Masa remaja merupakan masa dalam rentang kehidupan yang dipenuhi dengan berbagai perubahan. Biasanya ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis. Keduanya sangat mempengaruhi munculnya suasana hati (mood) dan perilaku. Seperti penggalan lirik lagu bang Haji Roma Irama, masa muda masa yang berapi-api, benar adanya. Setiap hal yang ingin dilakukan terlihat tergesa-gesa entah apa hasilnya nanti .

kesehatan jiwa pada remaja 1

Perubahan yang dialami secara natural tersebut berdampak pada remaja era millenial ini. Dimana dunia maya telah merenggut banyak waktu mereka. Tentunya hal ini rentan terhadap kejahatan yang sering diberitakan seperti cyber bullying atau game yang mengandung kekerasan. Apabila hal ini sudah terjadi, artinya generasi muda mengalami krisis kesehatan jiwa. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya untuk menanganinya.



Dalam memperingati Hari Kesehatan Jiwa Se-dunia (HKJS) tiap tanggal 10 Oktober, Kementrian Kesehatan mengadakan temu blogger pada hari Kamis, 4 Oktober 2018 di Ruang Naranta Lt 1 Blok C Gedunh Adhyatma. Kali ini mengangkat tema "Young People and Mental Health" In A Changing World" (Generasi Muda yang Bahagia, Tangguh, dan Sehat Jiwa Menghadapi Perubahan Dunia). Pembahasan yang sesuai dengan kondisi anak muda sekarang. Meskipun saya sudah lewat masa mudanya, tapi penampilan harus tetap muda.

Temu blogger kali ini dipandu oleh Bapak Indra Rizon, SKM, M.Kes (Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat) dan menghadirkan 2 narasumber yang ahli di bidang kesehatan jiwa:
  • Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza)
  • dr. Eka Viora, Sp.KJ (Ketua PDSKJI Pusat)

kesehatan jiwa pada remaja 2
Kiri-kanan: dr. Eka Viora, Sp.KJ
Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH
Indra Rizon, SKM, M.Kes

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Se-dunia ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran seluruh warga dunia akan pentingnya masalah kesehatan jiwa serta mobilisasi segala upaya untuk mendukung kesehatan jiwa, sekaligus merupakan kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk baju membahu dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat jiwanya di seluruh dunia.

"Hari Kesehatan Jiwa Se-dunia tahun ini merupakan peringatan yang ke 25 kali di Indonesia dan 26 kali di dunia", ucap dr. Eka Viora, Sp.KJ. Tentunya ini merupakan kampanye dalam meningkatkan "awareness" akan pentingnya kesehatan jiwa dimulai sejak 10 Oktober 1992. Masyarakat harus semakin sadar bukan hanya kesehatan fisik saja yang diperhatikan, tapi juga kesehatan jiwa masing-masing.

Kesehatan menurut UU NO.36 tahun 2009 adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental dan spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Oleh karena itu, tidak akan ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. Hal ini hampir sama dengan penjelasan UU No.18 2014 tentang kesehatan jiwa.

kesehatan jiwa pada remaja 3


Seseorang kalau sudah berhadapan dengan gadget-nya lupa akan situasi sekelilingnya. Makanya istilah autis melekat pada penggunanya. Istilah ini diartikan sebagai keasyikkan seseorang menggunakan gadget tanpa menghiraukan lingkungan sekitar. Padahal autis artinya keterbelakangan mental. Memang ciri-ciri keduanya hampir mirip seperti tenang, tidak peduli dengan orang yang bicara di dekatnya, menyendiri, tidak merespon saat dipanggil. Tanda-tanda itu sudah terlihat pada sikap remaja masa kini. Waktu mereka tersita banyak hanya menikmati dunia maya.  Kalau sudah begitu kesehatan jiwa remaja juga perlu dipertanyakan.

Kategori usia remaja dari 10-19 tahun adalah fase yang unik dan formatif. Namun sekarang perhatian kesehatan jiwa remaja berfokus pada usia 15-19 tahun. Akibat perubahan emosi dan sosial mereka, kesehatan jiwa jadi terancam. Sebuah fakta kunci menyebutkan separuh dari kondisi kesehatan jiwa dimulai dari usia 14 tahun, tapi sebagian besar kasus tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan pengobatan.

Menurut The World Federation for Mental Health (WFMH) memberikan fokus pada anak atau remaja usia 14-28 tahun.

Cyber Bullying dan Bunuh Diri Cermin Dari Gangguan Kesehatan Jiwa Remaja


Dua hal yang paling rentan dari dampak buruk kesehatan jiwa remaja yaitu cyber bullying dan bunuh diri.

Cyber bullying biasanya berasal dari komentar yang ada di status sosial media. Dari situ akan berlanjut ke sekolah dan membuat mereka berseteru. Data bullying di sekolah juga mengejutkan. Lebih dari 30% para siswa mengalami atau pelaku bullying.

kesehatan jiwa pada remaja 4
Data bullying di sekolah

Tindakan yang paling ditakutkan pada kesehatan jiwa remaja adalah bunuh diri. Karena tidak tahan dengan kondisi diri yang semakin mendesak atau akibat dari bullying yang berlebihan. "Setiap 40 detik orang bunuh diri di dunia", jelas Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH. Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak selama 24 jam orang bunuh diri. Bisanya orang akan melakukan hal paling fatal ini berasal dari depresi, satu dari penyebab penyakit dan disabilitas remaja. 

Bunuh diri adalah penyebab kematian pada usia 15- 19 tahun. Estimasi jumlah remaja meninggal dunia sebanyak 62.000 pada tahun 2016. 90% remaja yang bunuh diri tinggal di daerah low and middle income countries. Biasanya remaja yang terjerumus dengan narkoba cenderung rentan dengan bunuh diri. 

Remaja dengan kondisi kesehatan jiwa yang tidak baik sangat rentan terhadap pengucilan sosial, diskriminasi, stigma, kesulitan dalam pendidikan, sakit fisik dan pelanggaran hak asasi manusia. Buruknya kesehatan jiwa remaja dapat terjadi karena beberapa alasan seperti kurangnya pengetahuan atau kesadaran tentang kesehatan jiwa diantara tenaga kesehatan, atau stigma yang mencegah mereka untuk mencari pertolongan.



kesehatan jiwa pada remaja 5


Kondisi kesehatan jiwa pada remaja di seluruh dunia diperkirakan sekitar 10-20% pernah mengalami masalah kesehatan jiwa, namun underdiagnosed atau undertreated. Itu artinya tidak terdeteksi dan ditangani dengan baik oleh pihak yang bisa membantu. Maka itu remaja mengalami gangguan pada dirinya seperti gangguan makan, gangguan perilaku masa anak dan gangguan emosi. Tentunya gangguan-gangguan tersebut memicu anak menjadi tidak kuat menghadapi perubahan yang ada di dunia ini.

Emosi di usia remaja memang sedang tinggi-tingginya. Kalau tidak bisa mengelola, bisa terjadi frustasi, depresi  atau marah. Gangguan emosi bisa mengakibatkan prestasi remaja menurun, sering absen dan menarik diri dari teman sebayanya. Bahkan fatalnya bisa memicu bunuh diri. Emosi perilaku masa anak menjadi penyebabnya utama no.6 beban penyakit di antara remaja.  Gangguan ini bisa mempengaruhi pendidikannya. Bisa saja tidak lulus sekolah.

Gangguan makan biasanya terjadi pada kaum wanita dibandingkan pria. Pernah dengar body shaming atau mengejek tubuh seseorang? Perbuatan tersebut bisa membuat remaja "memaksa" tubuhnya menolak semua makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.  Tiap habis makan, dimuntahkan kembali. Berat badan turun, nutrisi berkurang dan kesehatan terganggu.

kesehatan jiwa pada remaja 6


Kemenkes pada tahun 2018 memiliki jumlah layanan kesehatan jiwa yang cukup banyak. Ada 48 RSJ dan RSKO di 28 provinsi, 269 RSU dengan layanan jiwa, 3602 Puskesmas dengan layanan jiwa dasar yang terintegrasi di poli umum, kunjungan rumah, outreach, pemberdayaan keluarga, rujukan.

Selain itu tenaga kesehatan jiwa juga mendukung jumlahnya. Sekitar 1028 orang psikiater, 451 psikolog klinis dan 6500 perawat jiwa. Berarti Kemenkes benar-benar memberikan yang terbaik bagi masyarakat mengenai hal kesehatan jiwa.

Upaya promotif dan preventif juga diusungkan oleh Kemenkes. Upaya promotif kesehatan jiwa dapat membantu remaja dalam membangun ketahanan sehingga mereka dapat mengatasi masalah baik dalam situasi sulit atau tertekan. Pendekatan siklus kehidupan (continue of care) dan kelompok risiko (population of risk), dan meluncurkan aplikasi sehat jiwa. Download saja ya di playstore.

Upaya promotif dan preventif memerlukan pendekatan yang bervariasi. Misalnya melalui keluarga  sekolah, komunitas, digital media, dll. Misalnya di sekolah diadakan konseling remaja, life skill remaja atau mindfullness. Dalam lingkup keluarga sasarannya pada ibu hamil dengan deteksi  dini kesehatan jiwa dan stimulasi janin dalam kandungan, ibu baru bersalin dalam masa nifas dan menyusui, pada anak bayi dan balita bisa dengan melihat pola asuh dan tumbuh kembang dengan deteksi dini kesehatan jiwa dan perkembangan anak.

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Se-dunia pada tiap 10 Oktober menjadikan sebuah program kesehatan yang mewujudkan masyarakat sehat jiwanya. Selain itu juga mendukung Program Kesehatan Indonesia sehat yaitu upaya untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berperilaku sehat, hidup dalam lingkungan sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu  untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dengan melakukan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Agar generasi muda Indonesia menjadi pribadi sehat, tangguh dan berani hadapi perubahan dunia.


****