Berobat dari puskesmas ke rumah sakit pakai BPJS Kesehatan sudah pakai rujukan online

"Untuk kemudahan dan kepastian layanan rujukan dari Faskes Tk. I ke Rumah Sakit dilakukan secara ONLINE"

Begitu isi spanduk yang terpampang pada sisi kanan pintu masuk puskesmas. 

Udah tahu apa belum nih BPJS Kesehatan punya sistem baru mengenai rujukan dari faskes pertama ke faskes lanjutan? Kalau belum, semoga sehat-sehat saja, sampai enggak pernah ke puskesmas/klinik. Tapi, jika sempat ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan belum ada pengumuman sistem rujukan terbaru, boleh lho bertanya ke petugasnya atau telepon ke care center BPJS Kesehatan (baca di sini).



FYI, saat ini BPJS Kesehatan sedang melakukan ujicoba sistem terbaru yaitu rujukan online khusus rawat jalan. Sistem ini telah diuji coba sejak 15 Agustus 2018 melalui tiga fase. Hasil evaluasi fase pertama bisa dibaca di sini.

Rujukan online sebagai terobosan BPJS Kesehatan untuk perbaikan layanan masih terus dikenalkan ke masyarakat. Apa saja tantangan yang BPJS Kesehatan hadapi dalam implementasi sistem baru ini?

Tantangan dan Solusi Fase 2 Ujicoba Rujukan Online


Selasa, 2 Oktober 2018, di Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Jakarta, Deputi Direksi Bidang Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan Arief Syaefudin menjelaskan berbagai tantangan dan solusi yang dihadapi dalam ujicoba rujukan online tersebut. Secara garis besar, ada tiga poin utama yang terus disempurnakan, yaitu:

  1. Penetapan mapping fasilitas kesehatan.
  2. Kesesuaian data kapasitas yang diisi oleh rumah sakit.
  3. Proses sosialisasi kepada stakeholder maupun peserta JKN-KIS.

Dalam penetapan mapping fasilitas kesehatan, awalnya hanya berdasarkan jarak yaitu maksimal 15 km. Namun, sekarang ini telah disempurnakan dengan mempertimbangkan kemudahan akses ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) alias rumah sakit. Jadi, bisa saja pasien mendapat rujukan ke rumah sakit di luar radius 15 km namun mudah dijangkau, enggak sampai naik gunung - turun lembah, gitu.

Pengumuman sistem rujukan online BPJS Kesehatan di puskesmas
Aplikasi PCare juga dibuat lebih fleksibel untuk waktu rujukan. Misalkan pasien datang ke puskesmas hari Minggu kemudian perlu dirujuk. Awalnya pada aplikasi tidak menunjukkan rumah sakit mana yang menerima rujukan karena hari Minggu tidak ada poli spesialis di rumah sakit yang buka. Sekarang sudah diperbaiki sehingga pasien dapat memilih waktu rujukan untuk beberapa hari ke depan dengan tenggat waktu rujukan 90 hari (tanggal dan bulan masa berlaku rujukan tertera jelas).

Selain itu, rujukan online membantu penyebaran rujukan agar tidak menumpuk di rumah sakit tertentu. Rumah sakit kelas C dan D menjadi prioritas rujukan. Bila kapasitasnya sudah 80%, maka pasien dirujuk ke rumah sakit kelas lebih atas.

Akan tetapi, hal ini bukan berarti mengurangi kualitas pelayanan kesehatan. Jika memang kompetensi tenaga medis/ fasilitas rumah sakit yang tepat ada di kelas B atau A, pasien dapat langsung dirujuk ke sana.

Hal ini berlaku juga untuk pasien JKN-KIS dengan kasus-kasus rujukan kondisi khusus seperti gagal ginjal, hemofilia, thalassemia, kemoterapi, radioterapi, jiwa, kusta, TB-MDR, dan HIV-ODHA. Pasien tersebut dapat langsung mengunjungi rumah sakit kelas manapun sesuai riwayat pelayanan sebelumnya selama ini.

"Implementasi sistem rujukan online tidak mengurangi mutu pelayanan yang diberikan."

Sampai saat ini BPJS Kesehatan masih menyempurnakan aplikasi PCare untuk rujukan online. Hal yang menjadi PR penting yaitu memvalidasi kesesuaian data kapasitas yang diisi oleh rumah sakit dengan melakukan spot check (pemeriksaan langsung di lapangan). Poin yang divalidasi yaitu jumlah dokter, waktu praktek, dan perkiraan pasien yang dapat ditangani setiap hari.
Setelah ujicoba rujukan online terdapat kenaikan pasien untuk rumah sakit kelas C dan D

Ujicoba yang direncanakan selesai pada akhir September, kini diperpanjang hingga 15 Oktober 2018 sembari menyempurnakan sistem yang ada. Semoga setelah ini sistem rujukan online dapat full beroperasi dan memberikan dampak positif bagi pelayanan pasien JKN-KIS.