Suatu tantangan buat saya memiliki anak-anak yang lahir di era digital. Dimana semua kegiatan dilakukan secara online dan paperless.  Untuk dunia pekerjaan dunia digital memudahkan semua tugas. Namun bagi anak-anak, gawai seperti pisau bermata dua. Jika digunakan dengan tepat, maka bisa dijadikan teman. Tapi jika disalahgunakan, maka bisa menjadi lawan. Menusuk ke setiap elemen terpenting anak. 


Welcome to SIS Bona Vista

Kecanggihan teknologi telah "merenggut" perhatian anak-anak dari bermain air hujan di luar, berkeliling komplek dengan sepeda atau menggoreskan pensil warna di selembar kertas. Keterampilan motorik mereka seketika terhenti oleh gawai. Membesarkan anak-anak di  era digital bagai kompetisi. Siapa yang lebih tahu duluan tentang kebenaran.

Gawai Itu Jadikan Teman Bukan Lawan


Sering lihat kan anak kecil ngamuk karena tidak diberikan iPad ibunya atau smartphone ayahnya? Suatu pemandangan lumrah yang terjadi setiap saya bepergian ke suatu tempat. Seringnya saya lihat di mall atau acara talkshow. Alih-alih sebagai "baby sitter" buat anak, malah menjerumuskan anak menjadi tak terkendali.

Jum'at, 31 Agustus 2018 saya berkesempatan hadir di Mom Blogger Gathering with SIS Bona Vista dengan agenda talkshow "Raising Children in Digital Era" bersama psikolog Elizabeth T. Santosa di Singapore Intercultural School, Lebak Bulus Jakarta. Pagi itu bersama moms blogger lainnya membahas tentang gadget atau gawai dijadikan teman atau lawan.


Psikolog Elizabeth T.Santosa

Gadget itu apa sih? Gadget diambil dari bahasa Inggris yang artinya gawai. Penelusuran dari Wikipedia, gadget atau gawai adalah suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya.

Gadget ditemukan oleh Nathan Stubblefield yanh berhasil menciptakan sebuah gadget pertama di dunia, yaitu sebuah "Telepon Nirkabel". Ternyata gawai itu bukan hanya smartphone, tapi juga televisi, komputer, notebook, laptop, headphone, kamera digital, tablet, iPad, powerbank, mouse wireless, media player, speaker, dll.

Hari gini siapa sih yang nggak ngasih gadget sama anak? Saya termasuk ibu yang mengizinkan anak memakai handphone milik saya sendiri. Saya selalu menerapkan kepada Gie, anak pertama saya untuk meminta izin jika ingin menggunakan. Saya juga batasi waktunya bermain gadget. Biasanya saya kasih waktu 10-15 menit.

Pengaruh gadget itu bisa membentuk karakter yang signifikan pada anak. Psikolog yang akrab dipanggil Lizzie ini memberikan gambaran karakteristik anak di era digital yaitu :

  • Memiliki ambisi besar untuk sukses
  • Generasi baru mencintai kepraktisan
  • Berperilaku instan - speed
  • Cinta kebebasan
  • Percaya diri
  • Keinginan besar untuk mendapatkan pengakuan
  • Digital & teknologi informasi

Apa ada di dalam diri anakmu? 

Tidak selamanya gawai itu bagaikan lawan. Bisa juga dijadikan teman yang bisa mendukung minat dan bakat anak. Dalam buku "Digital ParenThink" karya Mona Ratuliu, daftar isi dengan sub judul Aku Kids Zaman Now menjelaskan tentang anak-anak yang sukses mewujudkan mimpi mereka lewat digital. Ada penyanyi cilik Naura yang menemukan bakat nyanyinya gara-gara mengenal dan menghafal banyak lagu lewat YouTube dan Almedya Bayaran Alzier yang menjadi penjual slime online dan mendapatkan keuntungan mencapai Rp 35-40 juta. Anak-anak luar biasa kan. Gadget menjadi teman yang menguntungkan buat mereka.

Baca : Buku Digital ParenThink



Ingat ini ya parents

Elizabeth juga memberikan tips menggunakan internet dan sosial media agar orang tau bisa terapkan, yaitu :
  • Pastikan usia anak sudah pas. Penggunaan gadget tidak diperuntukkan anak usia DIBAWAH 13 tahun
  • Aplikasikan peraturan dasar
  • Setting privasi dalam sosial media
  • Gunakan perangkat lunak yang dapat menyaring website (filtering software)
  • Tidak menggunakan gadget di kamar (laptop/komputer) 
  • Orangtuanya perlu jeli untuk memperhatikan situs-situs yang sering anak kunjungi dan orang-orang yang berkomunikasi dengannya
  • Orangtuanya pun wajib mencontohkan perilaku teladan dalam menggunakan social media 
  • Batasi penggunaan handphone. Fenomena Nomophobia (No Mobile Phone Phobia)
  • Bicarakan dengan anak mengenai bahaya online

Sebenarnya kegunaan gadget itu banyak faedahnya. Tergantung siapa dan bagaimana menggunakannya. Boleh saja anak bermain gadget, asalkan dikontrol oleh orangtuanya. Jangan sampai kendor ya...


Tour Area Singapore Intercultural School Bona Vista


Tampak depan sekolah SIS Bona Vista

Setelah sesi talkshow bersama psikolog Elizabeth T. Santosa, para moms blogger diajak untuk berkeliling area sekolah SIS Bona Vista. Tapi sebelumnya mba Monika Arviany (PRO & Marketing Manager SIS Bona Vista) menjelaskan terlebih dahulu tentang sekolah.

Tahu nggak sih, saat saya turun dari ojek online dan berjalan menuju ruangan acara, sekolah ini membuat saya kagum. Dari depan saja terlihat seperti kantor dan masuk ke dalam banyak hiasan kreasi, lantai yang licin, susunan sepatu yang rapih dalam rak, dan siswa yang tidak memakai seragam. Baru pertama kali saya mengunjungi Singapore school seperti ini.

Setelah mba Monica memaparkan tentang sekolah SIS Bona Vista, para blogger diajak berkeliling lingkungan sekolah. Dibagi menjadi 2 tim dengan arah yang berbeda. Saya termasuk tim 2 yang diarahkan langsung oleh mba Monica. Ruangan pertama yang diperlihatkan adalah laboratorium biologi. Ruangannya luas dan persis dengan laboratorium sungguhan. Ada patung skeleton di pojok ruangan dan jubah putih yang biasa dipakai di laboratorium. Jadi ingat UKS saat zaman SD dulu.

Laboratorium biologi

Dari lab.biologi kami menuju lab. kimia. Namun sayangnya lab ini ditutup, jadi tidak bisa melihat ke dalam ruangan. Akhirnya dialihkan ke



Mba Dessy Yusnita dan Monica Arviany



Perpustakaan di SIS Bona Vista


Singapore Intercultural School disingkat SIS adalah jaringan sekolah yang didirikan pada tahun 1996. Terinspirasi oleh potensi Indonesia dan metodologi Singapura yang terus berkembang, jaringan sekolah yang memberikan kurikulum Singapura, Cambridge, dan International Baccalaureate (IB) dalam lingkungan kekeluargaan yang memprioritaskan pembelajaran yang disesuaikan dengan masing --masing individu.

Group sekolah SIS ada di beberapa wilayah seperti Cilegon, Semarang, Palembang, Medan. Untuk Jakarta ada di Kelapa Gading, PIK dan Bona Vista. Kepala sekolah di SIS Bona Vista bernama Mr. John P. Birch berkebangsaan Inggris. Beberapa fakta mengenai SIS yaitu 80% expatriate teachers, 70% expatriate students dan 30% Indonesian students.

Salah satu ruang kelas 




Ruang gym 

SIS memiliki slogan "Inspired Learning for Inspired Futures" menyiapkan murid untuk kesuksesan masa depan sampai kuliah. Kelas akademik di SIS meliputi preschool, primary, secondary (13-16 tahun) dan junior college (16-19 tahun).  Menggunakan 3 bahasa yaitu Inggris, Mandarin dan Indonesia.

Uniknya sekolah ini menerapkan pada siswanya untuk ke perpustakaan untuk membaca selama 30 menit sebelum masuk kelas. Kemudian dilanjutkan kegiatan belajar di kelas. Saya dan teman blogger lainnya sempat diajak berkeliling hampir ke semua kelas dan fasilitas sekolah. Kelas-kelasnya sangat unik. Tidak terlihat seperti kelas belajar di sekolah pada umumnya. Meja dan kursi yang terbuat dari kayu  yang kuat menambah kesan eksklusif.

Sabtu, 15 September 2018 SIS mengadakan open house dari jam 9.30-11.30 WIB DI SIS Bona Vista. Kesempatan ini bisa dimanfaatkan bagi orangtuanya yang ingin menyekolahkan anak-anak. Bisa registrasi awal untuk tahun ajaran 2019-2020 untuk 20 pendaftar pertama dan berkesempatan dapat beasiswa untuk Indonesia students. Wah, pasti bisa dapat harga promo menarik nih. Berminat untuk mendaftar? Ayo langsung kunjungi SIS terdekat di kotamu ya.


SIS Bona Vista 
Jln. Bona Vista Raya
Lebak Bulus Jakarta

Email : sisbonavista@schools.org
021 - 75914414
https://sisschools.org/sis-bonavista


Follow 

Facebook.com/sisgroupofschools
Twitter : @sisbonavista
IG : @sisbonavista 



***