SCG Sharing The Dream - Ketika teman-temannya asyik membicarakan rencana kuliah selepas SMA, Sari lebih memilih diam. Bukannya tak mau melanjutkan ke perguruan tinggi, namun ia memahami kondisi keuangan keluarga yang hanya dapat membiayai pendidikannya hingga SMA. Untuk kuliah, Sari harus mengumpulkan dana dari bekerja.  Cita-cita dan semangat tinggi diperlukan dalam belajar. Namun, apalah artinya semangat tersebut tanpa dukungan biaya seperti kisah sahabat saya tersebut.

Membahas tantangan pendidikan di Indonesia dalam SCG Sharing The Dream
Membahas isu pendidikan dan program SCG Sharing The Dream mengingatkan saya kepada kisah Sari. Andai ketika itu mengenal SCG Sharing The Dream, mungkin Sari dapat segera melanjutkan kuliah tanpa terbebani masalah biaya.

Syarat Mendapat Beasiswa SCG Sharing The Dream

Pemerintah telah mengadakan berbagai program pemerataan pendidikan, akan tetapi butuh peran berbagai pihak untuk mendukungnya. Salah satu dukungan pendidikan yang lebih baik datang dari konglomerat bisnis terkemuka di ASEAN, SCG (Siam Cement Group) dengan program beasiswa SCG Sharing The Dream.

Nantapong Chantrakul, Country Director SCG Indonesia, menjelaskan SCG merupakan perusahaan dengan tiga bisnis utama, yaitu: Cement – building materials, packaging, dan chemicals. Sebagai bentuk kepedulian pada masyarakat, khususnya di daerah operasional, SCG mengadakan program CSR berupa pemberian beasiswa kepada siswa kelas X-XII (kelas 1-3 SMA) lewat Sharing The Dream. Program ini telah berlangsung sejak 2012 dengan total penerima beasiswa di Indonesia sekitar 2300-an siswa.
Nantapong Chantrakul, Country Director SCG Indonesia
Mengusung jargon “Passion for Better”, SCG ingin bersama-sama penerima beasiswa untuk membangun Indonesia di bidang yang sesuai passion masing-masing. SCG berharap semangat passion for better menular ke banyak orang. Setuju banget! Ketika melakukan sesuatu sesuai passion, pekerjaan menjadi lebih mudah dan bersemangat. Kalaupun ada tantangan, tetap berusaha menghadapinya.

Novia Kardiyanti, Brand and Communication of SCG Indonesia, menjelaskan proses seleksi beasiswa SCG Sharing The Dream yang unik. Syarat melamar beasiswa SCG, antara lain:
  • Nilai rata-rata rapor minimum 75.
  • Tidak pernah terlibat tindak kriminal.
  • Mengisi formulir.
  • Menulis esai sepanjang 250-300 kata dengan tulisan tangan. Topiknya berganti-ganti tiap tahun. Untuk 2018 ini, esainya berjudul “Passion for Better: Keluargaku Api Semangatku Mewujudkan Masa Depan yang Lebih Baik”.

Esai tersebut dikirim ke psikolog untuk menilai motivasi dan karakter pelamar beasiswa. Diharapkan siswa terpilih tak hanya berprestasi akademik baik, tetapi juga memiliki rasa terima kasih yang tinggi bagi keluarga karena keluargalah yang mendukung siswa meraih mimpi selama ini.

Selain itu, pegawai SCG yang secara sukarela mengurus proses seleksi beasiswa juga berkunjung ke rumah-rumah calon penerima beasiswa (home visit). Kunjungan ini untuk melihat kondisi ekonomi keluarga dan mengabarkan ke orang tua bahwa anaknya lolos beasiswa SCG.

(ki-ka): Setiawan Novaldi, Tasya Kamila, Novia Kardiyanti, dan MC dalam SCG Sharing The Dream Gathering 26 Juli 2018 di Jakarta
Saya makin penasaran dengan beasiswa ini hingga mencari formulir beasiswanya lewat internet. Rupanya pada formulir, siswa diminta menyebutkan cita-cita, pelajaran dan tokoh favorit, juga minat/bakat yang dimiliki. Wow, benar-benar orang terpilih yang pintar di sekolah, bermoral baik, peduli sekitar, dan sayang keluarga yang mendapat beasiswa Sharing The Dream.

FYI, Sharing The Dream sementara ini diprioritaskan untuk siswa SMA di daerah operasional SCG, antara lain: Bogor, Karawang, Tangerang Selatan, Lebak, dan Sukabumi. Info pendaftaran dapat dilihat di website www.scg.com/id atau sekolah yang bekerja sama dengan SCG.

Beasiswa Berkelanjutan Sharing The Dream

Siang itu hadir pula seorang penerima beasiswa Sharing The Dream yang berbagi pengalamannya. Setiawan Novaldi mendapat beasiswa dari SCG sejak 2016 saat bersekolah di SMAN 1 Bogor. Tahun berikutnya ia kembali melamar dan lolos lagi.

Tahun ini ia mendapat penawaran dari SCG untuk melanjutkan beasiswa tersebut di tingkat perguruan tinggi. Kabar baiknya, mulai 2018 SCG memperluas cakupan beasiswa untuk mahasiswa juga, terutama bagi penerima beasiswa SCG ketika SMA. Tawaran ini pun disambut hangat oleh Seti dan kini ia lebih percaya diri menempuh pendidikan di Teknik Sipil ITB tanpa terbebani masalah biaya. Alhamdulillah.

Bagi Seti, beasiswa berperan penting membantu generasi muda meraih cita-cita. Dengan beasiswa, pelajar yang punya kemauan dapat melanjutkan pendidikan. Kelak saat siswa tersebut sukses, ia akan memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat.

Passion membuat berani bermimpi, berkarya untuk negeri


Tips Mendapat Beasiswa a la Tasya Kamila

Semangat memperoleh pendidikan lebih baik ditularkan pula oleh artis Tasya Kamila. Ayah Tasya hanya membiayai pendidikan hingga S1. Untuk melanjutkan S2, Tasya berusaha sendiri. Syukur alhamdulillah ia mendapat beasiswa master di Amerika. Kini ia telah mendapat gelar Master of Public Administration dari Columbia University.

Mencari beasiswa itu penuh tantangan. Banyak persyaratan dan langkah yang harus dijalani. Bagi Tasya, yang paling menantang saat apply beasiswa yaitu self reflection yang dituangkan ke dalam esai. Pelamar beasiswa perlu memahami mengapa beasiswa tersebut penting bagi dirinya dan apa yang dapat diberikan pada masyarakat & negara. Pelamar harus percaya diri dan yakin lolos seleksi.

Tasya sendiri nampak begitu percaya diri dan mendapat benefitsebagai public figure. Ia memiliki platform untuk menebarkan hal positif sebagai sarana turut membangun Indonesia. Kini ia berfokus pada kegiatan yayasan Green Movement miliknya, salah satu programnya mengalirkan listrik ke sekolah di Pulau Sumba.

Solusi Pendidikan Indonesia

Ini yang berbeda dari blogger gathering yang pernah saya ikuti. Para undangan diajak berdiskusi dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan tema seputar pendidikan Indonesia.

Saya masuk kelompok 1 dengan tema mengenai passion for better. Anggota kelompok kami terdiri dari beragam latar belakang pendidikan dan profesi. Ada pengusaha, mahasiswa penerima beasiswa Sharing The Dream, pegawai SCG, blogger, dan komunitas lainnya. Kemajemukan ini menjadikan proses diskusi lebih ramai, saling melempar pendapat. Sampai-sampai sang sekretaris bingung menulis yang mana dahulu. Hehehe.

Kami menyimpulkan sistem pendidikan dan sebagian mindsetmasyarakat Indonesia kurang mendukung passion. Siswa harus belajar terlalu banyak hal yang nantinya kurang digunakan, membuat tidak fokus belajar. Jack of all trade, master of none.

Saran dari kami: sistem pendidikan berbasis kompetensi yang lebih berfokus pada bakat/minat siswa, orang tua peduli dan menggali passion anak (jangan hanya menyerahkan pendidikan ke pihak sekolah), serta memfasilitasi pengembangan passion dengan pemberian sarana & prasarana.

Diskusi pendidikan di Indonesia 
Secara garis besar diskusi 6 kelompok sore itu memberi solusi pendidikan Indonesia sebagai berikut:
  • Langkah terintegrasi melalui digital dan kolaborasi dengan komunitas lokal untuk penyebaran informasi pendidikan serta meningkatkan kualitas pengajar melalui training of trainers.
  • Beasiswa tak hanya memberikan dana pendidikan tetapi harus memiliki dampak balik yang positif. Penyebaran informasi beasiswa seperti SCG Sharing The Dream agar semakin diperluas ke daerah-daerah yang membutuhkan.
  • Kemudahan akses pendidikan dengan kolaborasi bersama komunitas-komunitas digital.

Salut dengan SCG yang secara kontinyu memberikan beasiswa bagi anak-anak Indonesia. SCG juga peduli alumni awardee saat SMA menerima beasiswa, jangan sampai tidak melanjutkan kuliah karena alasan biaya. Semoga semangat passion for better semakin meluas untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih cerah.