Fika, km kada cocok kuliah di fisika. Cocoknya km kuliah di biologi aja.
(Hah? Apa katanya tadi? Kuliah di biologi? Apa salahku???) 


Menjelang akhir tahun 2007, tahun-tahun terakhir di bangku putih abu. 

"Eh Fik, mau ga aku kenalkan sama temanku, anak PGRI, baik orangnya, suka dengarkan ceramah di radio. Cocok kayanya sama kamu", kata seorang teman laki-lakiku. Kami beda kelas, dia XII IPA 1 dan aku IPA 3.

Besoknya, dia curhat tentang anak IPA 2 yang ditaksirnya. Lewat sms donk, mana berani dia curhat langsung. Hahaha. Aku yang lagi sibuk nyetrika hari itu mau-mau aja ngeladenin.

Oya, sebenarnya aku di SMA jarang sekali ngobrol dengan laki-laki apalagi sampai berbalas sms.

 Jadi, "dia" ini siapa? 

Besok-besoknya aku ditelpon sama dia, dengan durasi yang lamaa banget, malam minggu pula! Duh, untung bapak sama mama lagi ada rapat di rumah pak RT, kalo ga? Bisa diintrogasi lah aku sama bapak. Ckckckck. Kami ngobrol ngalor ngidul ga jelas, yang pasti yang aku ingat kita ngomongin pilkada di desanya *anak esema melek politik 😅

Ngomong-ngomong, 3 tahun di SMA baru ini ada laki-laki yang berani nelpon, haha, iya cuma dia doank yang berani nelpon, teman yang aku anggap teman-yang-ga-mungkin-saling-naksir. Kenapa? Karena feelingnya ke dia bukan kaya temen sih, tapi kaya adik kelas karena badannya dulu lebih kecil dari aku. Hahaha.

Kemudian kami lulus dan melanjutkan kuliah masing-masing.

Semester awal dia masih menghubungi, curhat tentang wanita yang sama, pacarnya waktu SMA...  tapi sayang kondisi aku yang tidak sama.

Satu persatu teman sekolah laki-laki yang menghubungiku ku block, termasuk dia, "jangan hubungi aku, tolong". Termasuk temannya yang dikenalkan tempo hari. Aku dengar temannya itu masuk pesantren. Tapi, yang aku bingung setelah masuk pesantren dia keukeuh menghubungiku hingga mengajak pacaran secara tersirat.

Rasanya tak terdefinisi lagi marahku saat itu. Rasanya kalimat blokade "jangan hubungi aku" ga akan mempan. Makq, esok harinya aku putuskan untuk ganti nomor, lagi.

Jika SMA adalah saat aku mulai ketat menjaga pergaulan, maka lebih-lebih lagi saat kuliah. Semester 3 ke atas akhirnya aku bisa menetralisir kontak handphone dari nama teman lelaki, teman SMA dan juga teman kuliah, sama sekali tidak ada laki-laki yang menghubungiku kecuali ketua ikhwan organisasi dakwah kampus.

Bayangkan, aku seperti mengisolasi diriku sendiri. Teman kuliah laki-laki yang sekelas juga tidak ada yang kusimpan nomornya. Aneh? Hehe, ga koq. Itu lazim di kalangan "kami". Tau kan "kami" yang saya maksud? 😊

Sayangnya, gaya pertemananku saat kuliah semakin kaku saja. Jika di sekolah aku selalu punya genk, minimal 1 sahabat, di kuliah jangankan punya genk, sahabat selama kuliah aja ga ada. Aku memang punya circle tersendiri, komunitas dengan gamis syari - kerudung lebar dan berpusat di seputaran mesjid kampus, dan karena itu teman-teman kuliah seakan menjaga jarak denganku, begitu juga dengan aku. Terlebih ketika ada 1 insiden pemicu.

Dan 1 insiden itu tidak akan aku rincikan di sini karena sungguh mencoreng image kami para jilbaber, insiden yang dilakukan 1 oknum pada akhir semester 1, tapi berimbas luas dalam jangka waktu lama, selama aku kuliah. Apa imbasnya?  Terintimadasi, tak punya teman, disabotase info beasiswa hingga jatuh bangun mengejar target cumlaude. Imbas yang tidak akan disangka oleh oknum itu. Ok, kayanya aku berlebihan masalah sabotase beasiswa dikarenakan insiden itu. Tapi nyatanya memang pernah ada yang menghalangiku untuk mendaftar beasiswa, padahal secara nilai aku yakin masuk.

Sebuah perjalanan yang tak pernah kuduga waktu SMA, karena kuliah di FKIP Fisika adalah sesuatu yang aku mimpikan sejak dulu. Ternyata sesuram ini kah?? Maka, bukan hal yang susah menghilangkan memori waktu kuliah, karena kenangan semasa itu banyak yang tidak menyenangkan bagiku. Terhapus dengan sendirinya.

Tapi, ada beberapa momen yang kuingat betul hingga hari ini.



Waktu itu semester 1, kuliah kami masih seperti SMA, ada pelajaran kimia, biologi, bahasa indonesia, bahasa inggris, kewarganegaraan, dan matematika. Mata kuliah pagi itu adalah biologi dan hari itu kami akan belajar tentang sel tumbuhan dan hewan. Hingga tiba suatu saat bu dosen melemparkan pertanyaan kepada kami,

"Ada yang bisa menggambar sel tanpa melihat buku? Sel hewan atau tumbuhan terserah", hening, tidak ada yang menjawab, "Apa? Ga ada yang bisa? Kan sudah masuk lab biologi kemarin?".

Aku melihat ke seluruh kelas, tidak ada tanda-tanda ada yang mau maju. Baiklah, aku saja. Ini gampang, pelajaran biologi kelas 2 SMA kan?

"Saya, Bu. Sel tumbuhan aja ya Bu?

"Boleh, terserah".

Sel tumbuhan pun aku gambar dengan mulus tanpa hambatan, tidak ketinggalan nama-nama bagiannya; sel plasma, mitokondria, dinding sel, ribosom, sitoplasma, kloroplas, dan.... Eh, maaf aku banyak lupa sekarang. Hahaha.

Akupun kembali duduk tanpa merasa takjub dengan diriku, ini gampang, biasa aja ah. Waktu SMA dulu kami ditugaskan untuk membuat sel tumbuhan dan hewan dalam bentuk 3D. Karena kami mengerjakan dengan betul-betul akhirnya pelajaran 2 tahun lalu masih melekat di kepala, masih sangat jelas hingga ke detil bagian sel, nama, beserta fungsinya. Tapi ternyata berbeda dengan kawan yang lain.

Minggu depannya saat kami menunggu dosen di kelas yang sama ada yang mendatangiku, perempuan putih tinggi cantik sekali.

"Fika, km kada cocok kuliah di fisika. Cocoknya km kuliah di biologi aja".

Hah? Apa katanya tadi? Kuliah di biologi? Apa salahku???

Aku hanya tersenyum kecut menanggapi. Sebenarnya aku tersinggung berat dengan ucapannya. Kuliah di fisika itu mimpiku, bisa-bisanya dia nyuruh aku kuliah di biologi aja. Apa aku terlihat tidak akan kuat menghadapi sebarek rumus fisika?

Tapi, yaa...hanya sebatas dalam hati, mana berani aku ucapkan itu di hadapannya. Posisiku dari awal di fisika memang tidak semeyakinkan Yanti, si mahasiswa fisika pertama sepanjang prodi itu dibuka yang dapat nilai A untuk the kill-est subject, Fisika Modern.

Siapa sih namanya? Sungguh orang yang sangat blak-blakan yang pernah aku kenal selama aku hidup.

Ooh, baru kutahu setelah ada yang memanggil namanya setelah kami bercakap sebentar. Namanya Halimah. Cantik orangnya, "ramah", dia orang yang pertama di luar circle-ku yang menegurku. Walau aku tersinggung dengan cara menyapanya padaku untuk yang pertama kali, entah kenapa aku suka berteman dengannya.

Tapi, kami beda kelompok. Sangat berbeda. Walaupun begitu dia yang paling baik di antara teman-teman yang lain padaku.

***

Semester 2 aku lalui dengan susah payah. Image jilbaber yang runtuh membuat kondisi "kami" susah mengikuti perkuliahan. Semester 2 dan 3 aku lalui dengan banyak diam di kelas, tidak aktif seperti semester 1. Jika aku masih SMP atau SMA mungkin sudah aku tumpahkan kesedihanku ke sahabat-sahabatku dan mereka akan berlomba-lomba menyemangatiku. Tapi, saat kuliah? No one, nothing, at all.

Hingga suatu sore menjelang magrib setelah selesai kuliah, ada seseorang yang menghampiri tiba-tiba,

"Fika, kenapa berubah di semester 3? Jadi lebih pendiam. Dulu km aktif banar",

Aku yang bingung karena sama sekali tanpa basa-basi teman ini menanyaiku, hanya bisa menjawab,

"Eh, oh? Masa? Hehe".

Dan teman yang menegurku itu adalah orang yang sama dengan yang menegurku tentang pindah prodi ke biologi. Sejak sore itu, Halimah yang punya nama beken Mahe, menyadarkanku bahwa aku telah berubah menjadi mahasiswa pasif dan....jangan ditanya semangat belajarku, ini bahkan yang terendah selama aku hidup.

Nilai C beberapa kali hinggap di KRS, Fisika Modern harus aku recost karena aku sama sekali tak paham dengan materinya, bahkan ternodinamika harus 2x recost untuk sekedar paham hukum 1, 2, dan 3 Termodinamika. Aku kehilangan ruh belajar.

Long story short....

Kami akhirnya lulus kuliah. Bukan hal yang gampang keluar dari kondisi yang sangat tidak mendukung itu. Saking tidak mendukungnya, tidak kurang totalnya 5x recost selama kuliah "hanya" untuk mencapai IPK cumlaude. Padahal aku pikir dulu aku akan melewati perkuliahan dengan mudah dan menyenangkan. Ternyata jauh panggang dari api.

Aku akhirnya menikah setelah 6 bulan lulus. Tinggal di pedalaman untuk menemani suami mengabdi setelah dia lulus kuliah. Entah bagaimana caranya aku kembali berhubungan dengan Mahe. Padahal sejak kejadian itu aku dan dia tidak lantas menjadi sahabat, hanya teman biasa, teman baik, tidak juga saling mengabari atau bertanya tugas. Dia asik dengan genk-nya, aku fokus dengan aktivitasku di mesjid saat itu.

***

Seperti bola yang ada di dalam baskom, banyak yang berwarna abu-abu dan hanya sedikit yang berwarna kuning atau orange atau warna terang lain, maka mudah sekali bagi kita untuk mengambil bola warna terang tersebut, bukan?

Maka, seperti itu lah dia di memoriku. Mudah sekali mengingat tentangnya karena kebaikannya. Iya, aku anggap dia baik, memang dia dikenal baik, baik rupanya baik sikapnya. Walau dia suka blak-blakan tapi nyatanya dia tidak bermaksud menyinggungku. Hanya dia yang mau menyapaku di luar lingkaranku. Dia baik, aku ingat sekali hal itu. Hanya satu saja yang disayangkan darinya, sayang dia masih bercelana jins ketat dan baju yang tidak kalah ketatnya. Kerudung? Hanya seperti asesoris cantik di kepalanya.

Hingga suatu hari, setelah kami sama-sama lulus, aku lihat dia sering meng-upload dirinya berbalut gamis syari, menulis status tentang kajian yang dilihatnya via youtube, memamerkan buku-buku yang sedang ia baca, dan punya beberapa list ustadz favoritnya. Ya ampun, Mahe berubah? Tambah baik. Atau karena dia jualan gamis syar'i yang memang lagi nge-hits belakangan ini. Tapi apapun itu AlhamduliLlaah dia sudah tidak berjins ketat lagi. Akupun akhirnya tau dia juga belum menikah.

Kenapa ada orang secantik dia, sebaik dia, sekaya dia, sepintar dia belum juga menikah??? Akupun tiba-tiba menjadi gatal. Bukan, bukan gatal mengintrogasi. Hahaha. Aku gatal mau mencarikan jodoh untuknya.

Aku ini siapa, sahabatnya bukan, teman genknya bukan. Tapi, tanpa diminta aku sukarela membantunya mencarikan "seseorang". Kenapa aku bisa se-rese' ini dengannya? Gampang saja, ingat teori bola abu-abu tadi.

Sepertinya aku tidak perlu menambahkan ceritanya menjadi lebih panjang dengan mengungkit pasang surut pencarian jodoh untuknya. Intinya, banyak penolakan dari Mahe. Ya iyalaah, mencarikannya jodoh yang selevel itu susah. 2 3x ditolak ga masalah, tapi ketika sudah 4 5x rasanya 😴😴😴 bangett.

***

Oh iya, apa kabar teman SMA ku tadi ya? Kudengar dia sudah jadi orang sukses. Dulu sering kulihat statusnya sangat menggebu-gebu dan menginspirasi. Ternyata aku baru tau sekarang dia jadi motivator. Astaga, Eko.. .  Tidak kusangka. Jadi motivator?? Bagaimana bisa??

Akupun memberanikan diri menghubunginya via inbox facebook. Apa hal yang bikin aku senekat itu? Padahal dulu aku memblokade dia, menyuruhnya jangan menghubungiku lagi sekalipun cuma bertanya kabar.

Ialah tentang adek laki-laki ku satu-satunya. Aku ingin adek belajar darinya. Tentang hal di luar perkuliahannya, tentang soft-skills yang Eko maksud di setiap seminarnya. Tolong, teman... Ajarkan adekku.

Tapi apa yang kudapat? Nothing. Aku minta pin BBMnya dengan maksud agar dia bisa menjadi teman adek, syukur-syukur mau ngajarin adek dan adek belajar banyak hal tentang dia yang out of the box. Tapi, sayang tak digubris. Kusuruh adek mendelete kontaknya. Sudahlah, mungkin dia masih marah karena perlakuanku dulu, waktu dia sedang down karena masalahnya dengan pacar SMA nya aku malah menutup "pintu" curhat rapat-rapat.

Setelah beberapa tahun berlalu aku lihat lagi postingannya berbau lain. Dia tidak lagi jadi motivator, tapi juga tidak kalah bergengsi. Apa? Jadi developer syar'i?? Astaga, aku ternyata punya  #CrazyRichFriend. Sama sekali aku tidak menyangka dia bakal setinggi itu pencapaiannya dalam usia semuda ini. Masya Alloh, salut lah. Seandainya kami masih berteman seperti dulu banyak hal yang ingin aku ungkapkan. "Selamat, from zero to hero", mungkin itu salah satunya.

Hingga akhirnya dia punya instagram dan memfollow aku, ga GR sih, wajar kan dia cari calon customer. Saat itu dia menawarkan di feed instagramnya tanah kavlingan di daerah Pelaihari, kampungku. Aku yang sudah lama berniat mencari investasi akhirnya menghubunginya setelah berdiskusi dengan suami. Pengen rasanya ambil salah satunya, tapi akhirnya tidak jadi karena.......aku tiba-tiba berganti target untuk fokus saja membayar hutang secepatnya, baru kemudian mikirkan investasi. Ga enak ya punya hutang, hahahaha *emaaaanng.

Aku memang tidak jadi beli tanah yang ditawarkannya.  Tapi, entah kenapa harus ada yang aku sampaikan sebelum aku menyudahi hubungan muamalah ini.

***

Waktu itu Desember 2017,

"Bapak, sudah punya calon? Kalo belum punya, aku ada temen, pengusaha juga, mungkin cocok", kataku.

Astaga, muka tembok kali aku saat itu.

Dan dia jawab secara implisit kalo dia sudah punya. Hmmm, ok lah kalo begitu...

Setelah pertanyaanku itu, aku lihat dia meng-upload fotonya berdua dengan perempuan yang ditutupi wajahnya. Oooh, ini mungkin calonnya. Lalu, dengan muka tembok sekali lagi aku bertanya,

"Ohh ini kah calonnya. Lihat donk mukanya Orang mana?", tanyaku tanpa rasa malu, hahaha

Aku lupa dia jawab apa, yang pasti dia bilang calonnya sedang co-ass. Wuihh, dapat dokter juga ini pikirku.

Setelah hari itu dia mulai menegurku. Tapi, ini berbeda. Inginku sih seperti waktu SMA dulu, saat kami tanpa ada masalah sebelumnya.

Hingga suatu hari di bulan Maret dia upload liburannya ke pantai laskar pelangi. Dan lagi-lagi entah kenapa aku bertanya tentang calonnya, tapi jawabannya aneh membuatku ingin membelokkan ke hal lain.

"Jangan bilang ga ada calon nah Pak, kalo pina aku tawari", percaya lah aku ngomong itu antara sadar dan ga.

"Eh, adakah? Mau kalo ada", sahutnya.

Hah? Tinggal lah aku yang ndomblong. Bercanda atau gimana pak haji??

"Yang kemarin juga, Pak, pengusaha seperti Bapak", jawabku.

Dan karena takut-kembali-ditolaknya, aku langsung kirim foto Mahe ke dia. Sumpah lu ga mau??? Tantangku dalam hati, hahaha.

Dan akhirnya Eko say yes! Tah kitu donk, mangsa awewe geulis ditampik. 

Apakah pencariannya selesai? Ternyata tidak sodara-sodara.

 Laki-lakinya sudah mau, eh giliran perempuannya berulah. Berusaha keras aku meyakinkan Mahe untuk mencoba, saking khawatirnya Mahe nolak lagi aku bilang "Rugi nolak dia Mahe. Rugi!".

Bahkan dalam hati aku bersumpah kalo sama Eko aja Mahe ga mau, sudah lah berhenti sampai di sini aja mencarikannya. Lelah ciiin 😂.

***

Long story short again, dengan cerita yang tidak mulus di awal, perkenalan mereka di bulan Maret akhirnya berlabuh sebentar lagi di pelaminan. Intuisiku terhadap kedua teman baikku ini berujung manis.

30 September nanti mereka pilih sebagai tanggal yang menyaksikan ikrar mereka di hadapan Alloh untuk mengikat janji suci pernikahan. Ikrar janji yang menggetarkan Arsy Alloh swt di langit sana. Semoga kalian saling mendukung satu sama lain dan sama-sama berproses menjadi makhluk-Nya yang lebih baik lagi. Semoga dengan penyatuan dua insan seperti kalian akan membawa keberkahan dan kebaikan untuk orang banyak. Semoga Alloh melanggengkan ikatan kalian dan senantiasa menguatkannya hingga maut memisahkan dan mengumpulkan lagi di syurga-Nya. Aamiin aamiin ya Mujibassailiin.



Tertanda,

Fika,
Ditulis hari Jumat di Palangkaraya, sebelum subuh.