Jamal D. Rahman mengisi materi Taman Penulis FLP Jawa Barat

Hamka dulu disindir-sindir, “Ulama kok nulis Novel?”

Tahukah kamu bahwa zaman terdahulu seorang ulama juga menulis? Kenalkah kamu siapakah ulama yang juga seorang penulis? Ya, di Indonesia dikenal salah satunya adalah Buya Hamka. Kalau saat ini ulama yang menulis juga ada, ada Ustadz Adian Husaini (penulis Novel KEMI) yang sebentar lagi akan diangkat ke film layar lebar, dan Ustadz Habiburrahman el Shirazy.

Baca juga: Resensi Novel KEMI 2 Menyusuri Jejak Konspirasi Adian Husaini

Beberapa bulan yang lalu, 25 Maret 2018 di Jatinangor terdapat acara Taman Penulis FLP Jawa Barat, terdapat Materi “Ulama Penulis dan Kiprahnya dalam Peradaban Islam”  diisi oleh pemateri Jamal D. Rahman.

Sastra menjadi pencapaian kebudayaan Arab 


Jamal D. Rahman mengawali pemaparan tentang Islam yang mulai lahir pada awal abad ke-7. Pada masa itu masyarakat Mekah sangat sederhana, dapat dikatakan primitif. Masyarakat Arab dengan Kerajaan Romawi, Persia. Mekah dan Madinah gak ada apa-apanya. Tidak ada pencapaian.
Kalau saat ini Mekah memiliki arsitektur yang mengagumkan, terdahulu bangunan kokoh besar tapi Mekah sederhana.

Di dalam bidang ekonomi pun, masyarakat terbelakang dulu Mekah. Pada masa Umar, ketika sudah Mekah mengalami percepatan yang luar biasa, Umar datang ke Palestina, ia disambut pastur.

Ketika Abu Bakar memimpin, belum mencari mana Masjidil Aqsa, baru ketika masa Umar memimpin, Umar yang mencari Masjidil Aqsa. Sebagai tempat ibadah udah tua. Pakaian Umar sangat sederhana, meski ia seorang khalifah. Pakaian pastor dan rahib mewah-mewah.

“Mana bangunan yang tua?” Tanya Umar kepada Rahib Yahudi.

Ketika dalam bidang pembangunan dan ekonomi masih terbelakang, tapi jauh di sisi lain capaian kebudayaan Arab sangat tinggi disana yaitu sastra. Terdapat “Al Muallaqoh” (puisi-puisi yang menggantung di Mekkah).

Pada saat itu tentu belum ada buku. Tulisan di berbagai media digunakan dengan menggunakan pelepah. Dan yang paling bagus karyanya digantung di Ka’bah. Sastra menjadi isu dalam Al Quran. Demikianlah masyarakat Arab menganggap sastra itu agung, wahyu yang lebih tinggi.

Islam mengapresiasi karya sastra 

Sering kita menganggap bahwa Sastra merupakan bagian lain dalam Islam. “Padahal pada zaman dulu para Ulama itu saat belajar Islam,  dengan sendirinya belajar sastra. “ ujar Pak Jamal.

“Sastra merupakan bagian integral dalam Islam. Bidang apapun mereka tekuni, mereka menulis puisi. Ulama apapun dulu ya belajar Sastra. Nyaris tidak ada Ulama yang tidak menulis sastra. Imam Syafi’i adalah ulama Fiqih. Tapi Imam Syafi’i juga menulis syair dan puisi. Puisinya tersebar dan disatukan jadi satu buku 300 halaman. Salah satu syair,” Tambah Pak Jamal lagi.

Tradisi Lisan kemudian menjadi sastra tulis 

Pada awalnya sastra Arab dikenal dari Syair tradisi lisan awalnya, maka biasa dinyanyikan, sebelum akhirnya menjadi sastra tulis. “Ilmu itu cahaya Allah dan tidak terpancar oleh orang yang bermaksiat.”

Ilmu sastra Arab memakai alur tekanan nada dan panjang pendek panting panjang pendek tekanan. Bukan sekadar dengar pantun. Ada kesenangan, ada hiburan. Syair Arab Qofiyah: rima akhir bisa semua huruf abjad alif ba ta

Ulama menulis Sastra

Dulu para Ulama menulis karya sastra lho, (bukan karena ingin menjadi penyair, hehe..) Ia tetap menjadi Ulama Fiqih. Jadi konsep penulis itu bukan orang yang berprofesi sastrawan saja. Ia bisa jadi profesi apa saja. Seperti contohnya Kuntowijoyo, ia adalah sejarawan, tapi di samping itu ia menulis novel cerpen, puisi.

Imam Syafi’i adalah satu contoh, meskipun ia bukan penyair. Beliau adalah Ulama. Kitab al Ghazali semuanya pasti menjelaskan dengan syair. Jadi ulama sekelas ulama imam syafi'i pun menulis syair, lho.

“Orang terpelajar, berpendidikan, pasti menulis sastra.  Disiplin ilmu, bukan dengan esai, tapi beberapa disiplin ilmu ditulis dalam bentuk syair. Melayu Raja Ali Haji menulis syair panjang sekali. Bagaimana orang haid hukumnya fiqh wanita ditulis dalam bahasa Melayu. Kelanjutan ilmu bisa ditulis puisi. Dulu, Aqidatul Awwal (Aqidah Umum) pun berbentuk puisi. Salah satu materinya nama-nama Nabi.” Kata Pak Jamal.

Sedangkan saat ini, Puisi bermakna bahasa emosi, bukan bahasa ilmu.

Sastra Melayu 

Sastra melayu Indonesia dirintis oleh ulama. Pertama, Hamzah Fansuri.  Ulama dari Aceh awal 16 sampai akhir 17. Hukum kopi dan rokok fiqh Ihsan jampes dalam bentuk syair (puisi)

Dari Sunda ada Hasan Mustofa. Muhammad Yamin, Sanusi Pane adalah menulis syair dan pantun. Mengadopsi puisi Eropa adalah Soneta.

Sastra dipisahkan dari intelektual. Apalagi bidang keilmuan. Tidak ada lagi disiplin ilmu yang ditulis dengan syair.

“Saat ini Sastra dipisahkan keluar dari struktur Islam berdampak pada Sastra Indonesia. Di UIN tidak ada jurusan Sastra Indonesia. Di UIN Jakarta, baru ada jurusan Sastra Indonesia. Dan saat ini, FLP memainkan peran umat sastra juga islam, dan termasuk khazanah Islam,” Kata Pak Jamal.

Sastra melapangkan jalan bagi siapapun agar menulis 

Hamka dulu disindir-sindir, “Ulama kok nulis Novel?” Tapi beliau menjawab, nanti juga orang orang akan mengerti.

Baca juga: Hamka dan Karyanya (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck)

Dengan menulis novel, merupakan dakwah dengan cara yang halus. Dengan menulis, dakwah nya tidak terlihat seperti sedang berdakwah. Terlebih orang awam pun bisa ikut membaca juga. Kalau ceramah kan berbeda.

Profesi pekerjaan apa saja menulis, bukan mengasah kemampuan saja. Kesadaran umat islam ini khazanah kita. Yang bahkan oleh kolonialisme dicampakkan.

Saat Ulama menulis, begitu kuatnya modernisme yang memandang bahwa sastra ini bukan pekerjaan agama. Sebenarnya kan, sastra termasuk media dakwah, sarana dakwah. Namun, perspektif modern mendistorsi.” Kata Pak Jamal.

Dakwah lewat sastra yang tidak langsung, tidak mengajari. Dalam karya Buya Hamka pun “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” secara sekilas Pak Jamal menjelaskan bahwa makna dari novel itu menjelaskan bahwa orang yang mengikut adat menderita, sedangkan orang yang setia pada Islam (karakter Zainuddin) akan sukses hidupnya.

Baca juga: Review Buku: Ayah, Kisah Buya Hamka

Dalam hal lain, Muhammad Yamin selain sejarawan tapi juga penyair. Rosihan Anwar dididik di Belanda membaca 4 novel dalam 4 bahasa yakni Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman. Di Belanda, para guru mewajibkan muridnya membaca 25 karya sastra. Maka selain menulis, membaca pun menjadi sangat penting dalam peradaban Islam. Yuk membaca dan menulis! []