suka duka membuat konten

Dulu saya bikin blog dan akun media sosial hanya untuk bersenang-senang. Saya cuma unggah foto-foto narsis (padahal muka kucel😝). Di blog pun dulu saya sering menulis tentang curhat-curhat tanpa hikmah. Pokoknya kalau diingat-ingat lagi kasian orang yang follow medsos dan blog saya, nggak ada faedahnya. 

Namun setahun terakhir ini saya mulai agak serius dalam memanfaatkan internet, khususnya blog dan media sosial. Sayang banget kalau uang yang saya keluarkan setiap bulan, untuk beli kuota dan bayar Wifi hanya digunakan untuk haha-hihi nonton Youtube atau nonton perang komentar warganet di Instagram. 

Saya mulai berpikir bagaimana caranya agar konten di blog maupun medsos saya lebih bermanfaat untuk followers? Syukur-syukur kalau bisa menghasilkan uang, minimal bisa menutupi pengeluaran biaya internet bulanan *biar suami nggak manyun lihat tagihan internet tiap bulan*.


Kebetulan waktu itu saya sedang cuti melahirkan selama tiga bulan. Karena terbiasa kerja saya malah bingung harus ngapain saat urusan anak dan rumah sudah selesai. Terlintaslah pikiran untuk membagikan cerita pengalaman persalinan saya yang melalui operasi C-Section. 

Niat saya awalnya menulis cerita itu pertama, supaya nggak lupa pengalaman sakit dan membahagiakannya proses melahirkan. Kedua, supaya calon ibu di luar sana yang takut operasi bisa sedikit berkurang kekhawatirannya, karena dari pengalaman saya operasi Caesar tidak seseram yang dibayangkan, dan pemulihannya juga cukup cepat. 

pengalaman operasi caesar

Nggak nyangka tulisan saya banyak dibaca dan sampai sekarang masih menjadi urutan pertama di mesin pencarian Google dengan keyword "Pengalaman Operasi Caesar". Semenjak itu juga saya jadi rajin update blog, mempercantik tampilannya, rajin blogwalking, ikut beberapa grup komunitas blogger, pokoknya saya jadi semangat membuat konten supaya makin banyak manfaat yang bisa saya sebarkan kepada orang lain. 

Ternyata usaha saya membuahkan hasil, job menulis mulai berdatangan dan tentu saja hasilnya bisa menutupi biaya internet bulanan saya. Bahkan bisa berlebih, jadi bisa  jajan lipstick deh. Senang banget rasanya ketika kita melakukan sesuatu yang kita suka dan itu dibayar. 


Ada kalanya juga saya merasa tertantang dengan lomba-lomba blog. Saya coba ikuti banyak lomba blog, mulai dari kalah sampai menang merchandise hingga bisa meraih juara pertama. Wah itu senangnya luar biasa, apalagi lomba blog itu dinilai juri yang lebih berpengalaman dan berkompeten di bidang tulis menulis, tentu membuat saya merasa diapresiasi. 

Nggak cuma di blog, saya juga rajin membuat konten di Instagram. Baik yang sifatnya sharing pengalaman, review produk yang saya pakai, sampai dapat beberapa endorsement. Followers saya mulai meningkat, dulu yang follow cuma orang yang kenal saya sekarang banyak juga yang nggak saya kenal dari kota-kota lain ngefollow dan menyapa. Ah, senangnya. 


Semua pencapaian itu nggak hanya terjadi dalam satu malam. Ada proses dan usaha yang saya lalui. Saya pernah menangis tersedu-sedu karena kalah lomba blog, soalnya saya merasa sudah berusaha maksimal tapi ternyata nggak menang. Namun dari sana saya belajar lagi untuk menulis, membuat infografis, memotret yang bagus, belajar aplikasi edit foto dan video, karena saya yakin hasil nggak akan menghianati usaha.

Sebagai seorang ibu yang juga bekerja tentu manajeman waktu menjadi tantangan tersendiri untuk saya. Seringkali ide menulis di kepala harus tertunda untuk disalurkan, karena kewajiban mengurus keluarga adalah prioritas utama.

Nggak jarang karena dikejar deadline saya harus begadang sampai subuh untuk menulis. Karena waktu tengah malam lah saya bisa menulis tanpa intervensi apapun (siapkan segelas kopi tentunya). Besoknya saya malah terlambat ke kantor dan tentu berpengaruh kepada kinerja saya hari itu.

Demi konten juga, nggak jarang saya harus cari lokasi foto yang bagus. Sayangnya sudah jauh-jauh ke lokasinya, cuaca tiba-tiba mendung dan hujan. Jadi hasil fotonya kurang bagus, kamera pun kecipratan air.

Belum lagi pencarian ide yang nggak bisa sebentar. Butuh waktu untuk berpikir, mencari inspirasi, kepekaan untuk menangkap gagasan, dan kepiawaian dalam mengolah ide menjadi tulisan.


suka duka membuat konten

Untung saja yang saya lakukan ini berlandaskan passion, sehingga apapun rintangannya bisa teratasi dan saya bisa tetap menulis dengan hati.
Memang benar ide kreatif adalah modal utama untuk pembuat konten. Tapi alat dan teknologi yang canggih juga menjadi satu kesatuan demi terciptanya konten yang bagus. Selama ini suka duka saya dalam dunia blogging ditemani oleh Laptop ASUS yang setia mendampingi siang dan malam, menjadi saksi saya belajar menulis dan mengedit foto/video. 

Laptop yang saya punya adalah seri ASUS a43S keluaran tahun 2012 dan dibeli tahun 2013. Alhamdulillah masih awet sampai sekarang. Jarang ada masalah yang berarti, paling kena virus atau terlalu lemot karena memorinya terlalu penuh. Tinggal diinstal ulang jadi lancar lagi. 

ASUS A43S

Desainnya juga tebal dan kuat. Pernah saya menulis di samping anak yang sedang tertidur. Kemudian saya ke toilet sebentar. Pas balik lagi ke kamar, saya lihat anak saya sudah bangun dan nginjak laptop sampai layar monitornya hampir sejajar dengan keyboard. 

Saya langsung reflek teriak karena kaget melihat anak saya malah menginjak-nginjak layar laptop. Suprisingly, laptopnya baik-baik saja. Nggak patah ataupun ada yang rusak. Kalau kata anak jaman sekarang "Waaa gila siih!!" kuat banget sampai diinjak anak nggak ada kerusakan apapun. 

Pernah juga lagi nulis kesenggol gelas air di samping laptop. Wah saya langsung panik dan buru-buru lap keyboardnya. Lagi-lagi nggak terjadi kerusakan ataupun error. Gimana saya nggak cinta dengan laptop ASUS. 

Sayangnya ada beberapa hal yang membuat saya ingin mengganti laptop. Pertama, ASUS a43s ini cukup berat yaitu 2,4 kilogram. Belum lagi chargernya juga cukup besar. Padahal sebagai blogger saya butuh membawa laptop kemana saja, karena ide memang bisa muncul dimana saja. Tapi mengingat bahu saya yang bakalan sakit bawa beban seberat itu, belum lagi bawa printilan anak, saya menyerah dan sering meninggalkan laptop kalau bepergian. 

Selain itu desainnya juga sudah ketinggalan jaman, terlalu tebal dan kurang menarik. Sehingga kalau mau persentasi dan rapat, tentu saya harus repot menggeser-geser laptop kepada rekan kerja / klien. Saya juga harus print materinya di kertas karena nggak mungkin persentasi sambil menggotong laptop yang cukup berat ini. 

Makanya kalau ada rejeki untuk ganti laptop, saya butuh yang kualitasnya sama bagusnya dengan laptop ASUS saya yang lama, tapi dengan desain yang lebih tipis dan menarik serta ringan untuk dibawa bepergian. 

Karena sudah pernah pakai laptop ASUS dan tahu bagaimana kualitasnya, maka saya berkeinginan ganti laptop dengan brand yang sama. Salah satu yang menjadi incaran saya adalah seri ASUS VivoBook Flip Tp410.


ASUS VivoBook Flip adalah laptop convertible 14 inci pertama yang dilengkapi dengan panel NanoEdge bezel, yang memungkinkan layar Full HD 14 inci dengan frame yang memiliki ukuran laptop 13 inci. 


ASUS VIVOBOOK FLIP TP 140


Sesuai dengan namanya, ASUS VivoBook Flip Tp140 ini layarnya bisa diflip menjadi tablet. Sehingga multi fungsi dengan tampilan yang menarik. Dari keunggulan ini saja sudah menjawab kesulitan saya dengan laptop yang lama *berdo'a banyak-banyak biar dapat rejeki punya laptop-tablet kece ini*.

Salah satu seri yang saya inginkan adalah ASUS VivoBook Flip TP140UR. Berikut saya jabarkan keunggulan dan spesifikasinya. Biar saya nggak ngiler sendirian 😆.


ASUS VIVOBOOK FLIP TP140



Dengan desain dari alumunium yang sangat eye cathing, VivoBook Flip 14 ini tebalnya hanya 19,2 mm dan beratnya 1,6 kg saja. Jauh lebih ringan dari laptop yang lama. Tentu akan memudahkan saya membawanya kemana-mana. Masuk di tas printilan anak juga bisa. 



Dengan desain NanoEdge-nya, VivoBook Flip 14 memiliki fitur 78,7 yang luar biasa. % rasio screen-to-body dan area tampilan yang lebih besar untuk tampilan yang lebih mendalam. Tampilan Full HD juga menampilkan teknologi wide-view 178 technology untuk memastikan bahwa warna dan kontras tetap hidup dan berani.



Ini cocok banget untuk blogger yang sering membuat konten dengan foto-foto dan infografis yang menarik. Sehingga tampilannya akan lebih berkualitas dan kaya warna. 


Keunggulan yang ini bikin saya berdecak kagum. ASUS Vivobook Flip TP410 sudah dilengkapi dengan fingerprint sensor. Dengan demikian, laptop ini mendukung fitur Windows Hello yang umumnya hanya hadir di laptop kelas atas. 

Dengan Windows Hello, pengguna bisa sign-in ke Windows 10 yang terinstalasikan di dalam laptop ini hanya dengan satu sentuhan jari. Nggak perlu lagi repot mengetik kata sandi, dan keamanannya pun juga terjamin.




Karena layarnya di flip, tentu fungsinya tidak hanya menjadi powerful laptop. ASUS VivoBook Flip Tp140 bisa jadi responsive tablet, media stand, dan shared viewer. Jadi kalau lagi butuh ngetik, tinggal pakai seperti laptop biasa. Kalau mau baca-baca website atau scrolling timeline medsos, bisa dijadikan tablet. Mau nonton film atau menunjukkan draft konten dengan klien? tinggal diflip menjadi media stand atau shared viewer.


Lebih hemat budget juga, kan? nggak perlu beli tablet lagi. *prinsip emak-emak*

Meski sering diflip jangan takut kalau engselnya bisa patah. Untuk memastikan daya tahan maksimal, dengan bahan engsel 360° engsel dari logam presisi VivoBook Flip 14 ini telah melalui tes terbuka dan berulang sebanyak 20.000 kali. Jadi saya nggak perlu khawatir kalalu nanti anak saya iseng nginjek laptop emaknya lagi. 




Sumber Gambar :
-Dokumen Pribadi
-Pixabay
-Website ASUS
***
Tulisan ini diikutsertakan dalam ASUS Laptopku Blogging Competition