Mengenakan dress cantik, make up tipis nan manis, dan duduk di pinggir jendela yang bersiramkan cahaya matahari sambil tersenyum memandangi bayi yang tidur lelap saat menegak ASI. Kurang lebih begitulah gambaran saya dulu tentang menyusui. Begitu damai, tenang, dan membahagiakan. Sampai akhirnya saya punya anak dan dhueeerrr, buyar sudah ekspetasi saya soal menyusui yang begitu indah. Ternyata menyusui gak sesederhana itu.


Kebetulan saya baru baca artikel tentang kampanye gembira menyusui dalam rangka menyambut pekan ASI sedunia yang akan berlangsung pada 1 sampai 7 Agustus mendatang. Saya jadi ingin membahas juga bagaimana cara saya agar bisa bahagia saat menyusui.

Turunkan Ekspetasi

Saya banyak menemui ibu-ibu yang meremehkan perihal menyusui. Mereka pikir menyusui itu semudah makan sosis yang tinggal lep. Padahal menyusui itu ada ilmunya. Bahkan ketika sudah mempelajari seluk beluk ASI, masih ada aja hal yang di luar kendali terjadi.

Jadi lebih baik turunkan ekspetasi tentang menyusui supaya kalau ada hal yang gak sesuai perkiraan, kita sudah bisa mengantisipasinya dan gak membuat stres yang malah bisa berpengaruh pada produksi ASI.

Cari Tahu Sebanyak-banyaknya


Penting banget mempelajari seluk beluk tentang menyusui supaya kalau ada apa-apa, kita gak panik duluan. Misalnya ketika anak menyusu terus seperti gak kenyang-kenyang karena growth spurt. Kalau gak tahu kan kita mengira bahwa produksi ASI kurang padahal kan memang lagi masanya growth spurt.

Di era digital saat ini, info soal ASI lebih mudah didapatkan. Gak melulu dari buku, kini sudah banyak media digital yang informatif dan apa yang disampaikan bisa dipertanggungjawabkan, salah satunya adalah GLITZMEDIA.CO | Portal Online Khusus Dunia Perempuan.

Seperti taglinenya, portal online satu ini memang banyak membahas mengenai perempuan dari segala sisi seperti kecantikan, kesehatan, keuangan, sampai parenting termasuk soal menyusui. Banyak banget artikel informatif yang bersumber dari wawancara dengan para pakar, jadi bukan asal comot apalagi copy paste artikel yang sudah ada. Untuk yang mementingkan tampilan visual, desain web GLITZMEDIA.CO adem banget dilihat. Simpel, clean, dan user friendly.


Manfaat ASI ekslusif, tip menyusui tanpa stress, tanda ASI kadaluarsa, sampai penyebab bayi menolak menyusu bisa ditemukan di GLITZMEDIA.CO. Selain soal ASI, belakangan saya lagi suka baca artikelnya yang membahas dekorasi rumah, bikin semangat menata rumah supaya lebih cantik.

Temukan Support System yang Tepat

Banyak banget kasus ibu gagal menyusui karena campur tangan orang lain yang malah membuat ibu jadi stres dan menghambat produksi ASInya.

Jadi ketika menyusui mulai lah selektif dalam memilih lawan bicara. Orang-orang yang ngeselin, sok tau, nyinyir, bikin senewen, ikut campur dan sebangsanya dihindari dulu. Pilih juga tenaga kesehatan yang open minded dan pro ASI, bukannya yang malah bikin down.

Kalau orang yang menyebalkan datang dari suami atau keluarga terdekat? Marahin, haha. Saya galak banget sama suami soal menyusui. Suami saya larang ngatur-ngatur kecuali dia mau baca artikel sahih soal ASI atau mau gantian nyusuin sekalian :p

Beberapa kali saya dicurhatin oleh para suami soal istrinya yang kesulitan menyusui, suaminya yang saya omelin. "Makanya disenengin istrinya, jangan nyalahin mulu tapi gak kasih solusi" omel saya.

Mood Booster is a Must



Karena salah satu faktor berhasilnya menyusui adalah ada pada kondisi psikis ibu, jadi hal-hal yang bisa menaikkan mood itu penting banget untuk mendukung produksi ASI. Mood booster saya sih banyak banget tergantung situasi dan kondisi, tapi gak jauh-jauh dari makan, jalan-jalan, dan hapean, haha. Kalau 3 kebutuhan tersebut terpenuhi, dijamin deh mood bagus ASI ngucur terus.

Menurut saya tujuan menyusui itu adalah memberi nutrisi untuk bayi agar tumbuh kembangnya maksimal. Tapi makin ke sini, menyusui tak ubahnya seperti perlombaan, semua ingin berhasil menyusui sehingga menomorsatukan ASInya, bukan bayinya. Gimana caranya harus sukses ASI demi gengsi, bukan gimana caranya agar kecukupan nutrisi bayi terpenuhi. Padahal yang terpenting kan bayinya, bukan ASInya. Jadilah, menyusui jadi semacam beban dan momok menakutkan bagi para ibu.

Menyusuilah dengan gembira, ibu. Bukan karena ASI adalah asupan terbaik, bukan juga karena semua ibu melakukannya tapi karena bayimu menyukainya.