The greatest gift of life is  friendship, and I have received it (Hubert H. Humphrey) 


Assalamu'alaikum....

Juli 2018 ini adalah tahun ajaran baru untuk Muthia, si sulung saya. Benar-benar baru karena inilah kali pertama dia bersekolah. Walaupun masih sekolah TK tapi yang namanya ibu tentu ada bermacam-macam pikiran yang datang, mencemaskan ini itu, termasuk beradaptasi dengan ritme baru.

Dan sekarang genap 2 bulan sudah dia bersekolah. Setiap pulang sekolah selalu saya tanya bagaimana perasaannya, apakah hari ini menyenangkan atau ada yang membuatnya kesal.

Ya, merasakan antusiasme si sulung saya merasa bahagia, ternyata sejauh ini sekolahnya menyenangkan baginya. Sekarang setiap mendadak merasa akan sakit dia bersikeras untuk tetap sekolah dan ajaib pulang sekolah kondisinya membaik. Seperti mantra yang tidak disadari.

Tapi, cerita itu menjadi berbeda ketika di pekan-pekan pertama sekolah. Saya ingat hari ke-10 dia mulai mogok sekolah; bangun (sengaja) kesiangan dan (berlagak) sakit. Sebagai ibu saya tidak mau memaksakan apalagi dia masih masanya bermain-main dan susah disuruh duduk rapi. Tapi ketika mogoknya berlanjut sampai tiga hari saya pun jadi penasaran, kenapa Muthia jadi malas sekolah?

Setelah saya minta dia cerita ternyata ada seorang temannya yang suka membully-nya dan temannya itu tidak lain adalah ketua genk-nya. Iya, anak sekecil mereka sudah bisa membentuk kelompok sendiri ternyata. Dan sayangnya si ketua genk itu justru suka mengintimidasi Muthia.

Tapi, untungnya temannya yang lain justru baik. Muthia pernah cerita saat dia dipojokkan dan dia hanya bisa menangis tidak melawan, ada satu temannya yang kasih support ke dia, ditepuk-tepuk punggungnya sebagai penghibur tanda empati.

Bagaimana membuatnya kembali bersemangat?

Tak dipungkiri perbedaan suasana antara ketika masih di rumah dan sudah bersekolah membuat sulung saya semacam mendapatkan shock yang membuatnya tidak menemukan alasan kuat untuk sekolah. Apalagi di lingkungan kami bukan lingkungan yang banyak anak kecilnya, alhasil dia lebih sering bermain dengan adiknya saja berdua.

Buat apa sekolah? Sekolah tidak seaman di rumah. Temanku suka meneror, aku ga suka sekolah. 

Mungkin seperti itu kalau boleh saya menerjemahkannya. Akhirnya, saya punya PR pertama dan harus menyelesaikannya.

Baiklahh. . .

Pertama, saya jelaskan padanya bahwa seperti itulah sekolah, bertemu dengan macam-macam teman dan sifatnya. Tidak semuanya baik dan menyenangkan. Kalau diejek lagi menghindar saja, tidak usah ditemani, berteman sama yang baik saja.

Kedua, saya membuatkannya prakarya, sebuah surat cinta yang isinya kertas origami bentuk cinta dan kata-kata cinta, "Semangat ya Sayang sekolahnya, Ummi cinta Muthia".

Apakah ampuh? Iya, sangat ampuh. Saking ampuhnya dia memberikan itu ke gurunya. (*errrr...... malunya saya🙈)

Ketiga, di pagi yang super hectic setiap harinya saya selalu berusaha untuk memeluk dirinya, mencium ubun-ubunnya dan berkata, "Semangat ya, Muthia anak cerdas dan baik". Ini penting agar jiwanya merasa tenang karena dia sudah memastikan kasih sayang orangtuanya.

Keempat, saya berusaha pula menyiapkan bekal yang sebelumnya sudah saya tanyakan dulu maunya apa. Dan untuk kali ini saya ingin mencoba kreasi dari biskuit kesukaannya.

Kreasi Semangat dari Biskuit Favorit

Membuat bekal yang menarik adalah salah satu cara saya agar dia semangat sekolah lagi.

Hari itu saya membeli dua buah biskuit untuk diolah menjadi bekal spesial. Lima pasang kepingan biskuit yang selai kacangnya sudah saya sisihkan diam-diam ternyata dimakan oleh Muthia. Tumben, pikir saya, biasanya tidak suka hambar. Ternyata ketika saya coba kepingan biskuitnya, rasanya krispi tapi tidak berhamburan dan agak sedikit gurih. Kesan pertama yang mengesankan. Hmm, pantas saja.

Biskuit Julie's dengan selai kacang ini menyatu lumer di mulut. Saya memang suka sekali biskuit selai kacang dari kecil.

"Jika dimakan biasa saja enak, apalagi dikreasikan?", begitu otak saya menjawab respon dari syaraf di lidah.

Baiklaaah,  saya putuskan kali ini akan membuat bolu krispi selai kacang untuk bekal cinta si sulung.

Cara buatnya mudah saja;
1. Buat bolu seperti resep biasa
2. Pisahkan selai kacang, cairkan dengan sedikit air lalu dipanaskan sebentar
3. Oles selai kacang di atas bolu dan tempelkan biskuitnya

Rasanya? Benar-benar bolu dengan rasa yang berbeda. Selai kacang Julie's membuat rasa bolu jadi lebih kaya. Suami yang awalnya underestimate melihat plating si bolu yang biasa saja akhirnya mengaku kalah dengan menandaskan 1 potong besar setelah sarapan (haha, iya saya ngaku kalah kalau masalah plating)

Selain biskuit Julie's selai kacang, saya membeli varian yang lain jadi sekalian juga saya akan mencoba mengkreasikannya menjadi bekal tambahan untuk Muthia.

Varian yang tak lain adalah varian favoritnya, Julie's Chocho More. Ya, dia suka sekali cokelat dan pasti tidak akan melewatkan biskuit cokelat Julie's ini.

Karena dia juga suka sekali puding jadi saya ingin menggabungkan keduanya, saya akan membuat puding pandan biskuit cokelat.


Untuk puding ini mungkin agak sedikit repot, tapi tetap akan saya bagi sedikit resepnya. Here we go.... 

Untuk lapisan pandan
1. Masukkan setengah bungkus agar-agar, gula 4 sdm, telur kocok 1 butir, dan santan instan 30 mL ke dalam panci.
2. Blender 4 lembar daun pandan dengan air sebanyak 450 mL, saring dan masukkan ke dalam panci.
3. Didihkan lalu dinginkan dalam cetakan.

Untuk lapisan cokelat
1. Masukkan setengah bungkus agar-agar, gula 2sdm, dan santan instan 30 mL ke dalam panci.
2. Larutkan 7 biskuit Julie's dalam 450 mL air, masukkan ke dalam panci.
3. Aduk terus hingga mendidih (cairan lebih kental dan mudah gosong karena faktor cokelatnya), lalu tuang ke atas lapisan pandan dan dinginkan.

Kenapa Harus Bekal? 

Ada sedikit cerita ketika saya mensurvey calon TK sebelum memutuskan menyekolahkan Muthia dimana. Salah satu yang menjadi perhatian saya adalah kondisi jualan di lingkungan sekolahnya. Saya inginnya sih tidak ada yang berjualan. Tapi nampaknya agak sulit mewujudkannya karena memang rata-rata pedagang makanan ringan dan mainan selalu mendatangi sekolah.

Tapi, akhirnya saya dapat juga sekolah yang agak sesuai kriteria saya, tidak apalah hanya 2 pedagang ini; satu jualan nasi kuning dan satunya jualan minuman dan snack.

Kenapa harus (mem)bekal?

Karena bekal yang cukup akan membuat anak tidak tertarik untuk jajan. Terbukti Muthia hanya selalu menagih satu kotak susu cair setiap pulang sekolah. Sesekali merengek minta snack dan minuman segar warna-warni, tapi kemudian saya ingatkan lagi pembahasan hubungan makanan yang tidak sehat terhadap otak dan ginjal. Dan beruntung kemauannya bisa diredam langsung.

Iya, saya tuh suka sedih kalau melihat jajanan anak zaman sekarang, ga jauh-jauh dari yang namanya zat pewarna, zat pengenyal, pemanis buatan, dan pengawet, jadi dari usia 3 tahun saya coba kasih pemahaman ke sulung saya makanan apa-apa saja yang tidak baik untuk kesehatannya.

Dan untuk kasus anak kecil dengan ginjal rusak adalah benar adanya.

Baca juga: Ketika Bertemu dengan Perawat Gagal Ginjal

Dengan (mem)bekal juga mengajarkan anak berhemat dan membiasakannya menabung, menabung untuk membeli buku-buku cerita kesukaannya dan menabung untuk jalan-jalan naik pesawat lagi sesuai keinginannya.

Dan kali ini saya memilih membawakannya bekal dari kreasi biskuit Julie's.

Kenapa Harus Julie's?

1. Biskuitnya enak dan terjangkau

Dengan harga Rp 8.500 kita sudah bisa bawa 90-110 gr biskuit Julie's ke rumah. Rasa selai kacang di varian Peanut Butter Sandwich benar-benar enak, rasanya ga terlalu manis sehingga ga cepat bikin eneg, rasa kepingan biskuitnya juga crunchy dengan rasa asin gurih yang tipis, pas banget!
Kalian tim apa? 

Jika favorit saya adalah selai kacang, maka favorit Muthia adalah cokelat, tentu dengan batasan jumlah yang boleh dimakan demi keseimbangan nutrisinya.

2. Biskuitnya halal dan bermutu tinggi

Satu hal yang saya ajarkan ke sulung adalah kehalalan makanan kemasan yang hendak dibeli, jika tidak ditemukan maka pilih yang lain. Alhamdulillah biskuit Julie's seiring dengan prinsip saya. Berikut varian lengkap Julie's yang mendapat sertifikat halal MUI, Peanut Butter dan Choco More Sandwich termasuk ya.

Selain itu, perusahaan yang telah berdiri sejak 1981 ini telah terakreditasi berbagai sertifikasi kualitas, prosedur, dan keamanan pangan, di antaranya ISO 9001:2000, GMP, OSHAS, HACCP dan yang terakhir adalah Food Safety System Certification 22000 ( FSSC 22000). Dengan usaha mereka dalam mengontrol kualitas makanannya itulah saya yakin memang benar yang dikatakan mereka bahwa biskuit ini bebas pengawet dan pewarna buatan. 

Maka, bukan sesuatu yang berlebihan jika filosofi mereka berbunyi "apa yang tidak kami makan, tidak pula kami izinkan customer untuk memakannya". 

3. Biskuitnya bisa dikreasikan menjadi bekal penuh cinta. 

Karena tanpa bahan pengawet dan pewarna buatan membuat saya feel less-guilty untuk mengkreasikannya menjadi bekal cinta untuk Muthia, karena seperti yang sudah saya ungkapkan di atas bahwa saya berusaha menjauhkannya dari jajanan yang tidak sehat. 


Dengan kebaikan biskuit ini, tidak heran kalau anak saya minta dibekalin biskuit ini lagi di hari berikutnya. 

"Ummi, Muthia mau bekal biskuit seperti tadi ya? Tapi jangan dibikin puding, mau biskuitnya aja lagi, mau Muthia bagi teman. Biskuitnya enak", katanya sore itu. 

Apa? Bekal biskuit doank? Baiklaaaah, itu berarti malamnya saya tidak akan repot menyiapkan bekal seperti biasanya karena anaknya hanya ingin makan biskuitnya saja. 

"Terus ini buat apa?", tanya saya sambil menunjuk 2 bros hello kitty super kecil di tasnya.  

"Ini hadiah buat Syifa. Syifa baik sama Muthia, paling baik", jawabnya polos. 

Semoga masih ingat cerita saya di awal ya, saat Muthia menangis karena dipojokkan oleh ketua genk-nya, ada satu temannya yang mendekatinya dan menepuk punggungnya untuk menenangkan. Dan Syifa nama anak perempuan itu. 

Ah... . Rasanya mau saya peluk anak itu dan bilang.....makasih banyak sudah jadi teman baik Muthia.
Bekal cinta dari biskuit favorit dan bros persahabatan 

Moms pasti suka membuatkan bekal untuk anak juga kan? Saya yakin sekali pasti bekalnya juga lebih menarik daripada saya. Yuk ah, di-share bekalnya ke media sosial Moms, selain bisa menginspirasi juga berpeluang menang loh karena ada Quiz #BekalCintaJulie's. Caranya sebagai berikut;

  • Foto bekal makanan Moms dengan biskuit Julie’s di dalamnya, lalu tulis cerita menarik di balik #BekalCintaJulies versi Moms
  • Upload di Instagram dengan mention Instagram Julies dan hashtag #BekalCintaJulies atau upload ke Facebook di kolom komentar postingan kuis dan sertakan hashtag #BekalCintaJulies

Atau lebih lengkapnya Moms bisa kunjungi halaman info ini. Hadiah totalnya 10 juta untuk 6 orang pemenang; 5 juta juara utama dan 5 juta juara hiburan. Lumayan banget kan? Yuk, jangan ragu-ragu sharing tentang bekal cinta ala Moms, siapa tau beruntung! 😊


*** 

"What we never eat, we never let the customer to eat" (The Julie's Factory)