Namanya punya anak bayi yang lagi masa-masanya suka eksplorasi dan memasukkan segala benda ke mulutnya itu rumah jadi wajib banget harus bersih dan rapi setiap saat ya? Kalau kecolongan, bisa gawat. Benda ajaib bisa masuk ke mulutnya dan beresiko untuk kesehatan si bayi.


Tapi di satu sisi, rumah juga susah rapi kalau punya anak toddler yang hobi main apalagi kalau mainannya jenis bongkar pasang kecil-kecil yang suka berserakan ke seluruh rumah dan kalau keinjek sakitnya kayak abis ditinggal mantan nikah, hahah. Ngeliatnya aja bikin pusing, apalagi beresinnya. Duh rasanya pengen punya Asisten Rumah Tangga (ART) kayak orang-orang supaya rumah cling terus, tapi punya ART juga bisa jadi masalah baru kan ya dengan segala dramanya?

Untungnya sekarang rumah udah lumayan sering rapi daripada berantakannya meskipun punya dua anak dan tanpa bantuan ART sekali pun. Saya gak pernah stres buat beres-beres lagi kalau tau ada tamu yang mau datang ke rumah.

Ini tips berdasarkan pengalaman pribadi saya agar rumah awet rapinya meski tanpa bantuan ART.

Bergaya Hidup Minimalis



Karena tergiur dengan iming-iming membersihkan rumah lebih cepat, beberapa bulan ini saya mencoba menerapkan gaya hidup minimalis hampir di semua aspek. Untuk lebih jelas tentang gaya hidup ini, bisa browsing sendiri ya. Intinya sih, gaya hidup minimalis menekankan pada moto cukup dan bahagia. Jadi ya punya barang secukupnya aja.

Langkah pertama yang saya lakukan tentunya adalah decluttering semua barang di rumah dari baju, make up, skincare, mainan anak-anak, tas, buku, sampai perabotan rumah tangga. Pokoknya barang yang gak pernah dipakai, singkirkan! Hahah.

Buang pikiran, nanti kalau butuh gimana? kalau buku ini mau dibaca lagi gimana? ini dress merah satu-satunya kalau ada event yang dresscodenya merah gimana?

Percayalah, barang yang sudah 6 bulan gak pernah disentuh berarti ya kita gak butuh-butuh amat, lagipula manusia kan dikasi kemampuan bertahan hidup. Kalau ada sesuatu terkait kebutuhan untuk suatu barang, ya pastilah bisa nyari jalan keluar masalahnya.

Setelah decluttering, selanjutnya yang saya lakukan ya mempertahankan jumlah barang di rumah agar gak menumpuk lagi. Jadi tiap mau beli barang, benar-benar dipikir bakal ditaruh di mana, barang lama mana yang mau disingkirkan alias sistem one in one out, dan beneran butuh gak sama ini barang.

Terbukti sejak menerapkan gaya hidup minimalis, beres-beres rumah jadi lebih cepat karena items yang dibereskan lebih sedikit. Rumah juga jadi lebih lega alias kosong melompong, heuheu.

Beri "Rumah" untuk Tiap Jenis Barang



Tips ini saya ambil dari Marie Kondo yang terkenal dengan seni beres-beresnya itu. Nah setelah decluttering, barang-barang yang tersisa dan belum punya "rumah" baru kita carikan "rumah" nya. Kalau kita kan suka kebalik, baju udah gak cukup di lemari kemudian dibeliin lemari baru bukan bajunya yang dikurangi, heuheu.

Metode ini berhasil membuat saya lebih tertib dalam meletakkan suatu barang. Selain itu barang-barang jadi lebih mudah dicari karena udah dipisahkan berdasarkan jenisnya.

Melipat Ala Konmari



Siapa yang suka gregetan sama kondisi lemari yang baru dirapikan tapi udah berantakan lagi?

Dulu semua lemari di rumah kondisinya bagai terkena badai, berantakan banget. Baru dirapikan, eh begitu mau ambil baju jadi berantakan lagi. Saya sampai malas mau naruh hasil setrikaan ke lemari karena artinya kudu beresin lemari dulu supaya bisa naruh baju-bajunya.

Sejak menerapkan lipat baju ala Konmari, sekarang udah gak pernah merapikan lemari lagi. Beneran deh, baju-baju awet rapinya karena sistem Konmari kan baju yang dilipat harus bisa berdiri. Nah, karena bajunya berdiri sendiri, jadi kalau mau ambil baju, yang lainnya gak akan roboh. Gak perlu meluangkan waktu lagi untuk merapikan lemari, yeay!

Ruang Khusus Untuk Bermain


Namanya punya anak, salah satu sumber berantakannya rumah ya darimana lagi kalau bukan dari mainan yang berserakan. Jadi untuk menyembunyikan kekacauan dari penglihatan orang, saya buatkan ruang main anak-anak di kamar belakang. Yaah meskipun Alif tetep aja suka bawa mainannya kemana-mana, tapi lumayanlah mainan yang tercecer di luar kamar mainnya cuma beberapa. Jadi gak perlu pakai emosi beresinnya, haha.

Gadget Adalah Koentji


Saya dan suami punya perbedaan pola asuh soal gadget untuk anak. Saya tidak memberikan ijin untuk Alif memainkan hp saya, sedangkan suami sangat longgar bahkan dialah orang pertama yang mengenalkan game pada Alif. Karena dia punya cita-cita pengen bisa main game bersama dengan anaknya. Jadilah, Alif hanya boleh main hp Papanya yang mana ya kalau suami di rumah. Kalau lagi sama saya aja, dia gak main hp sama sekali.

Kalau gak lagi main hp, Alif jadi super aktif dan kreatif. Kadang suka kelewat kreatif, barang-barang di rumah bisa dijadikan apa aja sesuai imajinasinya dia. Cuman ya resikonya rumah jadi berantakan, barang-barang bertebaran gak sesuai tempatnya. Kalau lagi rajin, ya saya biarin aja Alif melakukan yang dia suka. Kalau udah selesai mainnya baru saya beresin. Tapi kalau keluar malesnya, Alif pun saya beri ijin untuk main hp. Rumah pun akan awet rapinya, haha.

Tapi tentu saja bukan hp yang saya pakai komunikasi sehari-hari melainkan hp Samsung tab saya yang lama yang biasa saya pakai untuk ngeblog juga. Soalnya ini hp tahan banting banget, umurnya hampir sama dengan Alif tapi gak rusak-rusak sampai sekarang. Udah jatuh macam apa juga, gak pernah rewel. Di rumah ada 3 hp Samsung dan semuanya pada tahan banting. Cocok buat yang punya anak yang kalau lagi tantrum suka lempar hp, hehehe.

Tips beres-beres rumah ala saya ini tentu saja gak bisa diterapkan ke semua orang karena kondisi masing-masing orang kan berbeda. Baiknya kita sendiri yang mengetahui bagaimana kebiasaan kita saat membersihkan rumah. Kalau orang yang punya waktu terbatas atau tipe pemalas kayak saya, mungkin gaya hidup minimalis bisa banget diterapkan. Tapi kalau tipe merasa rumah penuh dengan barang itu memberi kesan hangat, ya silahkan jalani gaya hidup maksimalis. Yang jelas selama di rumah ada kehidupan, yang namanya beres-beres itu harus selalu dilakukan. Semuanya balik ke diri sendiri lagi, mau rumah rapi terus atau gak masalah dengan rumah berantakan?