Pamer Belanjaan, Antara Berbagi dan Benar Salah Menurut Apa yang Kita Pecayai

            Moms, sudah belanja pagi ini? Bagaimana harga-harga kebutuhan, naik atau tetap? Akhir-akhir ini marak postingan yang memamerkan belanjaan dapur. Atau jangan-jangan, Mak, adalah salah satu pelakunya?
            Sesuatu yang viral dan trending memang asyik untuk diikuti dan ditiru. Apalagi sesuatu yang berhubungan dengan Ibu-Ibu alias kaum emak-emak yang secara psikologis memang lebih mudah tersentuh emosinya. Entah itu geram, kecewa, marah, sedih, bahagia, bahkan merana. Ups!
            Wanita memang peka, tapi jangan sampi kepekaan itu membuat penilaian kita tergdap sesuatu menjadi kabur dan kurang objektif ya, Moms. Misalnya saja tentang belanjaan dapur yang memang di tiap daerah berbeda-beda. Perbedaan ini memang bisa cukup mencolok dan sangat signifikan, Moms.
 Perbedaan harga barang di suatu tempat dengan tempat lain, terjadi karena banyak factor. Dulu ketika masih gemar mendengarkan siaran    RRI biasanya ada pengumunan harga-harga kebutuhan di beberapa daerah. Dan memang berbeda-beda.
Lalu apakah setiap orang yang belanja dengan harga terjangkau akan dibilang sebagai penduung pemerintah dan sebaliknya yang belanja mahal akan dianggap penganut paham ganti kepemimpinan. Lebih buruk lagi adalah ketika kita yang berbeda daerah menuduh orang lain berbohong padahal kita tidak tahu persis daerah tempat tinggalnya seperti apa, harga-harga barang kebutuhannya berkisar berapa, jangan sampai jari-jari kita tergelincir menuliskan kata bohong, dusta, penipuan, terhadap apa-apa yang belum pasti. Kecuali memang tahu kebenarannya yang sejati.
Moms, tenaga kita itu sedikit sedangkan pekerjaan banyak. Jadi enaknya cari hiburan, perluas wawasan dan pertajam ilmu pengetahuan dan skill, biar kita jadi wadah rezeki yang mumpuni. Jadi InsyaAllah mau mahal kek, mau enggak kek, hati kita bakalah tetap lapang dan pandai bersyukur.
Tapi sekali dua wajarlah ngersulo, manusiawi. Kalau saya mungkin beban hidupnya tidak seberat orang lain jadi masih seperti ini, tiap hari Facebookan, nggak keri-keri selfie, main sama bayi, yak arena baru sebatas itulah. Makanya bisa nulis kayak gini. Nanti ketika harus extra antiaging, anak-anak banyak maunya, kerjaan tambah banyak, saya tetap berharap lapangnya hati seperti saat ini.
Mau belanjaan murah atau mahal, yang penting kebeli, dah gitu aja. Juga semoga saya tidak hanya percaya pada apa yang saya anggap benar. Karena kebenaran orang lain bisa jadi berbeda dengan apa yang saya percaya. Hidup di dunia ini, hanya sementara dan tak selamanya….

Salam cantik tiga benua…..