Merasa Sudah Mampu dan Bisa? Hati-hati penyakit satu ini. Wah serem amat ya judulnya. Tapi penyakit apa ya, yang kira-kira bisa menjangkiti orang yang “merasa sudah” bisa atau mampu? Kita bahas sedikit yuk. Mumpung Tanjungpinang hujan, jadi kita bahas yang lagi hot.

Dua tahun terakhir, saya mulai menggunakan whatsapp sebagai media belajar dan mengajar. Banyak sekali kelas online yang bisa di ikuti secara gratis di whatsapp. Banyak yang menyingkatnya dengan kulwap atau kuliah whatsapp. Dikuliah whatsapp ini ada pemateri tentu ada pula materi. Biasanya orang akan banjir banget ikutan suatu kelas jika gratis dan judulnya menarik. Terutama ibu-ibu yang karena tangannya sudah lincah untuk mencet link join itu juga mudah banget. Hehehe

Singkat cerita, jadilah penuh suatu grup dengan cepat. Dan dibagikan materi yang akan dibahas. Lhoo ehh tapi baru beberapa menit materi dibagikan sudah banyak yang “left grup” alias meninggalkan kelas tanpa pamit. Padahal narasumber belum muncul. Tentu kita jadi bertanya-tanya kok pada kabur ya, padahal kelas belum mulai? Lalu saya ikutan klik materinya. Ternyata isinya singkat banget dan datar. Sambil mikir “akhh ginian aku juga tau” atau “alah ini juga sudah bisa”, lalu… Astagfirullah. Saya barusan… saya juga jadi bagian orang yang meremehkan. Degg

Meremehkan Orang Lain

Pernahkah kita merasa sudah bisa atau sudah tau sehingga tidak perlu bertanya kepada orang lain? Atau pernahkah kita merasa kita sudah lebih baik dari orang lain sehingga meremehkan atau menyepelekan orang lain?

Misalnya.. saat kemarin saya perjalanan dari Batam ke Tanjungpinang. Kami menaiki kapal ferry sekitar 60menit. Banyak sampah terapung di pelabuhan. Terus anak saya Aqila bertanya “mi, banyak sampah disana. Kasian ikannya”. Iya nak jangan gitu ya nak, jangan buang sampah sembarangan. Buangnya di tong sampah ya”. Lalu saya didalam hati saya merasa sudah jadi orang baik dan bangga buang sampah pada tempatnya. Dan yang buang sampah disana orang hina.

Kejadian seperti diatas mungkin dianggap tidak mengapa, tapi hal yang sedikit-sedikit menumpuk dihati bisa berbahaya. Yaitu perasaan lebih baik”. Astagfirullah wa nauzubillah.

Misalnya lagi saat kita merasa sudah taat beribadah dan melihat orang lain gak taat. Macam jarang-jarang kemasjid. Atau kita merasa sudah sering bersedekah tapi jarang banget lihat saudara kita sedekah. Atau kita lihat orang lain kerjaannya update status mulu dan kita jarang update status tapi rajin nyecroll status orang.

Tidak ada salahnya bangga menjadi orang baik. Tidak salah sama sekali. Tapi setetes kesombongan yang hadir mungkin makin lama bisa menumpuk. Walau setetes kesombongan dia hadir tersembunyi dihati kita tanpa kita sadari. Dan bahayanya saat kita membanggakan diri sendiri saat bersamaan kita meremehkan orang lain yang tidak “sebaik kita”. Lalu tidak disadari lagi tumbuh penghakiman sendiri. Contohnya kasus sampah yang saya lihat di pelabuhan tempo hari. Setelah menjawab pertanyaan Aqila dalam hati ikutan ada yang nimpalin “ini yang buang sampah di laut gini pada mikirin bahayanya ga sih,kasian juga hewan laut. Laut kotor. Padahal sudah tua dan sekolah. Blablabla kayak aku gini buang sampah ditong sampah dekat gini tong sampahnya, ngajarin anak buang sampah yang baik” #sambilmeliriksekelilingsinis.

Sok iyes banget ya mamak satu ini. Merasa baik.. kalau iya beneran baik mah gak bakal ngehakimin orang dalam hati. Banyak-banyak istighfar. Malu banget kalau ingat. Tapi ditulis gini biar selalu ingat dan jadi refleksi diri. Baik itu adalah berlaku yang baik dan berfikir yang baik. Jadi jika baik tentu tidak terfikirkan akan meremehkan orang lain apalagi menghina. Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Jadi karena ingin jadi ibu yang baik maka penyakit meremehkan orang lain harus disingkirkan.

Meremehkan Urusan dan Waktu

Pernah juga gak janjian dengan orang lain, namun saat waktu yang dijanjikan jangankan hadir, memberi kabar pun tidak. Saya alhamdulillah agak sering sekali dalam situasi ini. Bukan karena ga ikhlas datang terus mengeluh bukan. Tapi rasanya hati jadi sedikit ternoda saja dengan pikiran dalam kepala kenapa beberapa orang yang janjian tidak ada kabarnya. Padahal kita sudah meluangkan waktu. Ada kisah yang diceritakan kepada saya, seorang bapak ingin menjodohkan anak gadisnya kepada keluarga temannya. Lalu temannya berjanji akan datang hari sabtu pekan berikutnya. Sampailah dihari yang dimaksud, dan bapak si gadis menyiapkan hidangan dan jamuan dengan baik. Ternyata si temannya tidak datang. Tanpa alasan dan tanpa menelpon. Akhh saya yang ga ada hubungannya aja sedih mendengarnya apalagi keluarga si bapak. Pelajaran banget ini untuk saya.

Tak luput juga kadang dalam berkomunitas. Saat memberikan ide ada rasa ide saya lebih baik lalu meremehkan ide atau masukkan dari orang lain. Atau ada rasa bahwa yang dikerjakan oleh orang lain itu hal remeh dan sepele. Siapapun juga bisa melakukannya. Gampang gitu. Simple dan mudah kayak gitu. Astagfirullah jelas banget ini salah. Tapi bahwa ada yang tak ingin masuk neraka sendirian tentu akan selalu membisikkan kita untuk bersikap dan berfikir buruk.

Memang jadi orang baik itu tidak mudah. Sama seperti tidak mudahnya syurga itu didapatkan. Harus ada ujian. Seperti hal yang diatas, walau kita tau itu tidak benar namun kadang masih ada dilakukan walau gak parah banget. #katague

Belajar lagi untuk tidak meremehkan orang lain, baik dari waktu nya, idenya atau hal lain yang dilakukannya. Karena kita belum tentu lebih baik darinya, dan diwaktu yang akan datang mungkin kita akan ada di posisinya tanpa kita bisa berbuat lebih baik darinya.

The post Merasa Sudah Mampu dan Bisa? Hati-hati penyakit satu ini appeared first on Umi Journey.