pixabay

Tulisan ini bakalan jadi self reminder, tapi kalau ada yang merasa sama dengan apa yang saya rasakan semoga ini akan bermanfaat. 

Saya sadar kalau saya orangnya terlalu mudah terbawa perasaan. Di saat-saat tertentu itu baik karena saya bisa lebih peka dan empati. Tapi di sisi lain ini menjadi semacam toxic untuk saya sendiri. 


Misalnya ada orang yang curhat ke saya masalah hidupnya, biasanya saya jadi mudah terpengaruh untuk ada di pihaknya. Nggak cuma itu, bahkan saya jadi ikut kepikiran sampai nggak bisa tidur dan sakit kepala. Banyak pertanyaan muncul di kepala dan jawabannya nggak ketemu, ya karena memang bukan saya yang mengalami, saya tidak terlibat di masalah itu. 

Masalah orang lain, tapi saya yang sakit kepala. Parahnya kalau sampai menganggu mood, saya bisa jadi sensitif dan malah judes ke orang di sekitar. Haduuuh, itulah kenapa saya nggak ditakdirkan jadi psikolog atau psikiater ya. 

Selain itu saya juga mudah baper dengan omongan dan sikap orang lain. Misalnya saya ketemu teman di jalan, saya senyumin eh dianya nggak senyum atau hanya senyum tipis saja. Saya langsung terbawa perasaan dan mikir apa salah saya? apa saya pernah bikin salah sama dia? Apa ada postingan saya di media sosial yang menyinggung? 

Meskipun seingat saya, saya nggak melakukan hal-hal yang bisa membuatnya menyinggung tapi saya tetap kepikiran. Bahkan saya bisa menghindari untuk ketemu dia daripada saya semakin baper kalau ketemu, tapi dia nggak ramah. 

Sepele banget, kan? padahal kalau mau dipikir pelan-pelan, bisa jadi dia lagi nggak fokus sehingga membalas sapaan saya sekedarnya. Bisa juga matanya sebenarnya minus dan lagi nggak pakai kacamata jadi nggak bisa melihat jelas siapa yang menyapa. 

Saya juga mudah baper kalau ditegur dan dikoreksi orang lain baik soal pekerjaan atau hal lainnya. Saya langsung merasa orang yang menegur itu hanya fokus dengan kesalahan saya tapi nggak pernah mengapresiasi hal-hal baik yang saya lakukan. 

Masih banyak lagi deh hal-hal remeh dalam hidup saya yang bikin saya mudah terbawa perasaan, kepikiran, mood jadi jelek, dan berpikiran buruk. 

Tapi saya nggak bisa terus begini. 

Hidup nggak boleh terlalu dibawa perasaan. 

Dikoreksi karena memang salah? ya harus diterima. Buktikan kalau saya bisa. Jangan haus apresiasi karena malaikat nggak pernah lupa untuk mencatat. 

Teman yang bersikap beda? berpikir positif saja bahwa dia mungkin lagi nggak enak badan atau nggak enak hati. Nggak perlu dibawa baper, yang penting kita ramah sama orang lain. 

Curhat orang bikin kepikiran? saya bukan psikolog/psikiater yang harus bisa kasih saran dan solusi. Mereka yang curhat seringkali hanya butuh didengar dan dikuatkan. Jadi nggak  perlu lah dibikin baper. 

Ada orang yang nggak suka dengan sikap/hidup saya? Pertama, saya memang harus introspeksi diri. Kedua, diingat saja bahwa Rasulullah, utusan Allah yang paling mulia dengan sikap santunnya masih dibenci dan dicaci, apalagi saya yang cuma manusia biasa. Kita nggak mungkin bisa membuat semua orang menyukai kita, kan? hidup selalu punya dua sisi.

feel free to save and share

Lega banget sih sudah nulis ini.

Menulis apa yang jadi unek-unek sekaligus menuliskan solusi atau sugesti positif selalu menjadi cara saya untuk introspeksi diri. Kenapa harus ditulis? biar saya bisa baca ulang. Biar kalau hal yang sama terjadi saya nggak bingung harus ngapain. 

Teman-teman pernah ngalamin apa yang saya rasakan? bagi tips juga ya di kolom komentar, gimana untuk jadi orang yang nggak mudah baperan.