Kalau mau marah, coba kontrol kata-katamu dengan teknik I-Message. Sila nikmati hasilnya.

🚀🚀🚀

Setelah ‘bergulat’ tak tentu arah, Abdillah akhirnya tidur juga. Waktu itu masih pukul 20.00 wib. “Masih bisalah melakukan ‘me time‘ sejenak,” pikirku.

Tapi anak lanang itu lalu menggeliat dan berguling ke sisi kanan. Hap! Cepat saja dia sudah tengkurap. Matanya terbuka dan dia mulai merengek. Kalau sudah begini, harus ditangkap dan ditelentangkan lagi, kemudian ‘disumpal’ susu.

Sayang, mamak kalah cepat. Abah langsung rebah di samping Abdillah dan mempersiapkan senyum termanisnya. Melihat itu, rengekan Abdillah berubah jadi senyuman.

Mamak cuma bisa mbatin, “Gagal deh me time-nya.”

Bocah 6 bulan itu kini sudah mulai suka bermain. Cukup beradu pandang saja dan bertukar senyum, badannya pasti bergerak-gerak tak menentu. Lupa kalau ngantuk.

Demi memperkuat bonding antara ayah dan anak, mamak persilakan saja keduanya main bersama. Lah, tapi setelah cipika-cipiki sejenak, abah langsung berdiri.

“Dah ya. Abah nak pergi,” katanya sambil berjalan ke arah pintu.

Abdillah cuma bisa mlongo. Dan aku rasanya pengin masuk ke roket dan terbang ke bulan. HHHRGGGHHH!

“Harus banget ya pergi setelah ngebangunin Abdillah?” tanyaku.

Ia bilang, harus. Ketua organisasinya minta berjumpa. Ada sesuatu yang harus didiskusikan segera.

Aku menekuk muka. Sampai keesokan harinya aku diam. Hingga ia pun jengah dan minta maaf.

Rasanya sering sekali aku merajuk dan memang berakhir dengan dia yang meminta maaf. Tapi hati ini rasanya sesak. Masa’ harus merajuk terus buat kasih kode kalau kita marah? Masa’ harus merajuk dulu buat bisa ngomongin masalahnya?

Lalu aku bertemu dengan postingan Devi Raissa di akun instagram @rabbitholeid . Dia bercerita tentang teknik komunikasi I-Message atau Pesan Saya. Pas baca itu rasanya seperti mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku di atas.

Ini aku potretkan postingannya.

semoga  nggak  kekecilan untuk dibaca

I-MESSAGE?

Secara literal, I-Message bisa diartikan sebagai Pesan Saya. Ini sebuah teknik komunikasi yang lebih fokus pada perasaan ‘saya‘ sebagai penyampai pesan.

Dengan menggunakan I-Message, kita fokus pada apa yang kita rasakan soal kebiasaan seseorang dan menyatakan masalah kita di mana, tanpa secara langsung menyalahkan lawan bicara kita itu.

Teknik ini awal dipelajari oleh seorang psikolog bernama Dr. Haim Ginott. Dia mendapati, pernyataan-pernyataan yang diawali dengan ‘saya’ itu kurang
provokatif ketimbang yang diawali dengan ‘kamu’. Atau istilah lainnya, kalau kita pakai ‘kamu’ di awal pernyataan itu seperti ‘cari pasal’ sama orang.

“Kamu tu nyebelin.”
“Kamu bohong ih.”
“Kamu kok nggak nepatin janji sih?”
“Kamu ni bangunnya siang terus.”
(Eh, yang terakhir kebablasan tjurhat. #he)

Coba kalimat itu dibalikin ke kita. ‘Naik darah’ nggak dengarnya? Iya kalau bener. Kalau enggak bener kan jadinya malah debat. Saling pertahankan argumen. Obrolan nggak kelarkelar. Solusi nggak dapet-dapet.

Keseringan, mas bojo kalau digituin suka pasrah. ‘Iya deh. Minta maaf.’ Tapi terus, keulang lagi. Ya kaleee.. merajuk terus deh eike. Ini yang menurut mba Devi Raissa, ‘akarnya belum dicabut’. Akar permasalahan yaa maksudnya.

RUMUS I-MESSAGE

Om Psikolog John Gottman, yang mempelajari soal habluminannas – hubungan antar-manusia, menyatakan betapa pentingnya menyatakan komplain kita dengan cara yang lebih soft, tidak mengkritik, dan tidak merendahkan. Itu kalau kita ingin ada penyelesaian masalah.

Cara yang lebih soft itulah yang dia maksud juga dengan I-Message, pernyataan yang diawali dengan ‘saya’. Ada rumusnya nih.

  1. Aku merasa … (isi dengan perasaan kita: kesalkah, sedihkah, capekkah, sengsara atau bahkan menderita?)
  2. kalau kamu … (isi dengan sikap atau kebiasaan atau perilaku yang kita nggak suka)
  3. soalnya … (isi dengan masalahmu)
  4. Aku penginnya … (isi dengan solusi yang kamu inginkan)

Misalnya, gini.

Aku sedih kalau kamu bangun siang. Soalnya nggak ada yang bikinin sarapan. Aku penginnya kamu bangun pagi biar kita bisa sarapan berdua.

(ecieeeee… yang sarapannya sendirian ngacuuung)

EFEK I-MESSAGE

Teorinya, I-MESSAGE ini bisa:

🚀 mengubah perilaku atau sikap orang yang tidak kita sukai
🚀 melindungi harga diri lawan bicara kita
🚀 membuat hubungan kita langgeng
🚀 membantu lawan bicara kita untuk bisa memperlakukan kita dengan lebih baik dan supaya mereka bisa memperbaiki sikap mereka

Kalau untuk ke kitanya apa?

🚀 bisa lebih halus saat negur pasangan. Nggak harus yang sampe ampir putus urat nadi karena marah-marah.
🚀 awet muda (karena nggak sering marah-marah)
🚀 menjalani hidup lebih bahagia (karena masalah tersampaikan dan, akhirnya, terselesaikan)

Nah, ini nggak berlaku untuk ke pasangan aja lho, Buibuk… Kata mba Devi Raissa, ini sangat efektif untuk berkomunikasi dengan si kecil.

Kita tak menyalahkan mereka. Kita membuka diri kita memberi tahu mereka apa yang kita rasa dan menyadarkan mereka tentang apa yang tidak kita sukai dari tindakan mereka dengan cara yang halus. InsyaaAllah, yang begini ini bikin anak lebih paham dan akan lebih menjaga perasaan kita.

Boleh dicoba loh, Buibuk! *ngomongsamadirisendirijuga [w]