Duduk di pesawat. Foto: milkovasa/Fotolia


Menjelang pesawat lepas landas dan mendarat, biasanya pramugari akan mengingatkan penumpang untuk menegakkan sandaran kursi, melipat meja, menempatkan barang bawaan di kolong kursi, membuka penutup jendela, serta memasang sabuk pengaman.


Alat-alat elektronikpun hanya boleh digunakan setelah pesawat sukses mengudara. HP juga tentu harus dimatikan sepanjang perjalanan, atau setidaknya diset ke airplane mode. Pramugari akan keliling untuk mengecek apakah semua penumpang sudah mematuhi aturan tersebut.

Sebenarnya, apa alasan aturan-aturan tersebut dibuat?

Critical Eleven

Sebanyak 80-90% kecelakaan pesawat terjadi di tiga menit setelah lepas landas dan delapan menit sebelum mendarat. Sebelas menit ini dikenal sebagai ‘Critical Eleven’ atau ‘Plus Three Minus Eight rule’. Karena itu, menjelang take-off dan landing, pramugari tak bosan-bosan mengingatkan penumpang dan memeriksa apakah sandaran kursi sudah ditegakkan, HP sudah dimatikan, dan sebagainya.

Mengapa Sandaran Kursi Harus Ditegakkan, Meja Dilipat, dan Barang Bawaan Tidak Boleh Dipangku?

Saat kecelakaan terjadi, penumpang hanya punya waktu 90 detik untuk keluar dari pesawat atau disebut ‘golden time’. Lebih dari itu, penumpang bisa meninggal karena bermacam penyebab seperti menghirup asap, kekurangan oksigen, atau pesawat tenggelam karena mendarat di air. Dalam waktu satu setengah menit tersebut, kabin pesawat yang terbakar bisa mencapai suhu yang melelehkan kulit manusia!

Satu pintu keluar darurat dirancang untuk mengevakuasi sekitar 65 orang dalam waktu singkat tersebut. Menegakkan sandaran kursi, melipat dan mengunci meja, serta menaruh barang bawaan di overhead bin atau di bawah kursi akan mempercepat kamu keluar dari pesawat karena tidak ada yang menghalangi.

Mengapa Penutup Jendela Kabin Harus Dibuka?

Kelihatan remeh, tapi aturan ini penting. Saat pesawat akan lepas landas atau mendarat, penutup jendela kabin harus dibuka agar penumpang bisa melihat keadaan di luar. Misalnya ada sesuatu yang salah di sayap, penumpang bisa memberitahukan pramugari karena kru kabin dan pilot mungkin tidak menyadari hal tersebut.

Mengapa HP Harus Dimatikan?

Penggunaan telepon seluler dapat mengganggu kerja alat sinyal di kokpit. Karena itu, HP, radio, atau TV portabel harus dimatikan atau diubah ke mode airplane mode atau flight mode selama penerbangan. Alat elektronik seperti laptop atau MP3 player juga harus dimatikan saat lepas landas dan mendarat, namun boleh digunakan saat tanda aman sudah diberikan.

Mengapa Lampu Kabin Diredupkan di Penerbangan Malam Hari?

Ini bukan semata soal kenyamanan agar penumpang dapat beristirahat dengan lebih tenang di malam hari. Jika terjadi kecelakaan dan kabin yang tadinya terang menjadi gelap karena lampu padam, mata butuh waktu untuk beradaptasi. Supaya tidak membuang waktu untuk adaptasi mata saat pendaratan darurat dilakukan, lampu kabin sengaja diredupkan.

Mengapa Sabuk Pengaman Harus Dipasang?

Turbulensi membuat pesawat di udara bagaikan sebuah sampan kecil di laut yang tengah badai. Namun, turbulensi tidak akan merusak pesawat. Meski penumpang panik karena pesawat terasa anjlok beberapa meter, kemungkinan pesawat sebenarnya hanya bergerak beberapa sentimeter dan pilot menganggapnya sebagai gangguan biasa.

Sabuk pengaman berfungsi penting di sini. Sebab, kebanyakan cedera akibat turbulensi terjadi ketika pramugari dan penumpang terpental-pental di dalam kabin.

Jangan remehkan sabuk pengaman tambahan untuk bayi di bawah umur dua tahun yang duduk di pangkuan. Sebab, pesawat yang menukik tajam saat kecelakaan membuat anak dengan berat 13 kilogram menjadi seperti 65 kilo. Tanganmu tidak akan kuat menahannya.


Kalau sudah takdir, kita memang tidak bisa menghindar. Tapi, setidaknya kita masih bisa berusaha menyelamatkan diri jika masih ada kesempatan. Jadi, jangan abaikan safety demo, kartu instruksi keselamatan, serta aturan-aturan yang diberikan pramugari saat naik pesawat, ya.