Kegiatan tetap hampir tiap lebaran di keluarga suami adalah jalan-jalan. Mumpung saudaranya yang dari Cilacap lagi mudik jadi bisa kumpul bareng.

Jalan-jalannya sih gak jauh-jauh, paling sering ya ke Batu karena pilihan wisatanya banyak terutama untuk anak-anak. Begitu pun dengan lebaran tahun ini, kami sekeluarga lagi-lagi menjatuhkan Batu untuk jujugan jalan-jalan bersama.

Taman Kelinci Pujon



Bisa dibilang acara jalan-jalan kali ini gak digodok ((GODOK)) dengan matang, jadi begitu hari H yang ada pada bingung mau kemana. Apalagi sekarang kita harus mempertimbangkan kondisi ibu mertua yang sudah sepuh dan sedang sakit, jadi harus cari tempat yang sekiranya gak membuat beliau kecapekan.

Atas saran kakak ipar dipilihlah Taman Kelinci Pujon sebagai tujuan jalan-jalan. Lokasinya satu komplek dengan gunung Banyak alias wisata Paralayang. Sekarang daerah sana banyak banget wisata yang kebanyakan sih wisata foto-foto. Sayang aksesnya masih kurang oke. Jalan sempit dan rusak, kita yang berangkat dari rumah kakak ipar di Batu aja butuh satu jam untuk ke Taman Kelinci sampai mobil bisa masuk parkiran, fyuuh.

Mana waktu itu hari sudah sore dan langit mendung, gara-gara mbulet syalala, haha. Selain itu kita rempong bawa stroller plus kursi roda bumer. Untungnya Taman Kelinci ini lumayan stroller friendly asal gak pas kondisi rame aja. Tapi saran saya mending pake gendongan aja, jalannya sempit sih.


Untuk masuk area taman kelinci kita ditarik tiket masuk Rp 25 ribu per orang. Di gerbang masuk dijual pakan kelinci seharga Rp 5 ribu per gelas plastik.

Area taman kelinci gak begitu luas, begitu masuk langsung bisa melihat keseluruhan areanya. Di kanan atas terdapat taman dengan rerumputan hijau dan spot foto sedangkan di kiri bawah area kelinci diletakkan. Setelah itu udah deh langsung ketemu pintu keluar. Ohya, di sini ada spot foto berupa rumah hobit lho. Sayang waktu mau foto di sini hape saya dibawa keponakan yang udah keluar area jadi pinjam hape adik ipar yang resolusinya rendah, huhu.



Jumlah kelincinya lumayan banyak dan dibiarkan tanpa kandang. Tapi saya lihat banyak yang bersembunyi di semak-semak atau sudut-sudut tak terlihat. Takut apa ya sama pengunjung?

Di area kelinci juga ada playground untuk anak-anak. Beberapa tempat duduk untuk pengunjung dan kran air untuk cuci tangan. Petugas sering terlihat untuk membersihkan area taman kelinci sehingga gak heran kalau tempat wisata ini terlihat terawat dan bebas sampah. Cuma ya itu gak banyak yang bisa dilakukan di sini, jadi buat saya yang gak suka binatang malah bosan gak ngapa-ngapain. Apalagi situasi yang ramai membuat saya kurang nyaman karena gak bisa foto-foto dengan bebas, wkwkwk.




De Bamboo Resto




Udara Batu yang dingin emang bikin cepat lapar ya? Dari Taman Kelinci, kami pun beranjak ke De Bamboo Resto yang lagi-lagi atas rekomendasi kakak ipar plus ditraktir beliau pula.

Resto yang baru buka ini konsepnya tempat makan keluarga, jadi menunya gak jauh dari ayam-ayaman dan ikan-ikanan. Harganya standarlah, untuk ukuran Batu bisa dibilang terjangkau. Kakak ipar memesan menu paket dengan harga kalau gak salah ingat Rp 400 ribu yang terdiri dari satu pitcher teh hangat, nasi 2 bakul, 2 piring cah kangkung, 2 piring tahu tempe, 2 piring tahu telur, 2 piring mie goreng, dan masing-masing satu piring ayam goreng, ayam bakar, ikan bakar, dan ikan asam manis. Gak tau karena lapar apa emang enak, hidangan di De Bamboo Resto gak ada yang mengecewakan.

Gak ada foto makanannya :D


Fasilitas di sini juga bisa dibilang lengkap, ada playground, colokan yang banyak, dan wifi. Di tambah bonus desain resto yang instagenic dan view perkebunan yang nyegerin mata.




Lokasinya ada di jalan Panglima Sudiarman No. 4, Batu. Tepat berada di samping Pupuk Bawang Cafe dan gak jauh dari Royal Orchids Garden Hotel

Tya Family Guest House

Berhubung adik suami dari Cilacap datang saat libur kantor mau selesai jadi begitu mereka datang, kita pulang ke Sidoarjo dan balik lagi ke Malang saat weekend. Nah karena kamar yang biasa kami tempati dipakai oleh adik ipar jadi kami memutuskan untuk menginap di hotel saja. Dan emang pengen istirahat, pas lebaran saya dan suami capek banget hidup nomaden plus ngurus rumah bumer yang segede gambreng sendiri *drama ART libur*

Dipilihlah Tya Family Guest House sebagai tempat kami bermalam karena murah, haha. Cuma 200 ribu sudah dapat sarapan. Selain itu kami ingin nostalgia karena dulu pernah tinggal dan punya tanah gak jauh dari penginapan ini.

Lokasinya ada di jalan Joyo Agung No. 99 A, Tlogomas, Lowokwaru. Sederet dengan cafe hits seperti Green Barn, Cokelat Klasik, Bukit Delight, dan lain-lain. Mau makan murah? Di seberang jalan ada warung Cak Per yang terkenal sebagai tempat makan favoritnya anak kosan. Dan juga daerah sini kan termasuk jalan alternatif ke Batu, jadi kalau ada rencana jalan-jalan lagi lebih cepat sampai tanpa bermacet ria.

Kami sampai di Tya Guest House sekitar jam 9 malam karena sebelumnya ngaso dulu di rumah kakak ipar. Begitu check in kami menemui kenyataan bahwa kamar kami gak ada TVnya, akibat gak baca fasilitas dengan teliti. Oh ya, AC juga gak ada tapi itu kita udah tau dari awal dan gak masalah karena lokasinya yang di perbukitan lebih dingin dari Malang Kota.


Kamarnya cukup luas tapi ya minim fasilitas, lantai kamar mandinya agak kotor tapi masih bisa dimaklumi. Wifinya zonk, putus-putus dan signalnya dikit. Sedih akutu hidup tanpa wifi. Paling juara kasurnya nyaman banget, kelihatan masih baru. Gak ambles sama sekali. Emang penginapan ini terbilang baru sih. Waktu saya pindah rumah 3 tahun lalu, Tya Guest House ini masih tahap pembangunan.



Sarapannya ala carte tapi untuk nasi, kerupuk, dan minuman bebas ambil sendiri. Menunya pagi itu adalah sop dan tahu telur bumbu bali. Rasanya enak seperti masakan rumahan tapi nasinya rada keras. Ruang makannya ada di paling belakang bangunan dekat taman yang asri gitu. Asyik banget suasananya kalau pagi.


Saat mau mandi, airnya ngalir kecil banget. Gak tau apa karena kebanyakan yang makai apa gimana, fyuuh.

Overall, kalau buat jujugan tidur doank yang nyaman, murah, bangunannya baru, dan gak spooky, Tya Guest House ini recommended.

Warung De Sawah



Sudah lama bangeeett pengen ke sini karena jatuh cinta dengan suasana dan menu makanannya yang terlihat menggiurkan. Tapi sekarang susah banget mau pergi-pergi kalau lagi di Malang, harus nunggu ada yang jagain bumer. Jadi mumpung nginep di Tya Guest House yang masih searah jadi kami pun memutuskan makan siang di Warung De Sawah.

Alamatnya ada di jalan Bhirawa, Tegalweru, Dau. Sebelah kiri jalan, tepat setelah Wopi Cafe. Sesuai namanya lokasinya memang berada di pinggir sawah. Konsepnya pun saung-saung gitu, asik banget deh suasananya. Mana kebun bawangnya juga di depan saung. Sayangnya kurang orang sepuh friendly karena areanya berundak-undak. Begitu masuk udah harus turun tangga, apalagi kalau memilih lokasi paling bawah. Lumayan juga naik turunnya.



Meskipun mepet sawah, tapi viewnya kurang oke. Malah jauh lebih bagus view dari parkirannya.

Soal menu, ya gak jauh dari menu resto keluarga. Ada juga menu roti-rotian yang terlihat menggiurkan. Tapi karena suasananya necurel menyatu dengan alam gitu, jadi kita pilih menu yang sesuai donk yaitu ayam goreng, tumis kangkung, sambal pete, dan nasi goreng untuk Alif.


Pesanan kami datang cukup cepat, nasi putihnya dibungkus daun pisang sehingga begitu dibuka, aroma daun pisangnya langsung menyeruak. Menu lainnya disajikan di atas piring gerabah dan rotan, pas lah sama konsepnya. Cuma sayang gak disediakan kobokan dan kran airnya cuma ada satu dan jauh pula dari saung kami.

Rasanya enak-enak semua, terutama nasi gorengnya. Kayak nasi goreng rempah gitu, mana porsinya gede pula. Menu lainnya enak tapi gak yang wow tapi tetep bikin makan lahap. Porsinya juga gede, harga cukup terjangkau, puas pokoknya.



Klub Bunga



Untuk kesekian kalinya ke tempat ini lagi dan pernah saya review di sini. Kebetulan kakak ipar dapet free akses masuk ke kolam renang dan club housenya. Kalau biasanya cuma nungguin anak-anak renang, kali ini kami nyobain fasilitas di club housenya juga seperti basket dan badminton. Habis makan berlemak kan ya? Langsung dibakar kalorinya, haha. Sayang area bowlingnya masih tutup dan baru buka saat kami udah mau pulang. Tapi ya udah, udah capek ini. Selain itu kami juga harus melanjutkan perjalanan ke Sidoarjo. Jadi harus memburu waktu supaya gak kemaleman.

Libur lebaran kali ini lumayan bikin saya hepi meskipun jujugan wisatanya gak ada yang istimewa banget. Karena apaa? Karena bisa makan enak-enak. Good Food Good Mood lah judulnya, heuheu.