Beberapa hari lalu saya membaca sebuah kutipan menarik di halaman instagramnya Vino G. Bastian. Sebuah kutipan dari Buya Hamka yang berbunyi: Jika hati senantiasa berniat baik, Allah akan pertemukan kita dengan hal yang baik, orang-orang baik, tempat yang baik, atau setidaknya peluang dan kesempatan untuk bisa berbuat baik. Maka isi hati kita dengan prasangka baik, keinginan baik, dan tekad untuk menjadi lebih baik.

Sehabis baca kutipan itu saya senyum-senyum sendiri. Selama ini saya sering berdoa, semoga Allah selalu menjaga niat baik saya, dan mewujudkannya dalam kesempatan yang menurut-Nya adalah yang terbaik. Dan semoga Allah terus mengijinkan saya untuk bertemu dan berkumpul dengan orang-orang baik. Biar saya bisa ketularan jadi lebih baik. Sepertinya, Allah menjawab doa saya lewat RuBI. 

Kenapa RuBI?

Ini pertama kalinya saya ikut RuBI (Ruang Berbagi Ilmu). Dari 8 orang tim #RuBIMBD, cuma ada 2 orang yang sudah punya pengalaman ikut kegiatan RuBI sebelumnya, yaitu Choty dan kak Adhi. Choty sudah 3 kali ikut, dan kak Adhi sudah 10 kali ikut. Wow! Tapi emang sih, yang namanya kegiatan kerelawanan itu emang seperti candu ya. Bikin nagih. 

Trus, kenapa tiba-tiba saya tertarik gabung RuBI? Err, sebenernya gak tiba-tiba juga sih. Saya tau RuBI sebenernya sudah lama. Dulu sempat tertarik pengen gabung. Tapi waktu itu, status saya masih sebagai pekerja kantoran dengan jatah cuti terbatas. Sementara lokasi diselenggarakannya RuBI kebanyakan adalah daerah-daerah jauh yang diperlukan waktu cuti berhari-hari. Jadi saat itu, niat untuk gabung RuBI saya simpan dulu. 

Belum bisa gabung RuBI, karena terbatasnya cuti. Saya memilih aktif di kegiatan Kelas Inspirasi Batam, yang perlu cuti hanya sehari. Malah beberapa kali KI, saya tidak ambil cuti. Jadi setelah hari inspirasi, yang biasanya selesai jam 12 siang, saya buru-buru balik ke kantor. Bukan karena saya terlalu berdedikasi, tapi karena saya emang udah gak punya sisa cuti, hehehe.. 

Waktu ngetrip ke Sumba bulan Februari lalu, 4 orang travelmates saya adalah perempuan-perempuan hebat relawan RuBI yang mau ngisi materi di Sabu, NTT. Selama perjalanan, saya asyik menyimak cerita-cerita mereka tentang guru-guru hebat di pelosok negeri, tentang orang-orang baik yang memilih untuk terjun langsung menghadapi masalah, bukan hanya diam apalagi sibuk komplain dan menyalahkan sana sini. 

Dari obrolan-obrolan selama ngetrip itulah saya jadi tau, kalau dalam RuBI ini, daerah yang dituju plus materi yang disampaikan itu adalah berdasarkan request dari masing-masing daerah. Ini menarik. Karena pastinya, masalah pendidikan di setiap daerah itu beda-beda, jadi dengan memberi materi sesuai permintaan, itu akan lebih tepat sasaran. Saya makin tertarik untuk gabung jadi relawan RuBI. 

Dan sejak itu saya jadi rajin mantengin akun medsos RuBI. Gak sabar nungguin info open recruitment relawan selanjutnya. Niat untuk gabung RuBI yang dulu sempat saya simpan, akhirnya menggebu lagi. Buat yang juga penasaran ama RuBI, silakan meluncur langsung ke www.ruangberbagiilmu.com ya..

Waktu mendaftar, pilihan pertama saya adalah Yapen, Papua dan pilihan kedua adalah Maluku Barat Daya. Qodarullah, ternyata saya lolos dan ditempatkan di Maluku Barat Daya (MBD). Saya percaya, di dunia ini gak ada sesuatu pun yang benar-benar terjadi secara kebetulan. Mungkin ini cara Allah mewujudkan niat dan mimpi yang dulu pernah saya simpan. 

Berhubung sekarang statusnya adalah freelancer, masalah terbesar bukan lagi pada waktu, tapi pada biaya. Tau sendiri kan, tiket ke Indonesia Timur itu masih terbilang mahal. Tapi karena sudah diniatkan, ya bismillah aja. Kalimat yang sering diucapkan Ale, saya jadikan doping sekaligus doa, "Percaya aja, kalo niat kita baik, Tuhan pasti bantu kita." Makasih ya, Le!

Teman-Teman yang Menginspirasi

Masalah terbesar yang dihadapi relawan RuBI MBD adalah ketidakpastian jadwal kapal menuju dan dari Pulau Babar. Dan saya salut dengan teman-teman seperjalanan saya. Di tengah ketidakpastian jadwal kapal itu, semua tetap semangat untuk berangkat. Jadwal kapal baru kita terima beberapa hari sebelum keberangkatan. Jadi sebagian besar baru beli tiket pesawat tuh last minute. Itu pun baru pada beli tiket pesawat untuk berangkatnya aja. Tiket pulangnya beli belakangan, nunggu kepastian kapal. Buat yang statusnya pekerja kantoran, hal ini tentu bikin deg-degan. Harus siap-siap kalo nantinya terpaksa nambah jadwal cuti.

Siap berlayar menuju Pulau Babar, MBD

Tim narsum di Pantai Weluan

Saya belajar banyak dari teman-teman seperjalanan saya ini. Mereka adalah orang-orang hebat yang rela mengorbankan waktu, biaya, tenaga dan pikirannya untuk berbagi pengalaman langsung dengan para guru di pelosok negeri. Mereka sudah mempersiapkan bahan materi dari rumah. Gak tanggung-tanggung loh, bahan untuk materi itu sampai sekardus dan sekoper sendiri.

Waktu baru dateng, ngeliat Ale nyeret-nyeret koper, saya kirain dia bawa baju banyak. Ternyata koper itu isinya boneka-boneka, alat peraga, buku-buku bacaan, dan gak ketinggalan mic sakti-nya. Artis Cirebon yang satu ini emang paling tak terduga.

Ale dan koper berisi boneka dan buku bacaan

Ale ini juga jago mendongeng. Waktu lagi nongkrong di Pelabuhan Tepa, kami nodong dia buat mendongeng secara spontan. Dengan tema yang langsung kami tentukan saat itu juga. Gak sampe semenit, langsung jadi dongeng berjudul Kepiting, Cumi-cumi dan Babi. Yang penasaran seperti apa dongengnya, silakan tonton langsung di video ini..


Kalo dari kak Adhi, saya jadi belajar banyak tentang Metode Belajar Kreatif (MBK). Materi MBK ini nanti akan jadi salah satu materi yang disampaikan di dalam kelas. Ternyata di balik sosoknya yang terlihat cool, kak Adhi ini bocor juga orangnya. Pembawaannya yang tenang itu ternyata mampu menghidupkan suasana kelas. Waktu motret di kelasnya, saya sampai keasyikan nyimak materi yang disampaikan. Belajar itu menyenangkan, kalau disampaikan dengan cara yang juga menyenangkan.

Kak Adhi beraksi di dalam kelas | Foto by Atika

Bu Wiwit juga bikin saya kagum. Ibu dosen yang satu ini luar biasa semangatnya. Gak kalah ama yang muda-muda. Kayaknya, bu Wiwit ini paling gak tahan ngeliat motor polisi nganggur. Bawaannya pengen naik trus minta difotoin. Hahaha.. Suka ajaib juga kelakuannya ibu yang satu ini. 😃😃

 Bu Wiwit naik motor polisi di Pelabuhan Tepa

Tapi kelak, satu hal yang paling saya ingat dari bu Wiwit adalah cumi-cumi seribuan titipan Haidar, hahaha.. Jadi ceritanya, bu Wiwit dapat amanah dari anaknya untuk jualin origami berbentuk cumi-cumi yang dibikin semaleman sebelum bu Wiwit pergi. Satu cumi-cumi harganya seribu rupiah. Katanya, duit hasil jualan cumi-cumi itu buat beli sosis. Jadilah itu cumi-cumi kami borong, biar Haidar seneng. 

Kalo dari kak Indra, sepertinya saya banyak belajar bagaimana cara menghadapi setiap masalah dengan senyuman. Hahaha bukan kenapa-kenapa, abisnya kakak yang satu ini smiling face banget sih. Selama lima hari jalan bareng, gak pernah sekali pun saya lihat wajah kak Indra tanpa dihiasi senyum. Gak heran kalo akhirnya bapak dan mama guru di kelasnya menyanyikan lagu gandong buat kak Indra karena sudah dianggap sebagai saudara sendiri. So sweet banget gak sih? 😍😍

Kak Indra yang smiling face | Foto by Choty

Kak Indra dan para guru menyanyi gandong

Teman-teman saya sesama tim dokumentator (Atika, Choty dan Diah) juga gak kalah luar biasanya. Gak cuma jago mengabadikan momen, tapi mereka juga adalah orang-orang yang sigap, dan gak pamrih dalam mengerjakan sesuatu. Kalo kata kak Adhi, tim dokumentator plus-plus. Iya, dokumentator yang juga merangkap tugas sebagai narahubung, asisten di kelas, penjaga meja pendaftaran, sampai tukang bungkus nasi kotak. Beta sayang kamong semua...

Tim dokumentator plus-plus | Foto by kak Adhi

Sungguh, bertemu dan berkumpul dengan mereka itu serasa dapat suntikan semangat dan energi positif terus-menerus. Dari mereka, saya belajar banyak tentang arti ketulusan, kesabaran, sikap pantang menyerah, dan sigap menghadapi segala situasi dan masalah. Dangke! Kamong semua su jadi inspirasi beta... Tetaplah berdaya, berjaya, dan bergaya!

Foto bareng di gapura Desa Tepa, Pulau Babar, MBD

Foto bareng di Pantai Weluan | Dok. Choty