Assalamu'laikum

Sahabat Ummi...

Saya mau main tebak-tebakan dulu yah.

Makanan, makanan apa yang cocok dimakan kapan pun, mau buat sarapan, makan siang, atau makan malam?

Clue nya:

Cocok disegala cuaca, mau udara lagi panas atau dingin.

Oke buat makan sendiri, maupun rame-rame

Favoritnya usia berapa pun, baik tua maupun muda

Makanan kesukaan disegala status sosial, baik miskin maupun kaya

Hayooooo... kira-kira apa?

Saya tambahin deh clue nya, makanan ini termasuk The Best Food in CNN's World's 50 Best Food tahun 2018. Sama hitsnya dengan rendang lho.

Apa? Coba diulang lagi?

Iyaaaaak betuuul, nasi goreng!. Tebak-tebakan yang garing gampang bangetkan hahaha... :D

Iya dong, siapa yang nggak tahu dengan makanan yang satu ini. Saya pribadi, jaman belum pinter masak (yah sekarang juga belum pinter banget sih) ini menu andalan banget deh buat disajikan ke suami. Kalau bikin nasi goreng, langsung dibikin komplit, ada karbo, protein, dan sayuran. Jadi, mempersingkat waktu di dapur, padahal yah karena kemampuan memasak yang kala itu masih terbatas :D

Sejarah Nasi Goreng

Nah, kalau ngebahas tentang nasi goreng, udah pada tahu belum sih sejarah asal usul nasi goreng ini?, ada yang penasaran nggak?. Buat yang doyan kulineran seperti saya, mengetahui ragam kuliner di Indonesia, menyicipinya, beserta paham akan sejarahnya, merupakan keasyikan tersendiri. Nggak cuma lidah dan perut saja yang menikmati, tapi juga isi kepala jadi nambah, makanan bagi jiwa. Yap, bertambah pengetahuan.

Dulu, sewaktu kecil, saya ingat banget saat Ibuk memasak nasi goreng untuk sarapan kami. Itu artinya, ada nasi sisa semalam. Lho kok bisa? Iya, karena jaman dulu belum pakai rice cooker. Nasi dingin tersebut, dimasak kembali dengan cara digoreng, cukup siapkan sedikit minyak goreng yang digunakan untuk menumis bawang merah dan bawang putih hingga harum, lalu telur sambil diorak-arik, terakhir nasi, tambahkan garam halus secukupnya. Jadi deh.


Ternyata oh ternyata, asal usul nasi goreng juga nggak jauh-jauh dari itu. Menurut artikel yang saya baca di Damn I love Indonesia, nasi goreng merupakan makanan tradisional Tionghoa yang udah ada sejak 1400 SM. Munculnya nasi goreng ini, karena kebiasaan mereka yang nggak suka memakan makanan dingin, dan supaya makanan itu nggak terbuang. Jadi, kalau ada nasi dingin, diolah lagi agar bisa disantap kembali panas-panas.

Bahan utama nasi goreng adalah, nasi, minyak, dan garam. Adapun bumbu-bumbu dan campuran lainnya, biasanya disesuaikan dengan apa yang ada di daerah tersebut. Nggak heran kalau kita bisa menemukan berbagai jenis nasi goreng, ada nasi goreng seafood, nasi goreng ayam, nasi goreng bakso, nasi goreng ikan asin, nasi goreng kari, nasi goreng kencur, nasi goreng cakalang, dll.


Trus, gimana ceritanya nasi goreng bisa sampai ke Indonesia?, konon katanya dimulai pada abad ke 10 sejak era kerajaan Sriwijaya dan mulai intensif pada abad ke 15 di masa kerajaan Majapahit. Dibawa oleh imigran Tiongkok yang menetap di nusantara yang tentunya juga membawa budaya dan masakan mereka, lalu membaur deh.

Wah, ternyata gitu yah sejarahnya. Udah "tua" juga yah si nasi goreng ini. Trus, pada tahu nggak sejak kapan nasi goreng ada di kotamu? hahaha... sepertinya ini pertanyaan yang cukup sulit yah. Saya pribadi aja nggak bisa jawab. Tahunya, nasi goreng itu salah satu masakan favorit buatan Ibuk. Lalu, seiring waktu berjalan, mulai banyak sekali para penjual nasi goreng. Mulai dari pedagang kuliner kaki lima, sampai restoran ternama, juga menyajikan menu nasi goreng. Tentunya dengan keunikan masing-masing.

Desa Nasi Pekanbaru

Di Pekanbaru sendiri, ada salah satu tempat kuliner yang bernama Desa Nasi. Menu yang disajikan adalah aneka olahan nasi goreng. Tempat kuliner ini ada sejak pertengahan januari 2017 (soft opening tanggal 11 Januari 2017 dan grand opening tanggal 17 Januari 2017). Di Desa Nasi, ada 2 jenis nasi goreng, nasi goreng merah (menggunakan cabe merah) dan nasi goreng hitam (menggunakan tinta cumi). Ada berbagai pilihan nasi goreng, seperti nasi goreng original, petai, seafood, baso sosis, hati ampela, juga baso dan ayam suir.


Nasi goreng disajikan komplit dengan sayuran mentah seperti selada, irisan timun, dan irisan tomat. Disediakan juga sebuah wadah berisi acar, sebagai pelengkap. Jika ingin ada tambahan, tersedia juga pilihan ekstra, untuk telur dadar barendo, telur ceplok, teri dan petai, atau kerupuk. Sedangkan untuk minumannya, ada kopi, kopi susu, teh manis, teh susu, teh tawar, atau es kosong.

Saat itu, jam 5 sore saya berkunjung ke Desa Nasi, bertepatan dengan jam dibukanya Desa Nasi, yang akan buka hingga jam 12 malam (Rabu off). Maklum, lagi program makan malam sebelum jam 6 hahaha... Saya memilih memesan nasi goreng merah dengan baso dan ayam suir. Katanya, ini adalah nasi goreng favorit di sini. Saya juga meminta untuk menambahkan telor ceplok setengah matang. Tak lupa juga segelas es manis.


Setelah pesanan saya sampai di meja, saya langung menambahkan acar yang banyak. Nasi goreng pesanan saya jadi makin mantep rasanya. Nasi yang digunakan "berderai" nggak terlalu lembek dan nggak terlalu keras, pas. Bumbu yang digunakan fresh, demikian juga dengan sayurannya. Kerupuknya juga enak, daaaaan telur ceplok setengah matengnya pas banget, meleleh sempurna. Apalagi sambil nyeruput teh manis dingin yang cocok banget buat membasahi tenggorokan di udara Pekanbaru yang cetar panasnya. Disajikan di piring dan gelas yang terbuat dari enamel. Kesannya jadul, antik, dan unik. Berasa makan nasi goreng di rumah nenek nun di kampung sana :D

Gimana dengan harganya?

Nasi goreng baso dan ayam suir Rp. 15.000
Telur ceplok Rp. 3.000
Teh Manis Rp. 5.000

Total: Rp. 23.000

Terjangkau bangetkan buat segala kalangan. Porsinya banyak lho. Teh manisnya juga segelas gede. Buat saya, bikin kenyang maksimal :D
Nah, kalau teman-teman ke Pekanbaru, jangan lupa yang untuk mampir ke sini buat icip-icip nasi goreng di Desa Nasi, yang terletak di jalan Ikhlas, Labuh Baru Timur, Payung Sekaki. Tepatya di seberang Giant jalan Tuanku Tambusai, masuk jalan Ikhlas kurang lebih 500 meter, di sebelh kiri. Tempatnya bernuansa hijau kuning, dengan lahan parkir yang cukup luas.