Pada postingan sebelumnya, aku menulis tentang body shaming. Kali ini aku akan menulis tentang status shaming. Entah, sebelumnya sudah ada yang pernah menggunakan istilah ini atau belum. Karena aku kepikiran begitu saja untuk menamai jenis shaming ini.

Status Shaming


Tidak jauh berbeda dengan body shaming, status shaming ini pun adalah perilaku seseorang yang mengatai kekurangan orang lain. Bedanya, objek yang jadikan bahan shaming adalah status, bukan tubuh. Misal,

“Kamu kapan lulus? Teman-teman seangkatan udah pada kerja tuh.”

“Lo belum nikah juga? Ingat umur, ntar jadi perawan tua.”

“Kok Mbak belum hamil-hamil sih, udah 5 tahun menikah juga.”

Jleb!

Mungkin bagi kamu yang mengucapkannya, itu hanya basa-basi, bahan bercanda, atau bentuk perhatian. Tapi belum tentu bagi yang menerima, kemungkinan besar mereka akan sakit hati. Mereka ingin menjawab apa celaan yang memang benar tersebut? 

Seorang mahasiswa yang terlambat lulus dibandingkan dengan teman seangkatannya biasanya sering ditanya dan dibanding-bandingkan. Padahal kamu mungkin tidak tahu seberapa keras usahanya untuk lulus kuliah. Mungkin karena ‘rezeki’ ketemu dosen perfeksionis, atau metode penelitian yang harus diulang, atau karena kendala biaya. Dia sudah berusaha maksimal untuk mengatasinya dan masih saja dicela. Hello, hatimu di mana?

Di lain kasus, ada seseorang yang ‘terlambat’ menikah. Sering ditanya kapan nikah, calonnya mana, dan bahkan dikatain nggak laku. Siapa tahu karena memang belum ada yang cocok, atau karena dia masih ingin sendiri dan berbakti maksimal pada orang tua, atau memang pengen fokus mengejar karir. Bisa juga sudah berusaha mencari jodoh tapi belum nemu-nemu. Nggak mungkin kan koar-koar ke dunia untuk mengumumkan seberapa keras usahanya.

Pasangan yang belum memiliki anak lain lagi ceritanya. Mereka selalu dirongrong dengan pertanyaan kenapa nggak hamil-hamil, kapan punya anak, dan sejenisnya. Padahal yang empunya diri saja juga bingung dan bertanya-tanya pada Sang Kuasa. Lalu bagaimana menjawabnya pertanyaanmu jika mereka saja tidak tahu jawabannya?

Atau mereka sudah tahu punya masalah kesehatan, tapi tentu tidak mungkin mengungkap hal privasi untuk pertanyaan basa-basi. Bahkan kamu yang bertanya pun sebenarnya tak memerlukan jawabannya. Lagipula, di jawab pun kamu belum tentu dapat memberi solusi. Menjelaskan usaha dan doa yang sudah dikerjakan pun rasanya percuma, kamu nggak butuh itu. Jadi kenapa bertanya? 

Doakan saja mereka yang tidak seberuntung kamu karena belum bisa lulus tepat waktu, belum nikah di kepala tiga, atau belum punya keturunan setelah sama berumah tangga. Doakan mereka dalam hati.

Tak perlu mengumbar pertanyaan yang hanya akan membuat orang yang ditanya sakit hati. Mungkin kamu tak sengaja melepaskan anak-anak panah bernama status shaming tersebut, tapi ingatlah akan ada luka dalam yang ditinggalkan karenanya.

Kecuali jika mereka mengajakmu berbicara tentang hal tersebut terlebih dahulu. Berikan solusi, jangan menyalahkan. Tak ada orang yang ingin hidupnya di-judge oleh orang lain, meski memang tidak sempurna.[]