postkotanews.com


Sudah kulalui masa suram bersama mereka, tangan-tangan nakal. Saat lesu serta tertunduk malu dalam rasa lelah juga semangat meredup.

Namun aku juga telah melewati masa jaya bersama mereka, ketika kami sama-sama terbakar asmara juara. Berjuang sekuat tenaga dan bersatu padu.

Tak jarang pula aku mengutuk tangan-tangan nakal itu. Karena ulah mereka sering kali aku harus menahan malu. Keluar dari kamar mandi tanpa sehelai kain menutupi. “Dasar tangan-tangan nakal,” umpatku setengah pada diri sendiri.

Aku juga sangat benci ketika tangan-tangan itu menunjuk tepat ke wajah tampanku. Menumpahkan kesalahan serta kekesalan.

Walau begitu, merekalah hidupku, segalanya, setidaknya saat ini. Aku hanya harus membuat mereka bertepuk karena bahagia.

Dengan bantuan tangan-tangan nakal aku berhasil melakukan tugasku. Timing, akurasi, power, trik, berhasil dalam satu kali percobaan. Itu keahlianku.

Lalu kurasakan tangan-tangan nakal itu mulai membelai, berebut menyentuh kepala dan tubuhku, ada juga yang memukul. Mereka terus saja berada di tubuhku, dan, aw! Sakit sekali. Ada yang mencubit juga.

Kali ini mereka benar-benar keterlaluan. Bukan hanya tangan, tapi tubuh mereka yang banyak malah menindihku di atas tanah. Aku sakit dan tak bisa bernafas.

“To-long!”

“Ayo kita angkat striker andalan kita!” teriak pemilik tangan-tangan nakal seraya mengangkat tubuhku sebelum mati biru. Syukurlah.

tulisan ini saya serahkan kepada panitia

#ff_november bersama LovRinz and Friends KLIK INFO