Buat yang sering ke Batu atau malah tinggal di kota Apel ini pasti mengerti betapa tersohornya Warung Wareg. Dibanding rumah makan serupa yang berada di sekitarnya, Warung Wareg ini selalu jadi yang paling ramai dengan pengunjung. Banyak yang bilang kalau rasa menu yang dijual enak-enak.


Sudah lama saya ingin nyobain makan di sini karena penasaran. Tapi beberapa kali ke Warung Wareg pasti pas lagi rame dan gak ada tempat jadi batal terus mau makan di sana. Belum juga kesampaian ke Warung Wareg, eh lha kok namanya ganti jadi Warung Mbok Sri dan Warung Waregnya pindah lokasi jauh dari lokasi yang lama.

Nah, belum lama ini Warung Wareg buka lagi di dekat lokasi yang lama, tepatnya di jalan Ir. Soekarno, Mojorejo, Junrejo, kota Batu. Kalau dari arah Malang, Warung Wareg ada di kanan jalan sebelum Campfire. Selain itu rupanya sekarang mereka punya beberapa cabang di Batu dan Malang. Waah, ceritanya mundur selangkah untuk maju beberapa langkah yaa? Hazeegg

Baca juga: Campfire Outdoor Cuisine Batu, Sensasi Nongkrong dengan Api Unggun

Kebetulan tanggal 10 November kemarin, ibu mertua ulang tahun dan pengen trakiran makan-makan bareng anak cucunya. Bumer sih pengennya makan di resto De Bamboo yang pernah kita datangi saat libur lebaran kemarin, tapi kakak ipar yang tinggal di Batu buru-buru mau ada acara dan kita juga pada belum pernah nyobain Warung Wareg jadi lokasi acaranya pindah tempat.

Baca juga: Libur Lebaran di Batu: Wisata Ramah Anak, Makan Enak, Sampai Penginapan Murah


Konsep Warung Wareg sekarang agak beda dari yang lama, sekarang bangunannya semi terbuka dan banyak unsur bumi/alamnya seperti furniture dari kekayuan, lesehan dari plesteran semen, bata ekspose, kolam ikan, dan tumbuhan hijau-hijau. Ala-ala resto keluarga yang ada lesehannya tapi dikemas lebih moderen dan kekinian.

Ruangannya dibagi menjadi 3 tempat, ada yang di bawah, di atas bagian belakang, dan di atas tempat coffee corner. Tempatnya luas banget tapi saking rame pengunjungnya, waktu datang kita sempat kehabisan tempat di bawah. Cuma tersisa di atas sedangkan ibu mertua buat jalan aja susah apalagi naik tangga. Untungnya cukup menunggu sebentar, udah dapat meja kosong yang cukup untuk menampung kita sekeluarga.


Karena yang mesenin menunya kakak ipar, saya gak tau dia pesen menu paketan atau gak. Harga dan menunya apa aja saya juga gak tau karena saat dia pesan makan, saya lagi di coffee corner buat beli kopi, wkwk.

Yang jelas menu di meja kita saat itu ada sup gurame, ikan bakar, ayam bakar, tahu tempe, cah kangkung, urap-urap, gurame asam manis, bakmie goreng, dan nasi putih tentunya. Minumnya teh celup hangat.




Di antara semua menu, saya gak nyoba bakmie, urap, tahu tempe, dan gurame asam manis. Menu lain yang saya coba semuanya enak-enak, banget! Dari awal, kakak ipar udah merekomendasikan kita harus nyoba sup guramenya Warung Wareg. Dan benar aja, semuanya pada suka.

Awalnya saya bayangin sup gurame itu kayak sup ikan yang direbus atau disteam gitu, ternyata ikannya digoreng kering, dipotong-potong, terus dikasi kuah yang rasanya asem seger. Kuahnya itu bening dan bersih tapi jadi terlihat ramai karena dilengkapi potongan bawang merah, cabe, tomat, daun bawang, kemangi, dan gak tau apalagi. Meskipun dicampur dengan kuah, tapi guraminya tetep terasa garing. Citarasanya gak lebay, sederhana, perpaduan yang pas apalagi kalau ditambah nasi, sukses bikin lap lep lap lep, endol tsay. Saya jadi terinspirasi buat masak ikan begini juga, soalnya di rumah gak ada yang doyan ikan direbus-rebus gitu.


Pindah ke coffee cornernya Warung Wareg. Desainnya gak jauh beda dengan yang di bawah tapi sedikit lebih instagramable. Agak kesel nih pas foto di sini, pas lagi sepi dan tempatnya cucok eh hasilnya ngeblur semua. Pak suami udah kelaperan banget kayaknya, heuheu.


Menu yang ditawarkan berbeda dengan yang di resto Warung Wareg. Coffee Corner menjual menu ala cafe termasuk kopi racikan. Waktu itu saya memesan es cappucino yang harganya sekitar Rp 35 ribu, kopi lain juga harganya sekitaran Rp 30 ribuan. Mirip di Kopi Tuju ya? Maklum tempat wisata.

Baca juga: Ngopi Kekinian di Kopi Tuju Malang

Kopinya enaakk, paitnya nendang, dan dominan kopi timbang susunya. Sukaaa! Tapi kalau mau ngopi yang murah, bisa pesan di restonya aja. Kemarin abis makan, para bapak-bapak pada pesan kopi hitam biasa. Suami juga pesan cappucino dan yang dateng cappucino sasetan itu.


Melihat harga di Coffee Cornernya gak cukup murah, saya tebak harga menu di restonya juga ala tempat wisata. Tapi karena makanannya enak-enak jadi recommended buat dicoba. Cuma alangkah lebih baiknya kalau ada area merokok khusus. Ini resto keluarga, banyak anak-anak sedangkan para tamu bebas ngebas ngebus rokok itu bikin kurang nyaman.